Part 15. Hati Yang Berdebar

151K 9.1K 62
                                    

REPOST

Extra Part terbaru bisa dibaca di Karyakarsa yaaww... ^.^

....

"Aku mencintaimu, Chérie."

Aku masih tidur ya? Aku sedang bermimpi kan?

"Chérie." Desak suara itu lagi saat aku masih saja terdiam dengan mata melotot dan mulut menganga. Pasti aku jelek sekali sekarang.

"Please, say something," bisiknya lagi sambil menggenggam tanganku.

Aku memandang tangannya yang besar itu membungkus erat tanganku. Hangat. Jadi aku tidak bermimpi? Lalu aku harus bilang apa?

Max berdecak tak sabar dan bangkit dari duduknya sambil membawa sarapanku yang masih setengah, dan aku benar-benar tetap terdiam seperti seorang idiot tolol. Dering ponsel menyadarkanku. Aku melihat ponselku sekilas dan mataku berbinar.

"Kak Rey!"

"Sayang, bagaimana keadaanmu? Sudah enakan?"

Aku terkikik. Kak Rey selalu khawatir berlebihan jika aku sakit. "I feel better, thanks to him. Dia menjagaku dengan sangat baik, Kak."

"Thanks, God. Panasmu sudah turun kan? Merasa pusing?"

"Ya, sudah mendingan. Masih pusing sedikit. Setelah ini aku akan minum obat."

"Great! Kamu harus istirahat yang cukup ya, Dek. Nggak usah mikirin apa-apa. Kakak akan pindahin kuliah kamu."

Keningku berkerut. Pindah kuliah? Apa Kak Rey sudah tahu? "Kakak sudah tahu?"

"Ya, Sayang. Tadi malam perasaan kakak tidak enak. Kakak menelponmu, tapi Max yang mengangkatnya. Dia menceritakan semuanya, dan kakak akan menghajar anak brengsek itu begitu kakak pulang!"

Aku mengembuskan napas lelah. Pikiran itu menyergapku lagi.

"Kakak akan bilang pada Dad. Bagaimana kalau kamu tinggal di Jerman bersama Oma?"

Whattt??? Tinggal di Jerman?? Tinggal bersamaku Omaku yang bawel itu?

"Nggak mau!" teriakku tanpa sadar.

Max masuk ke kamarku dengan cemas saat mendengar teriakanku. Aku menyerahkan ponselku padanya dan membenamkan mukaku di tubuh Kuma.

"Rey."

"............"

"Dia tidak apa-apa. Ada apa?"

"..............."

"I'll talk to her."

"Chérie, you okay?" Dia duduk di sampingku dan membelai punggungku.

Aku menoleh padanya. Matanya menatapku cemas. "Ada apa, Sayang?"

"Kakak nggak ke kantor?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.

"Aku akan menjagamu."

"I'll be okay."

Matanya menajam menatapku dan menggeleng. "Take your pills and go to sleep!" Dia mengulurkan berbagai macam pil dan segelas air.

Aku cemberut. "Aku..."

"Jangan membantah!" titahnya dengan tegas dan dingin.

Ish...baru tadi bilang cinta padaku. Sekarang dia sudah galak lagi. Dasar beruang labil! Kurenggut gelas dari tangannya dengan kasar dan meraih pil-pil berbagai warna itu.

"Good. Sekarang tidur. Aku akan mengambil laptopku sebentar."

"Nggak usah ditungguin!" ucapku ketus. Dia tidak bicara apa-apa dan keluar kamarku. Aku memukul si Kuma dengan kesal. Aku membayangkan itu dia yang aku pukuli.

Mr. Ice (Sudah Cetak & Playstore)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang