Saat di cafe Astra
"kenapa Ren?, kok ketawa?", tanyaku bingung sambil membenarkan posisi duduk.
" gak apa-apa, muka lo kayak orang mau nangis tau gak?", ia seperti menahan tawa.
" orang lagi kacau gini malah di ketawain! ", kata ku sewot sendiri.
Lauren hanya memandang ku, entah apa yang di fikirkannya, tiba-tiba ia tersenyum lalu tertawa, aku hanya cemberut melihat tingkahnya.
Ia tertawa lagi, aku malah tambah cemberut. Saat ingin mengatakan sesuatu, aku melihat seseorang yang tidak asing lagi bagi ku, ia baru saja duduk di kursi yang berada di pojok cafe ini, tentu saja raut muka ku mulai berubah.
Lauren hendak mengikuti arah mata ku, ingin tau apa yang aku lihat disana. Seketika tangan ini refleks menahan kepalanya yang ingin menengok ke belakang, aku menghadapkan kepalanya tepat di depan wajahku.
" pulang yuk!, gue pengen main di rumah lo", aku hanya tersenyum, lalu menarik Lauren beranjak dari tempat itu.
Gue harap Lauren gak liat apa yang gue liat!, awas aja itu cowok kalo ketemu gue, abis dia gue jadiin perkedel.
" loh.. Sen, motor mu kan ada di pintu sebelah sana", Lauren nampak kebingungan, jelas saja!, motor ku di letakkan tak jauh dari tempat yang kami duduki, tetapi aku malah mengambil jalan memutar, yaitu lewat pintu ke 2.
" kenapa Sen?", aku tak menjawab pertanyaannya.
Kami pun langsung melesat menuju ke rumah Lauren.
* * *
Aku masih saja diam, Lauren bertanya berulang kali, membuat kepala ku pusing tujuh keliling, aku tak menjawabnya, dan berfikir bagaimana memberitaunya agar ia tidak sedih.
" Ren.. lo harus jauhin Adrian! ", tiba-tiba saja kata-kata itu melesat dari mulut ku.
Lauren nampak kaget, dengan apa yang aku katakan barusan.
" apaan sih Sen!, seenaknya aja nyuruh gue jauhin Adrian ", kini Lauren meninggikan nada bicaranya.
" lo gak tau apa yang selama ini gue liat?, lo gak tau apa-apa ren.. lo terlalu polos!", suara ku mulai meninggi, memenuhi ruang tamu.
Gue gak mau lo deket-deket sama dia, dia itu cuman cowok brengsek yang mainin lo doang, Lauren.. lo terlalu polos buat dia, plisss kali ini dengerin gue.
Lauren terkejut dengan perlakuan dan perkataan ku. Ia pergi meninggalkan ku di ruang tamu, berlari menuju kamar, lalu menguncinya.
Aku menghela nafas kasar, mengacak-acak rambut ku frustasi, wajah ku memanas karena menahan kesal.
Apa yang gue mau lakuin sekarang?, akkhhh... gue salah nyampeinnya, tapi gue gak mau ngeliat dia nangis lagi, gara-gara cowok brengsek itu. Gue harus bujuk dia lagi, tapi kali ini caranya harus lembut, ya harus!.
Aku mengetok pintu kamarnya pelan,
"Lauren... hey.. maaf ya.. tadi gue kasar, seharusnya gue gak boleh bilang kayak gitu, lagi pula gue bukan siapa-siapa lo, aneh ya.. tiba-tiba ngelarang, gak boleh deket-deket sama dia", aku tertawa miris. Hati ku sakit saat itu.
Ya.. gue salah.. you're not mine.
"Kamu bukan milikku Lauren", aku mengucapkannya dengan berbisik, agar dia tak mendengarnya.
"Kapan ya... you're not mine, berubah jadi you're mine?", lagi-lagi aku tertawa miris.
Masih belum ada jawaban, aku mengetuk pintu kamarnya lagi. Kini ia bersedia membukakan pintunya. Wajahnya nampak memerah, matanya sedikit sembab.
Dia menangis?, sebesar apa sih rasa sayangnya ke Adrian?.
Aku memeluknya erat, kami hanya terdiam, dan hanyut pada fikiran masing-masing.
---------------------------------------------------------
Thankyou~
:')
ESTÁS LEYENDO
Look At Me! Lauren..
Novela JuvenilHey!!! Please look at me!!! Sampai kapan kamu terus memandang jauh?, padahal di dekat mu saja tak dirasa. Lihat sekeliling mu lauren, setelah semuanya telah kau lihat, akan ku ijin kan kau memandang jauh ke sana.
