Pertemuan di Sudut Dago

2 0 0
                                        

"Keluarga sialan! Siapa juga yang mau terlahir dari kalian, hah? Emang gue gak bisa hidup sendiri?!"

Bentakan itu pecah di tengah sore yang gerah. Beberapa kepala di dalam kafe menoleh, tetapi Ayu Ningrum tidak peduli. Kalau orang-orang sudah mau menonton, sekalian saja diberi pertunjukan.

Ia menendang kaleng soda kosong di dekat kakinya.

Bruk!

Kaleng itu menggelinding melewati kaki meja, lalu berhenti tepat di atas sepasang sepatu pantofel hitam yang terlalu bersih untuk trotoar Dago. Debu menempel di ujung kulitnya.

Ayu menatap sepatu itu, lalu pemiliknya.

Seorang pemuda duduk sendirian di teras kafe. Laptop terbuka di hadapannya, menampilkan barisan angka, grafik, dan kotak-kotak merah yang tampaknya tidak membawa kabar baik. Kemejanya masih rapi, tetapi lengan bajunya digulung tidak simetris. Rambutnya berantakan. Di bawah matanya ada lingkaran hitam yang membuatnya tampak seperti baru pulang dari perang melawan laporan perusahaan.

Pemuda itu menurunkan kacamatanya sedikit.

"Kalengnya sudah berhenti," katanya.

Ayu berkedip. Ia sempat menduga akan dimarahi. "Gue tahu. Sepatu lu juga kena."

"Saya juga tahu."

"Terus?"

Pemuda itu melihat ujung sepatunya, lalu menatap Ayu lagi. "Saya sedang menunggu kamu meminta maaf."

Ayu memandang ransel usang di punggungnya. Tali sebelah kiri mulai melorot, dan telapak tangannya masih gemetar sejak keluar dari rumah. Ia sebenarnya tahu kaleng itu bukan miliknya. Ia juga tahu meminta maaf akan lebih mudah daripada terus berdiri sambil menantang orang asing.

Namun, hari itu terlalu banyak orang yang menyuruhnya mengaku salah.

"Maaf ya, Kak," katanya akhirnya. "Sepatu mahal lu kena kaleng gue. Tapi muka lu juga kelihatan kayak orang stres yang gak pernah tidur seminggu. Lagi dipecat dari kantor, ya?"

Pemuda itu diam beberapa detik. Ayu menarik kursi kosong di sisi meja tanpa menunggu izin, lalu menjatuhkan diri ke atasnya. Kalau pemuda itu ingin mengusirnya, silakan. Setidaknya ia tidak perlu berdiri dengan kepala penuh suara ibunya, suara kakaknya, dan suara dirinya sendiri yang sejak tadi bertanya apakah kabur dari rumah adalah keputusan paling bodoh yang pernah ia buat.

"Bukan dipecat," jawabnya.

"Sayang banget."

"Pekerjaan gue menumpuk, sistem kantor bermasalah, dan atasan gue menganggap semua masalah dapat diselesaikan kalau gue bekerja lebih lama."

Ayu menoleh. "Loh, lu bisa ngomong gue juga?"

Pemuda itu mengerutkan kening. "Bisa. Saya hanya tidak terbiasa."

"Terus kenapa tadi pakai saya?"

"Karena saya sedang berbicara dengan orang asing."

"Sekarang udah kenal nama gue."

Pemuda itu menghela napas, kemudian menutup beberapa jendela di laptopnya. "Nama gue Elden."

"Gue gak nanya."

"Gue sedang memperkenalkan diri. Biasanya itu dilakukan ketika seseorang duduk di meja orang lain tanpa diundang."

Ayu menyeringai tipis. "Ayu. Sekarang kita impas."

Elden mengangguk, seolah mereka baru saja menyelesaikan urusan administrasi.

Dari dalam kafe, mesin espreso mendesis. Kendaraan bergerak pelan di jalan yang menanjak, dan udara sore membawa bau aspal panas bercampur sisa hujan. Ayu menyandarkan punggung ke kursi. Ia baru lulus sekolah beberapa minggu lalu, tetapi hari itu rasanya seperti sudah gagal menjalani seluruh hidup.

PADMARINI: Diantara Rumah dan KebebasanStories to obsess over. Discover now