Malam yang dipenuhi gemerlap bintang, yang seharusnya menjadi waktu terfavorit untuk menikmati hembusan angin, berubah menjadi malam yang menyisakan luka tersendiri di hati Manda. Potongan-potongan kejadian itu terekam jelas pada memori Manda,
Bahkan hingga sekarang ini.
"Anda tuh selalu keras kepala. Hal-hal kecil selalu dibuat besar, apa yang anda mau sebenarnya? Keluar dari rumah ini? Iya?!" Terdengar teriakan Ardi - papa Sherly
"Apa? Saya yang keras kepala? Apa tidak salah? Dari dulu anda yang tidak pernah memedulikan saya. Anda yang hanya memikirkan sesuatu yang menguntungkan bagi anda, tidak bagi saya. Saya coba bertahun-tahun untuk bertahan dengan sikapmu yang seperti itu, tapi rupanya kamu yang memang tidak punya akal." - terdengar teriakan dari lawan pihak. - July, mama Sherly
"Berkhayal kamu perempuan tidak tau diuntung. Jangan pernah kamu lupakan kejadian dulu-dulu itu. Seharusnya anda yang intropeksi diri. Kalau saja malam itu tidak ada saya, anda sudah menjadi..."
Plak. Belum sempat Ardi menyelesaikan kalimatnya, satu tamparan dari July mendarat mulus di pipi Ardi.
Ardi merasakan pipinya memanas. Ardi memejamkan mata dan menhirup nafas dalam-dalam. "Berani kamu tampar saya? Kamu mau saya kasih pelajaran, iya?!" Katanya dengan tangan mengepal dan emosi yang tak tertahankan.
Sherly yang sudah tidak tahan mendengarnya, akhirnya keluar dari persembunyian di bawah meja belajarnya dan berlari meninggalkan rumah. Sherly tidak tahu kemana kaki kecilnya akan membawanya pergi. Ia hanya berlari ke arah tak tentu dengan genangan air di matanya dan pipinya yang sudah basah.
Hingga di penghujung komplek kaki mungilnya tidak mampu berpijak lagi. Sherly menjatuhkan diri masih sambil menangis. Jalanan lengang menyisakan suara tangisan anak berumur 8 tahun. Sherly menekuk lututnya dan menangis dalam diam.
Dari kejauhan seorang bocah laki-laki tanpa sengaja melihat anak perempuan sebayanya sedang meringkuk di jalanan. Awalnya ia mengira anak perempuan itu hanya sedang duduk sambil entah melakukan apa, tapi setelah dipikirnya, tidak mungkin ia duduk di jalanan apalagi hanya seorang diri. Akhirnya ia menutuskan untuk menghampiri perempuan itu.
Anak laki-laki itu mendekati Sherly dan berjongkok di hadapannya.
"Hallo, kamu kenapa duduk sendirian disini?"
Lalu seketika anak itu menyadari bahwa anak perempuan yang sedang berada di hadapannya sedang menangis terisak. "Oh hey, kamu menangis. Kamu kenapa, apa yang terjadi? Lebih baik kamu menceritakannya kepadaku. Aku tidak bisa terus melihat kamu menangis seperti ini"
Sherly masih tetap menangkupkan wajahnya di sela kedua lututnya.
"Kamu siapa? Dan kenapa kamu peduli denganku? Pergi! Aku takut! Aku benci semuanya!"
Dengan sedikit keberanian, bocah lelaki itu menyentuh lengan Sherly, menepuknya dengan halus.
"Kamu gak perlu takut. Aku gak jahat kok. Aku cuma mau bantu kamu. Udah ya jangan menangis lagi. Mamaku pernah bilang kalo semuanya bakal baik-baik aja. Gak ada yang perlu kamu takutin." ucap anak laki-laki yang tidak dikenali Sherly.
Sherly mulai mengangkat kepalanya, sehingga ia bisa melihat wajah anak lelaki itu.
"Tapi kita baru bertemu. Aku gak tahu kenal kamu, kamu juga gak kenalnama aku"
"Kalo begitu ayo kita berkenalan dan berteman. Nama ku Daniel Ray Monda. Kalau nama kamu siapa?"
"Namaku Sherly"
"Nama panjangnya siapa?"
"Amanda Sherly Wandika"
"Namamu bagus, aku suka. Bolehkah aku memanggilmu Amanda? Oh mungkin Manda?"
"Kenapa memang dengan Amanda?"
"Kau tahu? Namamu terdapat kata 'aman' disana."
"Maksudnya?"
"Iya, kata aman, Aman-da. Aku ingin memanggilmu Amanda karena aku ingin agar kamu selalu ingat, kalau dimanapun kamu berada kamu akan selalu aman karena dilindungi malaikat-malaikat baik. Nah karena itu, kamu tidak boleh bersedih lagi."
"Hm terimakasih Daniel. Sekarang kita teman kan?"
"Iya-iya kita teman. Karena teman akan saling berbagi, jadi jangan takut buat ceritain kesedihan kamu ya, Amanda."
"Oke!" Ucap gadis kecil itu dengan semangat
Haiiii
Gimana prolognya?
Hope you guys like it.
Thankyou!
YOU ARE READING
AmanDaniel [ON EDITING]
Teen Fiction"Aku percaya sama takdir. Aku, kamu, pertemuan kita, pasti udah ada yang ngerencanain. Dan kalo 'kita' emang ada di garis takdir aku dan kamu, sejauh apapun kita melepaskan, cinta akan selalu berpulang." - Daniel Ray Monda. "Kamu benar. Kita diperte...
![AmanDaniel [ON EDITING]](https://img.wattpad.com/cover/60832390-64-k492095.jpg)