Pukul 02:14 Jemima terbangun karena suara petir dan hujan yang memukul jendela kamar kosnya.
Ia tidak langsung membuka mata. Selama beberapa detik ia membiarkan dirinya berada diantara tidur dan sadar, kekosongan yang tidak menuntut jawaban.
Jika dulu Jemima akan merasa ketakutan setiap mendengar suara hujan yang disertai petir, saat ini justru ia tidak merasakan apa-apa. Hampa.
Kemudian ponselnya gemetar.
Satu pesan dari nomor yang tidak diketahui.
Ia membuka mata, cahaya layar ponselnya membuat kamar itu terlihat lebih sempit. Terdapat segelas air yang disimpan semalaman dan disampingnya terdapat obat tidur yang belum disentuhnya.
Jemima mengambil benda persegi panjang itu, dan membuka pesan yang masuk.
"Aku tahu kamu masih bangun"
Jemima menatap layar ponselnya cukup lama, tidak berkedip.
Jari-jari kurusnya mengetikan "Siapa?" Tapi belum sempat dikirim pesan baru sudah diterimanya.
"Tidak perlu dibalas. Besok pagi pergilah ke halte depan rumah sakit seperti biasa"
Seperti biasa? Perasaan menohok menghujam dada Jemima, apakah yang dimaksud dengan rumah sakit itu adalah rumah sakit yang biasa didatanginya satu tahun yang lalu?
"Untuk apa?" Jemima mengirim pesan singkat untuk memastikan satu hal.
Kali ini pesan dari nomor tak diketahuinya itu cukup lama membalasnya. Jemima menatap jendela kamarnya dan mengingat hari-hari terakhirnya dirumah sakit itu. Yang membuatnya harus meminum obat tidur agar ia bisa melanjutkan hidupnya ditengah rasa bersalah.
Akhirnya pesan yang ditunggunya datang, segera Jemima membuka pesan itu.
"Karena kamu sudah terlalu lama mengira bahwa bertahan berarti tidak boleh meminta bantuan"
Jemima terpaku, berulang kali dibacanya pesan itu. Tidak ada ancaman. Tidak ada janji. Hanya sebuah tuduhan yang terlalu dekat dengan kenyataan.
Ia meletakkan ponsel di kasur, lalu menutup wajah dengan kedua tangan. Tidak ada air mata, hanya pikirannya yang kembali bekerja ditengah malam yang disertai petir dan hujan.
Setahun terakhir, orang-orang selalu menyebutnya kuat. Tanpa mengetahui perasaan yang terpaksa ia kesampingkan.
Mereka mengatakan ia sudah melewati masa terburuk. Mereka berkata bahwa waktu akan menyembuhkan semuanya. Mereka juga memuji bagaimana caranya kembali bekerja, membayar uang sewa kosan, menjawab pesan-pesan, dan datang ke pemakaman Dimas tanpa membuat keributan.
Tidak ada satupun orang yang bertanya apakah ia baik-baik saja?
Jemima sendiri juga tidak pernah bertanya.
Di dekat pintu masih tergantung jaket hitam milik Dimas. Ia mengambilnya dari kursi rumah sakit pada hari pemakaman, ketika semua orang sibuk menundukkan kepala. Jaket itu masih menyimpan bau samar parfum yang digunakan Dimas dan hujan.
Dimas selalu kedinginan. Bahkan ketika udara panas, ia tetap membawa jaket. Lemah sekali.
"Kalau hidup sedang buruk," katanya dulu, "setidaknya kita masih bisa mencari tempat yang lebih hangat."
Jemima pernah menertawakannya karena kalimat itu terdengar terlalu sederhana dan terlalu puitis.
Sekarang, ia tidak yakin ada yang lebih sederhana dari bertahan hidup.
Pagi itu akhirnya datang tanpa menunggu kesiapannya. Semalaman Jemima tidak bisa kembali tidur, hanya berbaring menatap langit-langit kamar kosnya dengan pikiran yang kesana kemari.
YOU ARE READING
Tujuh Hari Untuk Bertahan Hidup
RomanceHari pertama: Makan sesuatu dan jangan menghilang dari dunia. Hari kedua: Katakan kepada seseorang bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja. Hari ketiga: Tinggalkan tempat yang membuat kamu merasa tidak dihargai. Hari keempat: Izinkan diri kamu ber...
