06

19 9 6
                                        


Wall of prestige

Wall of prestige

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


_

_

Jarum jam di dinding restoran semi-outdoor kawasan Thonglor telah merayap melewati pukul dua belas malam. Angin dingin dini hari berhembus pelan, membawa sisa-sisa debu jalanan kota Bangkok yang mulai kehilangan riuh rendahnya. Ohm Pawat baru saja menutup rangkaian hari yang panjang dengan sebuah kegiatan sosial bersama anak-anak panti asuhan-sebuah agenda pribadi yang ia lakukan tanpa sorot kamera, tanpa pemberitaan media, dan tanpa niat untuk menjadikannya pencitraan di hadapan publik. Setelahnya, ia menyempatkan diri mampir ke tempat Pavel, menghabiskan waktu beberapa jam dengan obrolan ringan dan candaan bersama teman-teman terdekatnya untuk mengusir penat.

Namun, waktu perjumpaan harus usai. Ketika teman-temannya mulai bersiap untuk beristirahat, Ohm memutuskan untuk pulang seorang diri mengendarai motor sport hitam kesayangannya.

"Yakin enggak mau nginap di sini aja, Ohm? Udah jam malem begini, jalanan licin," tawar Pavel sambil melirik kunci motor di tangan Ohm.

Ohm menggeleng pelan sambil mengenakan jaket kulitnya. "Enggak usah, Vel. Besok pagi gue ada jadwal "fitting" baju jam sepuluh. Motoran malam-malam begini justru enak, jalanan sepi."

Tanpa pikir panjang, Ohm menyalakan mesin motornya. Suara deru knalpot memecah kesunyian malam, meluncur mulus meninggalkan area perumahan menuju jalan raya utama yang mulai lengang. Di balik helm "full-face" yang ia kenakan, udara dingin menerpa kaca pelindung, sementara pikiran Ohm perlahan hanyut dalam pusaran kenangan lama.

Jalanan yang sepi selalu memiliki cara magis untuk mengembalikan ingatan pada hal-hal yang sengaja dikubur. Tanpa bisa ia cegah, bayangan seseorang melintas begitu saja di dalam kepalanya. Nanon.

Ohm mendadak teringat pada masa-masa ketika mereka masih sering menghabiskan waktu bersama. Dulu, setiap kali Ohm berkeras ingin mengendarai motor di malam hari, Nanon adalah orang pertama yang akan mengomel panjang lebar.

Suara cempreng pemuda berlesung pipi itu akan memenuhi telinganya, memarahi kebiasaannya yang dianggap tidak bisa menjaga diri, seolah keselamatan Ohm adalah hal paling berharga di dunia yang jauh melebihi apa pun yang ingin Nanon akui lewat kata-kata.

Di tengah ingatan itu, sebuah senyum tipis sempat terukir di bibir Ohm. Namun, senyuman itu lenyap dalam hitungan detik.

Sebuah mobil sedan hitam mendadak memotong jalur dari arah berlawanan, berbelok tanpa menyalakan lampu sein secara layak di persimpangan yang minim penerangan. Ohm terkesiap. Instingnya langsung memerintahkan tangannya untuk menarik rem secara maksimal dan membanting setang ke sisi kanan.

Namun, jarak yang terlampau dekat membuat tabrakan menjadi hal yang mustahil dihindari.

'Brak!'

ECLIPSECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang