Aurelly Sky Lyn pernah berpikir bahwa orang yang pergi ke psikolog pasti tahu persis apa yang ingin mereka ceritakan.
Ternyata tidak.
Buktinya, sekarang dia sudah duduk di dalam mobil selama hampir dua puluh menit hanya untuk menatap sebuah bangunan dari kejauhan.
Skyline Mental Health Center.
Namanya terdengar cukup meyakinkan.
Bangunannya juga bagus.
Cat putih.
Jendela besar.
Ada beberapa tanaman di depan pintu masuk.
Tidak ada yang terlihat menyeramkan.
Tapi tetap saja Aurelly belum turun dari mobil.
Tangannya masih menggenggam ponsel.
Dia membuka aplikasi chat.
Menutupnya.
Membuka lagi.
Tidak ada pesan baru.
Dia melihat jam.
08.47.
Janji temunya pukul 09.00.
Masih ada tiga belas menit.
"Masih sempat pulang."
Aurelly mengangguk sendiri.
"Iya."
Kemudian dia menggeleng.
"Enggak."
Diam.
"Lima menit lagi."
Lima menit berlalu.
Aurelly masih di tempat yang sama.
Dia menghela napas panjang.
"Kalau aku pulang, masalahnya nggak selesai."
Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang pernah dia dengar dari seseorang.
Entah siapa.
Mungkin dari dirinya sendiri.
Akhirnya Aurelly membuka pintu mobil.
Begitu kakinya menginjak trotoar, jantungnya langsung berdetak lebih cepat.
Bukan karena dia takut pada bangunannya.
Dia takut pada kemungkinan bahwa orang di dalam sana akan bertanya sesuatu yang tidak bisa dia jawab.
Kenapa kamu datang?
Apa yang kamu rasakan?
Apa masalahmu?
Dan yang paling menakutkan—
Kenapa kamu seperti ini?
Aurelly menarik napas.
"Ya udah."
Dia berjalan masuk.
Ruang tunggunya cukup ramai.
Ada beberapa orang duduk sendiri.
Ada yang membaca.
Ada yang bermain ponsel.
Ada yang ditemani keluarga.
Aurelly memilih kursi paling ujung.
Jauh dari orang lain.
Dia duduk dengan tas di pangkuan.
STAI LEGGENDO
Still Learning to Live
Narrativa generaleMereka datang dengan luka yang berbeda. Aurelly dengan kecemasannya. Galia dengan pikirannya yang tak pernah berhenti. Failila dengan hari-hari yang tak selalu bisa ia kendalikan. Dan Rinjani dengan dunia yang sering terasa terlalu berantakan untuk...
