"HUWEEEE NANTI SERING-SERING NELPON GUA YA RIN!!" aku memeluk kencang tubuh mungil didepanku
"Iyaa Tara, tenang aja" Karin, sahabatku sejak taman kanak-kanak tersenyum manis.
"Tara! Cepetan! Udah disuruh check in nih! Drama amat sih lo! Malu-maluin!" aku mencibir ke arah Arsen, abang semata wayangku "Iri aja sih lo bang! Jomblo mah beda! Dasar anarkis" cibirku.
Setelah berpamitan dengan Karin (untuk ketiga kalinya) aku menyusul Arsen yang misuh-misuh duluan.
Ping!
Aku mengambil hape di kantong celana sebelah kanan. Dari Karin?
Good luck my sweetiepie! Kenalin gua bule ya ntar!HEHEHE. Keep in touch! Best bitches for 11 years and still counting!❤
Aku tersenyum. Karin memang jago membaca keadaan dan mood seseorang. Tak heran dia jadi 'buku harian' ku.
"Arsen" yang dipanggil menoleh.
"Apaan?"
"Gua gamau ke Australia" aku berbisik pelan. Takut Ayah dan ibu mendengar.
"Yeu, goblok pisan. 1 jam lagi kita berangkat ini dimwit" aku melotot, kesal dipanggil dimwit.
"Kayanya dari kemaren-maren udah gua tolak dengan keras deh" aku memutar bola mata
"Tara, dengerin gua. Kita udah rencanain ini dari taun lalu. Mau lo nolak sampe nangis darah juga gabakal ngerubah keadaan Tar. Ini udah paten, gabisa di ganggu gugat. Lagian lo masih mau ketemu sama dia?" Arsen menenkankan suaranya pada kalimat 'dia'.
"We're already over Arsen. They not someone who i should care anymore" aku melotot. Aku tau Arsen sedang berusaha mengubah topik pembicaraan.
"Tapi gua ga tega liat adek gua ngurung diri dikamar tiap malem terus nangis sendirian!" Arsen berusaha sekeras mungkin menahan amarah, terdengar jelas dari usahanya menahan intonasi suara agar tidak meninggi.
Aku tersenyum riang "I know you are a good brother, Sen. Gue udah move on kok. Itu kan 3 bulan lalu. Gua janji bakal sering jalan-jalan sama lo di Brisbane nanti ya?" Aku berusaha agar terdengar seceria mungkin. Sukur, wajah Arsen terlihat melunak. Ia menghembuskan nafas lalu mengacak pelan rambutku.
Ya, selama ada ayah, ibu, Arsen dan Karin, itu sudah cukup. Tak ada yang boleh masuk ke ruang hati ini lagi. Teroboslah, percuma saja. Tak akan bisa. Sudah cukup semuanya. Hati ini sudah merasakan banyak luka.
YOU ARE READING
Bukan Love Story Biasa
RomanceSemuanya gak biasa. Hal yang biasa terjadi adalah cerita lama. Jangan anggap love story kita membosankan. Karena ini bukan love story biasa.
