Prolog

10 2 13
                                        

Sejak usia empat tahun, Kayden sudah mengenal rasa sakit lebih baik daripada rasa aman.

Ruang bawah tanah rumah mereka bukan tempat bermain seperti anak-anak lain. Di sana, ayahnya, Harrison, mengajarinya cara memegang pisau sebelum ia bahkan bisa memegang pensil dengan benar. Setiap "latihan" selalu diakhiri dengan luka kecil baru, dan setiap luka selalu diakhiri dengan pelukan ibunya yang datang tergesa-gesa, menahan tangis sambil membersihkan tangan Kayden yang gemetar.

"Harrison, dia baru empat tahun!" Suara ibunya selalu terdengar dari balik pintu, marah sekaligus putus asa. "Cukup! Kau mau membuat anak kita jadi apa?!"

Tapi suara itu selalu kalah. Di rumah itu, hanya ada satu suara yang benar-benar didengar.

Satu-satunya kehangatan lain datang dari Hades, adiknya yang baru berusia satu tahun-terlalu kecil untuk mengerti apa pun, tapi entah bagaimana selalu tertawa setiap kali digendong, seolah tahu kakaknya butuh sesuatu untuk dipeluk selain gagang pisau.

Bertahun-tahun berlalu seperti itu. Luka-luka kecil menumpuk jadi bekas yang lebih dalam. Dan pembelaan ibunya menjadi satu-satunya alasan Kayden masih percaya bahwa dirinya layak dicintai.

Sampai malam itu datang.

Hujan turun deras, membasahi jalanan kota yang sepi. Suara langkah kaki asing menggema di lorong rumah, diikuti teriakan ibunya yang terpotong terlalu cepat.

Kayden hanya sempat melihat punggung ayahnya berdiri di ambang pintu kamar ibunya-diam, tak bergerak, seolah membiarkan sesuatu terjadi di dalam sana.

Ia tidak sempat melihat apa yang sebenarnya berlangsung di balik pintu itu malam itu. Yang ia dengar hanyalah satu kalimat dari mulut ayahnya, dingin dan tanpa nada penyesalan:

"Selesaikan ini cepat. Jangan sampai ada yang tahu."

Setelah itu, semuanya kabur. Suara tangis. Bau anyir. Dan tangan seseorang yang menyeretnya menjauh dari kamar itu, sementara Kayden hanya bisa meronta dan berteriak memanggil nama ibunya yang tak pernah menjawab lagi.

Ia mencari Hades ke seluruh penjuru rumah malam itu. Kamar bayinya kosong. Selimutnya tergeletak di lantai. Tak ada jejak, tak ada jawaban-hanya kesunyian yang lebih menakutkan daripada teriakan mana pun.

Dalam satu malam, Kayden kehilangan dua orang yang paling ia cintai, dan menyaksikan sendiri sosok ayahnya berdiri tenang di tengah reruntuhan itu semua.

Sejak malam itu, sesuatu di dalam dirinya menutup rapat-seperti pintu besi yang dikunci dari dalam, dan kuncinya sengaja dibuang jauh-jauh.

Ia tak pernah lagi memanggil pria itu "Ayah".

Yang tak diketahui Kayden kecil malam itu-dan bertahun-tahun setelahnya-adalah bahwa apa yang ia lihat, apa yang ia dengar, dan apa yang ia simpulkan sendiri di kepalanya... bukanlah keseluruhan cerita.

Kebenaran yang sesungguhnya masih tertidur, menunggu waktu yang tepat untuk terbangun.

High school killerBağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin