ECLIPSE - Gerhana
Gerhana adalah tentang dua benda langit yang cukup dekat untuk saling menutupi, cukup sejajar untuk menciptakan bayangan, tetapi tetap tidak pernah benar-benar menjadi satu. Begitu pula Ohm dan Nanon. Mereka masih saling menemukan...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
__
Studio latihan pada sore itu seharusnya dipenuhi oleh suara hentakan kaki, dentuman musik hip-hop yang energik, serta gelak tawa di sela-sela jeda istirahat. Namun, udara di dalam ruangan terasa hampa, menyisakan kelelahan fisik yang mendalam setelah berjam-jam mengulang koreografi yang sama. Nanon memutuskan untuk pulang lebih awal dari rekan-rekan yang lain. Tubuhnya terasa berat, tenggorokannya gatal akibat serangan flu ringan yang sudah merongrongnya selama beberapa hari terakhir, dan kepalanya berdenyut nyeri karena kurang tidur.
Ia berjalan seorang diri menyusuri lorong parkir "basement" gedung yang remang-remang, berniat segera mencapai kendaraannya dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Langkah kakinya menggema pelan di lantai semen yang dingin, ditemani oleh bayang-bayang tiang beton yang berdiri kokoh.
Namun, ketenangan semu itu mendadak pecah ketika suara langkah kaki lain terdengar mendekat dengan cepat dari arah belakang.
Belum sempat Nanon menolehkan kepalanya sepenuhnya, sebuah tangan asing yang kasar tiba-tiba mencengkeram lengannya dengan kuat, menariknya ke sudut tersembunyi di dekat pilar parkir.
Aroma alkohol yang menyengat langsung menguar, berpadu dengan napas memburu dan geraman rendah yang sarat akan niat buruk. Pria asing berbadan lebih besar itu mencoba mendekat secara paksa, melayangkan tangan kotornya untuk menyentuh tubuh Nanon dengan gestur melecehkan yang membuat darah pemuda itu mendidih seketika.
Adrenalin melonjak drastis di dalam tubuh Nanon. Sisa-sisa rasa lelah akibat flu dan latihan langsung menguap, digantikan oleh insting bertahan hidup yang tajam.
Tanpa membuang waktu, Nanon melayangkan sikutnya tepat ke arah rusuk sang pelaku, membuat pria itu terpekik kesakitan dan cengkeramannya mengendur. Tidak berhenti di situ, Nanon menggunakan momentum tersebut untuk memutar tubuhnya, melancarkan tendangan keras ke arah lutut sang penyerang, lalu menghantamkan telapak tangannya ke bagian wajah pria tersebut dengan sisa tenaga yang ia miliki.
Pelaku yang tidak menyangka pemuda di hadapannya akan memberikan perlawanan sekeras itu terhuyung ke belakang, mengerang kesakitan sambil memegang hidungnya yang mulai berdarah. Sebelum pria itu sempat bangkit kembali untuk menyerang balik, Nanon langsung berlari kencang keluar dari area parkir menuju pos keamanan utama, berteriak meminta pertolongan kepada petugas yang berjaga.
Dalam waktu singkat, situasi menjadi riuh. Satpam gedung bersama beberapa staf yang kebetulan masih berada di area kantor langsung mengamankan pelaku, sementara pihak kepolisian dipanggil ke lokasi kejadian.
Meskipun Nanon berhasil melawan dan membela dirinya sendiri dengan luar biasa-memastikan sang pelaku tidak bisa berbuat banyak dan langsung diseret ke kantor polisi untuk diproses secara hukum-keberanian fisik di lapangan tidak serta-merta membuat batinnya kebal terhadap keterkejutan.