Begitu jarum pendek jam menunjuk angka lima, netraku membuka perlahan. Tanpa denting bising jam weker sebelumnya. Lengkung di bibir menyambut bunga-bunga yang kembali mekar, menyapa janji yang akan menghapus rasa rindu.
Kemeja floral longgar (yang hampir saja robek akibat rebutan dengan penggila diskon lain) dan skinny jeans aku padukan dengan sneaker. Surai hitam legam kubiarkan tergerai, membiarkan angin nakal di musim semi membawanya terbang.
Sebentar lagi, sepi akan lenyap. Sosok yang pernah menggoreskan luka akan kembali. Ibu, Ayah, apa kalian siap menyambut kehangatan dari atas sana? Ah, kalian pasti sama bingungnya denganku.
-
Perjalanan dari Jeonpo-dong menuju tempat yang ia janjikan, Busan Aquarium, jadi terasa cepat karena tiap detiknya dipakai bernostalgia. Mulai dari senyum bahagianya saat aku dilahirkan ke dunia sampai peristiwa yang tinggalkan kebencian; menitipkanku pada Bibi Cheon lalu pergi tanpa alasan yang kentara. Namun kebencian itu lamat-lamat mulai memudar, akibat pesan yang kudapat dua tahun lalu: Akan kuhapus seluruh rindu dan kesalahanku. Busan Aquarium, hari pertama musim semi di usia menginjak 18, jam 10 pagi.
Sebenarnya, bernostalgia membuatku kembali merasakan penderitaan itu. Maka aku tak segan membentak orang yang membuatku bernostalgia. Termasuk diriku sendiri, seperti saat ini, sembari menghapus setitik air mata: Dasar Kim Soo-Young bodoh!
Aku memang bodoh, sampai biarkan satu tanya tak terjawab: Apa yang harus aku lakukan kala manik kami saling bersirobok dengan tatapan rindu?
Sebelum kenangan yang ingin kukubur dalam-dalam makin berkoar, saat bus berhenti, segera kulangkahkan tungkai menuju pintu keluar.
Begitu netraku menangkap postur tubuh lelaki dan kaus hitamnya (dengan tinta putih membentuk angka 04), langkahku terhenti. Meski tujuh tahun tak bertemu dengannya, tapi aku yakin lelaki yang tengah menggeggam ponsel itu adalah sosok yang aku rindu.
Netra kami bersirobok saat ia mengangkat kepala. Tak satupun menarik tungkai untuk mengikis jarak atau sekadar menarik sudut-sudut bibir. Hanya ada mata yang mulai memanas, siap luncurkan air mata sebagai respon.
Ya, dia Kim Seok-Jin. Seorang kakak yang meninggalkanku saat bahunya dibutuhkan untuk bersandar dan mencoba menepati janjinya untuk membunuh rasa rindu.
.
.
How? Lanjut?
ESTÁS LEYENDO
Always By Your Side
FanfictionTentang kekecewan sekaligus rindu yang dirasakan Soo-Young pada seseorang yang telah meninggalkan kenangan buruk bagi hidupnya, Kim Seok-Jin. (pikkagyu/lyri)
