(15) Novel.

3.5K 242 5
                                        

"RAKKA IH!"

teriakkan cewek itu bisa disebut jenis teriakkan maut. benar-benar memekakkan telinga. untung saja cowok yang bernama Rakka ini, sudah kebal dengan segala sikap Raline.

"apa sih, Lin"

"kenapa gue di tinggalin sih" gerutu Raline.

Rakka yang lagi sibuk memilah buku pelajaran pun hanya menatapnya sekilas, lalu kembali fokus memilih buku tanpa menghiraukannya.

"ih, jangan nyuekin gue doang kali" gerutunya lagi.

tapi Rakka masih tetap bergeming, karena gemas, akhirnya ia mencubit pinggang Rakka, well...lumayan keras, karena setelahnya Rakka meringis pelan.

"apaan sih lo?!" fokus Rakka kali ini benar-benar tertuju kearahnya. dan memang inilah yang ia inginkan.

Ia menyeringai lalu menatap Rakka dengan wajah polosnya itu, "enggak..."jawabnya sambil menggeleng.

"terus kenapa lo cubit gue coba" geram Rakka.

kalau ia tidak sadar Raline adalah seorang cewek, mungkin ia sudah melempar buku kimia yang tebalnya minta ampun ini, pada Raline.

"lo sih...kalau udah berhubungan sama buku pelajaran aja, mau ada cewek di sebelah juga tetep aja dianggurin." jelas Raline.

Rakka yang ada di sebelahnya hanya melongo tidak percaya, tapi hal itu hanya sepersekian detik. karena setelahnya, Seringaian aneh muncul dari bibirnya itu.

"emang lo maunya gue apain sih?" tanya Rakka ambigu.

Raline yang terkenal lola itu, masih belum mengerti ucapan cowok di sebelahnya, "ya ngapain gitu kek, diajak ngobrol atau apalah..daripada gue dicuekin"

"kalau di..." ucapannya terhenti sampai disitu, setelahnya, jari telunjuknya ia arahkan pada bibirnya,"mau gak?"lanjutnya.

"hah?" gumam Raline tidak mengerti.

"iniii" ujar Rakka gemas, ia masih setia menunjuk bibirnya itu.

"maksudnya 'ini' apaan sih?" Raline yang masih tidak mengerti, malah mengikuti gaya Rakka.

kini mereka sama-sama menunjuk bibirnya.

selama beberapa detik, mereka terdiam dengan posisi jari telunjuk menunjuk bibir mereka masing-masing.

"kita kok kayak orang bego sih.."kata Raline.

perkataan Raline membuat Rakka sadar, cepat-cepat ia menurunkan jari telunjuknya itu, begitu pun dengan Raline.

Rakka menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, sambil tersenyum seperti orang aneh.

"cari buku lain yuk!" ujar Rakka, menarik tangan Raline dan menuju ke arah lain.

"novel aja gimana?" pinta Raline, dan Rakka menyetujuinya. mereka berjalan kearah Rak buku berisi kumpulan novel.

Rakka melirik Raline sekilas, terlihat sorot berbinar terpancar dari matanya, Rakka mendecak pelan, "emang lo suka baca novel ya?" tanya Rakka.

"ya"jawabnya singkat, ia masih terfokus memilah novel yang terpampang dihadapannya.

"pasti romance kan, cerita menye-menye gitu" tebak Rakka.

Rakka benar-benar yakin, cewek seheboh dan seperiang Raline ini pasti doyannya ya baca novel Romance, penuh imajinasi tentang sosok cowok idaman yang...yang gak mungkin ada di dunia nyata.

mendengar kata 'menye-menye' yang di ucapkan Rakka tentang novel Romance, yang memang kesukaannya itu, membuatnya menatap Rakka tidak suka, "apa kata lo? menye-menye?" ulangnya seakan ingin meyakinkan kalau apa yang dengarnya tidaklah salah.

Rakka mengangguk,"ya..novel yang bikin espektasi lo terhadap dunia nyata itu jadi tinggi. padahal..kehidupan di dunia nyata itu gak segampang di novel. lo tau kan, novel tuh udah di atur sama si pengarangnya, udah di setting sedemikian rupa supaya narik banyak pembaca" terang Rakka panjang lebar, entah mengapa, ia tertarik berdebat tentang hal ini.

Raline makin tidak setuju dengan ucapan Rakka, sambil berkacak pinggang dengan gaya yang, yah..lumayan sangar, ia menatap Rakka tajam, "apa salahnya baca novel? menurut gue, baca novel adalah salah satu cara buat menghilangkan kegalauan gue tentang apapun.. termasuk cowo."

Rakka sekali lagi merasa tertantang untuk beradu argumen dengan Raline dihadapannya,"nah itu..itu tuh masalahnya, lo jadi berharap ngedapetin cowo yang persis sempurna kayak di novel, kayak selalu ada buat lo, jadi pahlawan lah, ngelakuin hal-hal romantis lah."

"ya, ya emang itu kan yang harusnya dilakuin semua cowo buat ceweknya. menjadikan si cewe sebagai prioritasnya, like, lo udah milih kita dan kita juga udah milih lo diantara banyaknya cowo lain.. jadi gaaneh kan kalau semua cewe pengen di perlakukan sebagai seorang ratu sama cowonya?" Jawab Raline sengit.

Rakka masih dengan gaya santainya pun menjawab, "nah..kalau lo mau cari cowo kayak gitu, sampai lebaran monyet juga gak bakal dapet. cowo yang kayak gitu tuh cuman ada di novel. cowo perfect idaman wanita." balas Rakka.

mendengar ucapan Rakka, entah mengapa Raline ingin menangis, seakan Rakka yang notabene seorang cowok, menamparnya dan menyadarkannya bahwa cowo yang semua cewek, termasuk dia idam-idam kan itu tidak akan ditemukan di dunia nyata.

"well, seenggaknya karakter cowo di dalam novel gak brengsek." ujar Raline dengan suara yang bergetar menahan tangis.

Rakka yang melihat perubahan sikap Raline pun berjalan mendekat kearah Raline, "Lin, lo gak apa-apa kan?" tanyanya khawatir.

sekarang, Raline memang menunduk. membuat Rakka sedikit khawatir jika mungkin perkataannya melukai gadis dihadapannya ini.

Raline menunduk karena ia tidak ingin Rakka melihat matanya yang mulai memerah, menahan tangis. entah mengapa, ia jadi teringat Raffa. ia sangat sadar bahwa jarak antara dirinya dan Raffa sangatlah jauh. bagai langit dan bumi. tak akan pernah bersatu.

masih menunduk, Raline pun berkata, "gak papa kok Ka, gue ke toilet dulu ya..kebelet."

dan dengan itu, Raline berlari menjauh, meninggalkan Rakka penuh dengan tanda tanya.

TBC

--------

HIHIHIHIIIIIII RAKKA NGESELIN ABIS YA. APA SALAHNYA BACA NOVEL COBA?

Triple RWhere stories live. Discover now