08

24 10 8
                                        

The shadow that refuses to go out

The shadow that refuses to go out

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

___

Hari pertama konser Riser akhirnya tiba, membawa serta atmosfer magis yang telah dipersiapkan selama berbulan-bulan oleh puluhan artis dan kru GMMTV. Sejak sore hari, area sekitar venue konser sudah dipadati oleh ribuan penggemar yang antusias membawa lightstick, banner ukuran besar, serta berbagai atribut penuh warna. Di balik panggung, kesibukan luar biasa terlihat dari para penata gaya, staf panggung, dan para pengisi acara yang saling membantu merapikan kostum serta melakukan pemanasan vokal terakhir.

Nanon Korapat berdiri di depan cermin besar ruang ganti, mengenakan jaket panggung bernuansa metalik yang memantulkan kerlip lampu ruangan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debar jantungnya yang bergemuruh bukan sekadar karena gugup menghadapi ribuan penonton, melainkan karena pusaran emosi yang sejak pagi berputar di dalam dadanya.

"Udah siap, Non? Sepuluh menit lagi kita standby di lift panggung utama," seru Perth yang baru saja keluar dari ruang sebelah dengan mengenakan kostum serasi.

Nanon mengangguk mantap, menyunggingkan senyum terbaiknya. "Udah, Ayoburuan kita buat malam ini pecah."

Dan benar saja. Ketika lampu utama arena konser meredup dan lautan lightstick menyala serentak membentuk galaksi buatan di dalam ruangan gelap, sorak-sorai penonton pecah menggelegar. Konser hari pertama berjalan dengan sangat mulus. Tidak ada kesalahan fatal, koreografi dieksekusi dengan sempurna, dan kekompakan di antara para pengisi acara membuat seluruh rangkaian acara mengalir begitu hidup. Nanon tampil memukau, melompat ke sisi panggung demi menyapa para penggemar yang memanggil namanya dengan penuh cinta.

Namun, di sela-sela jeda antar-lagu ketika lampu panggung beralih padam dan ia berdiri sejenak di balik tirai untuk minum air mineral, ada satu detik di mana pandangan Nanon menyapu jajaran kursi penonton VIP di bagian depan.

Seketika itu juga, senyuman di wajahnya sedikit mengendur.

Di antara lautan manusia yang bersorak, ada satu kursi kosong atau setidaknya, tidak ada sosok yang diam-diam ia harapkan keberadaannya di sana. Nanon segera menggelengkan kepalanya keras-keras, menepis bayangan lancang yang sempat melintas di benaknya.

Bodoh, maki Nanon pada dirinya sendiri di dalam hati. Untuk apa kau masih berharap dia datang? Kalian sudah sepakat berjalan di jalur masing-masing, memilih menjadi orang asing setelah sekian tahun berlalu. Kenapa harapan konyol itu masih saja bersarang di kepalamu?

Belum sempat Nanon merenungkan kebodohannya lebih lama, suara tawa renyah dari arah belakang membuyarkan lamunannya. Phuwin dan Gemini tiba-tiba muncul sambil merangkul pundaknya, mengenakan kostum panggung yang sama gemerlapnya.

"Meow lekk naraak naa" puji Gemini dengan nada sengaja dibuat berlebihan, menyikut pinggang Nanon.

Dahi Nanon langsung berkerut dalam. "Ga usah mancing huru hara mereka udah pada lupa," Ujar nya

ECLIPSEStories to obsess over. Discover now