Prolog [Update Baru]

98 8 4
                                        


[Silakan mainkan musik di atas supaya dramatis]

Tangan panjang mengacung ke udara, telapak tangannya yang mencoba untuk menggapai bulan purnama terselip-selip oleh cahaya terang. Kemudian, menggenggam. Kehangatan di malam sunyi itu seolah merambat dari tangannya, melalui urat dinginnya. "Apa kamu percaya, bahwa kita bisa mengubah takdir?"

Angin menyambar dengan sepoi-sepoi, dedaunan beterbangan, hingga beberapa mendarat pada tangan seseorang yang terbuka. "Mungkin. Aku tak tahu," balas seorang anak dalam siluet. Dia melepaskan tangannya, daun kembali terbang ke udara, membentuk pola hingga melintasi bayangan rembulan.

Anak yang di sebelahnya, anak tinggi yang memulai percakapan itu mulai merogoh kantung. "Aku akan mengambil handphone, tunggu," ucapnya. Tangannya dia tarik, lalu benda itu ia letakkan di depan, di antara mereka berdua, di atas tanah gelap yang disinari cahaya terang.

Telepon genggam biasa.

"HP punyamu seperti itu? Bukannya itu kuno?" balas anak dalam siluet.

Anak yang tinggi terkekeh. "Kuno? Tapi 'kan ada layar sentuh."

Telepon genggam biasa, dengan layar sentuhnya.

"Apalagi, itu versi terbaru yang rilis kemarin," lanjut anak tinggi itu.

Telepon genggam dengan layar sentuh, jelas tampak canggih dari mana pun anak dalam siluet itu melihatnya. "Kamu barusan berbohong, mengubah HP-mu sendiri. Mengubah takdir. Enaknya, mengubah takdir cuma dengan berbohong."

Anak tinggi itu kembali terkekeh. "Memang. Ah enak sekali mengubah takdir begini. Duduk di atas bukit ini sambil berbicara denganmu, sambil mengetes kekuatanku yang bisa merubah takdir. Enaknya, langit pun penuh bintang, di mana seorang Semu dan seorang Maya duduk berdua, mereka berdua yang sama kuatnya."

Anak dalam siluet itu mengangguk. "Kamu itu licik, aku tahu. Kamu itu tak jahat, itu aku juga tahu."

Lagi, anak itu terkekeh. Dia terus menerus mengubah suasana setiap anak dalam siluet itu berbicara lemas. Suaranya terdengar seperti mengikuti sepoi angin, lembut, pelan dan terkesan dingin. DI dalam mulutnya, seolah-olah ada es batu saat ia berbicara.

"Kamu ... ingat sahabatmu, ya? Kangen masa bersama kalian, tapi sekarang justru aku yang seperti jadi pengganti dia. Biarin sih, yang penting kalian sempet ketemu, meskipun aslinya kalian 'gak pernah bertemu' sebelumnya," kata anak tinggi itu.

Untuk sesaat, semua hening. Angin sepoi-sepoi terdengar, mungkin anak dalam siluet itu pun sedang berbicara laksana angin. Sejuk, sama seperti suaranya ketika berbicara. Pelan, dan lepas dari kehidupan. Tidak ada semangat. Suaranya hambar. Dia hanya bisa terus menggeser bokongnya, duduk di atas rumput hijau. Mungkin dia ingin bicara, mungkin saja suaranya tak terdengar. Namun, keheningan di sana bagaikan penantian.

"Tidak ada yang berubah untuk saat ini," anak dalam siluet itu akhirnya menggerakkan bibir.

Anak tinggi itu tersenyum. "Baguslah. Tapi, itu bukan alasan buat membolos dari misi. Kita punya misi penting, jangan lupa."

Anak dalam siluet itu mengangguk. "Waktu istirahat selesai. Saatnya jalanin misi," katanya sambil berdiri. Dia menoleh, membungkukkan badan. Tangannya memanjang ke anak tinggi yang masih duduk menatap purnama itu. Matanya tak berbinar, padahal ada bulan purnama tepat di atasnya.

"Trims," anak itu menerima. Dia mulai berdiri, dengan bantuan anak dalam siluet itu. "Dunia dan takdir, kami datang. Misi: Menyelamatkan dunia!"



S E M UWhere stories live. Discover now