ECLIPSE - Gerhana
Gerhana adalah tentang dua benda langit yang cukup dekat untuk saling menutupi, cukup sejajar untuk menciptakan bayangan, tetapi tetap tidak pernah benar-benar menjadi satu. Begitu pula Ohm dan Nanon. Mereka masih saling menemukan...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
---
Gedung serbaguna Universitas Chulalongkorn siang itu tampak dipadati oleh lautan manusia, kilatan kamera wartawan, serta karangan bunga megah yang berjejer di sepanjang koridor. Hari ini adalah hari kelulusan Prim, salah satu rekan sesama industri hiburan yang paling dekat dengan lingkaran pertemanan mereka. Sebagai figur publik yang namanya selalu menghiasi layar kaca, kehadiran para artis dan aktor papan atas di sana bukanlah pemandangan yang asing.
Namun, ada satu hal yang membuat atmosfer di sudut ruangan utama terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Di antara kerumunan orang yang sibuk memberikan selamat, Ohm Pawat berdiri dengan balutan kemeja rapi di balik jas semi-formal yang melekat di tubuhnya. Senyum ramah senantiasa ia kembangkan setiap kali ada kamera ponsel yang mengarah kepadanya, atau ketika beberapa staf produksi menyapa sekadar untuk berbasa-basi.
Akan tetapi, pikiran Ohm sama sekali tidak berada di sana.
Pandangan matanya tanpa sengaja terseret ke arah sisi barat ruangan, tepat di dekat pilar besar tempat beberapa orang tengah mengerubungi Prim untuk berfoto bersama. Di sanalah Nanon Korapat berdiri. Pemuda itu mengenakan pakaian bernuansa formal, tertawa kecil sambil merangkul pundak Prim dengan gestur akrab yang dulu sangat dihafal oleh kepala maupun hatinya.
Langkah Ohm tertahan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari normal, bukan karena antusiasme, melainkan karena hantaman nostalgia yang datang tanpa diundang.
"Sudah berapa lama?" batin Ohm bertanya pada dirinya sendiri.
Tahun-tahun berlalu begitu cepat di industri ini. Jadwal syuting yang padat, proyek-proyek baru yang menuntut fokus penuh, serta usaha keras untuk terlihat baik-baik saja di hadapan publik telah membentuk dinding pelindung yang tinggi di antara mereka berdua. Dari luar, orang-orang melihat mereka sebagai dua aktor profesional yang sama-sama sukses meniti jalur karier masing-masing. Tidak ada skandal pertengkaran besar yang pecah di media. Tidak ada pernyataan resmi agensi tentang keretakan hubungan.
Yang ada hanyalah sebuah jarak sunyi yang tercipta secara perlahan-lahan, hingga akhirnya benar-benar menjadi tembok es yang tak tertembus.
Di sisi lain ruangan, Nanon sebenarnya sudah menyadari kehadiran Ohm sejak sepuluh menit yang lalu. Setiap jengkal pergerakan pemuda bertubuh tegap itu seolah memiliki gravitasi tersendiri yang menarik perhatiannya, meskipun ia berusaha keras untuk tetap fokus pada percakapannya dengan orang lain.
Nanon meremas jemarinya di balik saku celana. Senyum yang ia pamerkan di depan kamera terasa kaku, menyembunyikan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Melihat Ohm berdiri tidak jauh darinya memunculkan kembali memori tentang masa-masa ketika mereka hampir tidak pernah terpisahkan. Masa-masa di mana dunia terasa jauh lebih sederhana karena ia memiliki tempat untuk pulang setiap kali lelah menerpa-dan tempat itu adalah Ohm.