Bau anyir darah mengalahkan pekatnya aroma mesiu malam itu.
Udara di dalam Galeri L'Éternité terasa membekukan tulang, namun cairan merah pekat yang merembes melewati sela-sela jari Vivienne terasa terlalu hangat. Terlalu nyata.
Gadis itu terisak, bahunya bergetar hebat di bawah kerlip lampu darurat berwarna merah darah yang menyapu ruangan yang hancur.
Gaun sutra putihnya-gaun mahal yang seharusnya menjadi simbol kelahiran kembali di malam grand opening pameran seninya-kini terkoyak, berubah warna menjadi merah pekat yang mengerikan.
Namun, itu bukan darahnya.
"Bertahanlah, kumohon... Jangan tutup matamu, Killian." Suara Vivienne pecah, beradu dengan sayup-sayup suara tembakan yang mulai mereda di luar dinding brankas. Kedua tangannya yang bergetar hebat menekan luka tembak di punggung pria itu, berusaha mati-matian menghentikan pendarahan masif yang seolah menolak untuk berhenti.
Di pangkuannya, sang penguasa absolut dunia bawah tanah Saint Elowen itu terbatuk. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, menodai lantai pualam putih di bawah mereka.
Killian Laurent-pria yang ditakuti seluruh kota, monster berdarah dingin yang namanya dulu dilarang keras disebut di kediaman Jenderal Pierce-kini terbaring tak berdaya.
Tangan Killian yang dingin dan bergetar terangkat, menyentuh pipi Vivienne yang basah oleh air mata. Ibu jarinya mengusap noda darah yang menempel di wajah cantik gadis itu.
Bahkan di saat napasnya tersengal dan nyawanya berada di ujung tanduk, tatapan tajam yang selalu membuat musuh-musuhnya bertekuk lutut kini meredup, tergantikan oleh sorot penuh pemujaan yang memilukan.
Sorot yang hanya ia berikan untuk satu orang di dunia ini.
"Menangis..." Killian menarik napas dengan susah payah, memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya yang memucat. "...membuatmu terlihat jelek, Princess."
"Diam! Jangan bicara! Dante sudah memanggil helikopter medis, kau mendengarku?!" Vivienne menjerit histeris. Air matanya jatuh menetes tepat di pipi pria itu. "Kau tidak boleh menyerah. Kau sudah berjanji akan melindungi kami, pembohong!"
Dada Vivienne terasa seperti dihantam palu godam. Begitu sesak dan menyakitkan hingga ia merasa tidak bisa bernapas.
Dulu, ia pikir ia membenci pria ini. Ia pikir Killian adalah iblis yang akan menghancurkan kehidupan sempurnanya.
Dunia mereka adalah dua kutub yang menolak untuk menyatu; yang satu adalah keadilan palsu ayahnya, dan yang lain adalah dosa kelam yang tak terampuni.
Namun malam ini, saat peluru-peluru itu melesat membabi buta menghancurkan mahakaryanya, bukan aparat kepolisian, bukan pula Nathaniel sang tunangan yang selama ini mengklaim sebagai pelindungnya yang melompat menjadi perisai.
Melainkan Killian. Sang iblis itu sendiri.
Pria itu menerjangnya, memutar tubuh mereka, dan membiarkan punggungnya dihujani timah panas demi memastikan Vivienne tidak tergores sedikit pun oleh maut.
"Kerajaanku... aman..." bisik Killian, suaranya kini nyaris terdengar seperti embusan angin. Kelopak matanya mulai memberat, kehilangan fokus saat menatap wajah hancur ratunya. "...hidupku... untukmu, Princess..."
Tangan yang sejak tadi mengusap pipi Vivienne perlahan kehilangan pijakannya, tergelincir, lalu jatuh terkulai di atas pualam yang bersimbah darah. Kelopak mata pria itu akhirnya terpejam rapat.
"Killian, tidak! Buka matamu! KILLIAN!" Vivienne menjerit panik, mengguncang pelan tubuh besar itu.
Dada Killian masih naik turun, namun dengan ritme yang sangat lambat dan nyaris tak terlihat. Denyut nadinya melemah, seolah nyawanya hanya berpegangan pada seutas benang tipis yang siap terputus kapan saja. Ia belum mati, tapi kegelapan absolut perlahan menarik kesadarannya pergi.
YOU ARE READING
Lethal Canvas
FanfictionKehidupan sempurna Vivienne Pierce hancur dalam semalam saat sang penguasa mafia, Killian Laurent, menariknya ke dalam pusaran darah dan pengkhianatan dunia bawah Saint Elowen. Terjebak di antara konspirasi keluarganya sendiri dan pesona mematikan s...
