07

21 10 5
                                        

The weapon backfires


The weapon backfires

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


Sepuluh hari berlalu sejak malam menegangkan yang hampir merenggut nyawa Ohm Pawat di atas aspal dingin Sukhumvit. Di balik dinding kamar rawat inap yang perlahan mulai digantikan oleh suasana tenang apartemen pribadinya, kondisi fisik sang aktor berangsur-angsur menunjukkan pemulihan yang signifikan. Retakan tipis di tulang rusuknya mulai menyatu, dan luka di pelipisnya telah mengering meninggalkan bekas garis samar.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah dari seorang Ohm Pawat: sifat keras kepala yang mendarah daging dan ketidakmampuannya untuk diam di satu tempat.

Pagi baru saja merayap naik ketika suara dentuman besi berpadu dengan napas memburu memenuhi ruang "gym" pribadi di sudut apartemennya. Dengan balutan pakaian olahraga hitam tanpa lengan yang memperlihatkan otot-otot lengannya, Ohm berdiri di depan rak beban. Tangannya yang sebelah kanan, yang belum sepenuhnya pulih dari benturan hebat sepuluh hari lalu, mencengkeram barbel dengan berat yang tidak masuk akal untuk ukuran seseorang yang baru saja lolos dari maut.

Pintu ruang gym terbuka pelan, dan Thanat-adik laki-laki Ohm-muncul sambil membawa nampan berisi suplemen serta botol air mineral. Begitu melihat apa yang sedang dilakukan kakaknya, Thanat menghentikan langkahnya, menghela napas panjang hingga bahunya merosot turun.

"P'Ohm, astaga..." gerutu Thanat sambil meletakkan nampannya di atas meja kecil terdekat. Ia melangkah mendekat dan langsung merebut barbel dari tangan kakaknya tanpa ragu. "Lu ini beneran enggak punya rasa jera, ya? Dokter baru kemarin bilang kalau tangan sama rusuk lu masih butuh waktu minimal sebulan buat benar-benar pulih total. Ini baru sepuluh hari, tapi lu udah nekat main beban berat lagi. Mau sampai kapan bikin Khun Mae jantungan tiap kali lihat berita tentang lu?"

Ohm meringis pelan, merasakan sedikit nyeri tajam di sekitar tulang rusuknya akibat gerakan mendadak tadi. Ia menyeka keringat di pelipisnya dengan handuk kecil, lalu menatap adiknya dengan senyum tanpa dosa.

"Santai aja. Gue udah enggak apa-apa. Kalau cuma diem di kamar seharian nonton televisi, yang ada badan gue malah kaku kayak patung pameran mal," bela Ohm santai, mencoba meraih kembali botol minumnya. "Lagian, jadwal syuting sama fitting buat proyek baru udah mulai padat minggu depan. Kalau gue enggak balikin stamina dari sekarang, bisa-bisa keteteran di tengah jalan."

"Bukan staminanya yang keteteran, tapi saraf kewarasan lu yang lama-lama putus," balas nya tajam namun menyiratkan kekhawatiran seorang adik. "Udah, berhenti sebelum gue panggil Khun Mae buat ceramahin lu lagi di sini."

Ohm terkekeh pelan, menyerah pada tatapan tajam adiknya. Ia meletakkan handuknya ke kursi, sadar bahwa sekeras apa pun ia membela diri, Thanat tidak akan membiarkannya bertindak lebih jauh hari itu. Kecelakaan maut sepuluh hari lalu memang tidak berhasil merenggut nyawanya, tetapi kejadian itu meninggalkan pengingat abadi bahwa hidup tidak berjalan selamanya sesuai rencana. Selama masa pemulihan di rumah sakit kemarin, Ohm menghabiskan sebagian besar waktunya menatap langit-langit kamar, merenungkan banyak hal-termasuk fakta bahwa ia tidak pernah melihat bayangan Nanon di sekitarnya.

ECLIPSEStories to obsess over. Discover now