Irna terlihat gelisah. Ia mondar-mandir di ruang tengah selagi menunggu orangtuanya dan kakaknya Lay berbicara. Irna bisa frustrasi kapan saja sepertinya. Ia penasaran akan tingkah Mary. Apakah adiknya membencinya? Itulah yang menjadi pertanyaan utama.
"Sayang."
Irna kaget mendengar Lay memanggilnya seperti itu. "Apakah kau yang barusan memanggilku, Kak?"
"Memangnya siapa lagi? Apakah hanya Rex Tenebrae yang boleh memanggilmu seperti itu?"
Irna mengerucutkan bibirnya lalu duduk di sebelah Lay. "Jangan menyebutkan nama itu lagi. Aku sering mimpi buruk tentangnya."
Lay merangkul bahu Irna. "Kau kenapa gelisah sekali?"
"Mary."
"Dia pasti akan baik-baik saja. Kakakku dan orangtuamu pasti tahu pemecahannya. Mungkin dia hanya terkejut. Karena aku sendiri juga tidak percaya aku adalah seorang pangeran. Apakah aku akan terlihat cocok dengan mahkota di kepalaku dan jubah mahal tersampir di bahuku?"
Irna menjauhkan dirinya untuk menatap Lay. "Tanpa itu semua kau sudah terlihat seperti pangeran kok. Pantas, aku juga bingung dengan segala kesempurnaan yang kau miliki sementara kau hanyalah pengawal."
"Kau suka berlebihan kalau memuji."
"Kau lebih berlebihan jika memujiku!"
Terdengar suara deheman. Irna dan Lay sontak menoleh untuk mendapati Kris dan Mabel tengah tersenyum geli melihat mereka. "Apakah kalian akan bertengkar hanya karena permasalahan siapa yang lebih suka memuji?" tanya Kris.
Mabel menarik Kris untuk duduk berhadapan dengan Irna dan Lay. "Bagaimana perasaanmu Lay?" tanya gadis itu ramah.
"Sangat bahagia!"
"Aku juga sangat bahagia dengan yang tadi," tambah Irna.
"Kau harus bisa menjaga adikku, Lay."
"Tenang saja. Melihatnya terluka adalah hal terakhir yang aku inginkan."
"Ngomong-ngomong bagaimana perasaanmu mengetahui Ruby adalah kakakmu?" tanya Kris lagi.
"Kaget tentu saja. Tapi aku senang. Ruby selalu memperlakukan Irna dengan baik jadi aku pasti akan cepat akrab dengannya."
"Kalau kau, Irna, apakah kau senang mendapati Mary sebagai adikmuㅡmaksudku kita?"
"Tentu saja! Walaupun Mary terlihat tertutup, aku yakin dia hanya pemalu."
"Untung dia tidak berisik sepertimu. Aku bersyukur cuma perlu mendengar ocehan satu adik dan bukan keduanya."
Irna mengerucutkan bibir tidak terima sementara Mabel tertawa. "Jangan begitu, Kris. Aku tahu sebenarnya kau bahkan lebih suka adik yang seperti Irna. Yang ramah dan ceria. Bukan yang tertutup, dingin, dan ketus."
"Aku dari tadi bertanya-tanya ada apa dengan Mary?"
"Kami juga tidak tahu, Na," jawab Kris pasrah. "Aku tidak tahu harus senang atau tidak memiliki adik sepertinya."
Irna menghela napas panjang.
Sementara itu, dari tadi Mary ada di taman. Menatap tumbuhan-tumbuhan yang ada tapi sebenarnya Mary tidak sedang menikmati pemandangan itu. Ia tengah gusar. Di antara semua orang yang ada di sana kenapa ia harus menjadi adiknya Irna? Apa enaknya memiliki kakak yang merebut lelaki yang kau suka? Mary tidak habis pikir.
"Jangan berwajah seseram itu. Aku takut melihatnya."
"Pergi kau sana Oh Sehun."
"Padahal aku memiliki penawaran yang menarik untukmu. Tentang Lay dan Irna. Ya sudah kalau kau tidak mau kerja sama denganku. Toh aku juga tidak terlalu rugi."
"Kembali ke mari Oh Sehun dan cepat katakan penawaranmu," sahut Mary dingin.
Sehun menyeringai. "Nah begini baru bagus."
---
"Irna, apakah kau ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan," kata Sehun begitu Irna baru keluar kamar.
"Oh silakan saja, Kak. Aku tidak sibuk kok."
Sehun tersenyum tipis. "Begini, kau masih ingat kan aku memiliki dua permintaan yang belum aku utarakan?"
"Hm lalu?"
"Aku akan mengatakannya sekarang."
"Baiklah, silakan."
"Permintaan kedua-ku adalah," mulai Sehun. "Kau harus menjauhi Lay."
Irna membulatkan matanya tidak percaya.
"Dan yang ketiga adalah, jadi milikku."
"Jangan bercanda, Kak! Katakan permintaan yang masuk akal."
"Itu sangat masuk akal."
"Kau pasti sedang tidak waras."
"Kau berjanji akan menuruti permintaanku."
"Memang. Kecuali yang dua itu."
"Tidak ada pengecualian. Jika kau tidak setuju, aku tidak segan melakukan sesuatu supaya kau setuju."
"Jika kau menyakiti Kak Lay maka neraka menunggumu!" geram Irna gusar.
"Duapuluh empat jam untuk berpikir. Tidakkah aku baik hati?" Sehun berbalik lalu melangkah menjauh, meninggalkan Irna yang terperangah.
"Lay, aku rasa kau harus tahu ini."
"Tahu apa, Mary? Bahwa kakakmu sangat mencintaiku?" tanya Lay dengan nada bercanda.
"Aku tidak berpikir demikian. Aku rasa malah kakakku sudah bosan padamu."
Lay tertawa. "Mana mungkin! Kami selalu mengucapkan kata cinta tiap saat dan Irna bukanlah seseorang yang gemar membohongi perasaannya. Aku rasa aku harus menerangkan padamu bagaimana Irna yang sesungguhnya."
"Dia bermain dengan Sehun di belakangmu."
"Permainan macam apa? Siapa yang bisa menumbangkan pohon lebih banyak? Mereka memang kekanakan."
Mary berusaha keras menahan kekesalannya. Kenapa orang-orang hanya melihat kebaikan Irna saja? Padahal kakaknya tidak sebaik itu, menurutnya.
"Mereka bermesraan."
"Mary, aku benci pembohong," Lay berkata serius.
Muka Mary merah padam. Malu sekaligus marah. "Ya sudah kalau kau tidak percaya!"
"Aku tidak cukup bodoh untuk mempercayai omong kosongmu. Kenapa kau menjahati kakakmu? Kenapa kau berniat memisahkan kami? Kenapa Mary? Kau membenci kakakmu? Aku sungguh-sungguh Mary, Irna bukanlah tipe seseorang yang bisa kau benci. Dia manis dan baik."
Mary tidak berucap apa-apa dan memilih menatap ke satu sisi. Lay memutar tubuhnya untuk mengikuti arah tatapan Mary dan matanya membulat seketika. Oh benar, benar sekali. Irna dan Sehun memang sedang bermain di belakangnya. Tepat di hadapan punggungnya.
"Aku bukan pembohong," Mary berucap puas.
Wajah Lay memucat. Entah kaget atau marah pada Irna atau Mary atau Sehun. Lay sendiri bingung pada perasaannya. Tapi yang jelas sakit. Hatinya benar-benar terasa sakit.
"Wah mimpi yang terasa nyata."
###
A/N: Next part bakal jadi part terakhir :) yang suka baca teen fiction mungkin bisa mampir ke acc-ku yang lain, @kharismalana. Acc itu khusus buat cerita teenlit dan aku lagi suka nulis di sana btw hehe.
YOU ARE READING
[EXO] Regnum Draco
FanfictionRegnum Draco, kerajaan terbesar di dunia. Tengah berada di ambang kegelapan. Bisakah Irna dan 12 kakak kelasnya menyelamatkan Regnum Draco dari kegelapan yang telah memusnahkan kerajaan lain?
![[EXO] Regnum Draco](https://img.wattpad.com/cover/37230568-64-k746787.jpg)