Pengadilan Militer Pusat Kota Star diselimuti atmosfer yang amat menekan pagi itu. Persidangan penjatuhan putusan akhir atas kasus kejahatan berat yang dilakukan oleh Lily menarik perhatian penuh dari petinggi militer dan awak media.
Di dalam ruang sidang, Ezel dan Eden duduk berdampingan di barisan depan penonton. Ezel sengaja melarang Al untuk hadir. Ia tidak ingin suaminya kembali terpicu trauma masa lalu atau melihat wajah wanita yang telah menorehkan luka teramat dalam di hidup mereka.
Tak lama kemudian, pintu samping terbuka. Dua petugas mengawal Lily masuk ke dalam ruang sidang dengan kedua tangan terborgol di depan.
Wanita itu mengenakan pakaian tahanan tebal. Wajahnya pucat, namun tatapan matanya begitu dingin dan kosong. Tidak ada riak ketakutan, penyesalan, ataupun derai air mata di parasnya. Bahkan saat matanya tak sengaja beradu pandang dengan Ezel dan Eden, Lily hanya menatap mereka dengan tatapan hampa, seolah seluruh nuraninya telah lama mati.
Hakim Ketua mengetukkan palu pembuka sidang, lalu mulai membacakan tumpukan amar putusan secara teliti.
"Berdasarkan bukti-bukti autentik yang sah, rekaman medis, serta kesaksian para saksi, Terdakwa Lily terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindakan penyekapan berencana, penganiayaan berat yang mengancam nyawa, pemalsuan identitas, serta pelanggaran hak asasi manusia berat yang mengakibatkan kematian pada janin prematur."
Suara Hakim Ketua bergema lantang di seluruh sudut ruangan yang mendadak hening membeku.
"Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa Lily dengan hukuman penjara seumur hidup di Lembaga Pemasyarakatan Militer Isolasi Khusus, tanpa hak pengurangan masa tahanan atau grasi."
Brakkk! Brakkk! Brakkk!
Palu sidang diketukkan tiga kali, menandai titik akhir dari seluruh kejahatan yang pernah dirancang oleh wanita itu.
Ruang sidang seketika bising oleh kasak-kusuk penonton. Namun, di kursi pesakitan, Lily hanya diam terpaku. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Tidak ada jeritan histeris seperti saat ia ditangkap, tidak ada permohonan ampun, dan tidak ada sepatah kata penyesalan pun yang keluar dari bibirnya. Ia hanya menerima putusan itu dalam keheningan yang dingin, seolah hukuman seumur hidup hanyalah formalitas semata baginya.
Petugas berdiri dan menuntun Lily untuk berbalik menuju pintu keluar tahanan. Saat melintasi barisan Ezel dan Eden, Lily menghentikan langkahnya sejenak. Matanya melirik dingin pada Ezel yang mengepalkan tangan dengan rahang mengeras rapat.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Lily kembali melangkah pergi masuk ke dalam kegelapan lorong penjara yang akan mengurungnya seumur hidup.
Eden menghembuskan napas panjang yang amat berat, lalu menepuk bahu Ezel. "Semuanya sudah berakhir, Zel. Dia tidak akan pernah bisa menyentuh Al atau anak-anakmu lagi."
Ezel memejamkan matanya sejenak, meresapi kebebasan yang akhirnya benar-benar mereka raih. Amarah yang selama ini membakar dadanya perlahan meluruh, berganti menjadi rasa lega yang mendalam.
"Ya... semuanya sudah selesai,"
Ia berdiri dari kursinya, membenahi jasnya, lalu melangkah keluar dari gedung pengadilan. Ezel tak sabar ingin segera pulang ke apartemen, tempat di mana Al dan keenam anak kembarnya sedang menunggu dengan kehangatan cinta yang utuh.
Suara klakson dan deru kendaraan di luar apartemen sama sekali tak memengaruhi kedamaian yang melingkupi unit tempat tinggal Ezel dan Al.
Di ruang tengah yang beralaskan matras busa tebal, suasana begitu riuh oleh celotehan dan tawa pecah keenam balita kembar. Al duduk melantai di tengah-tengah mereka, sibuk membagikan potong buah apel yang sudah dikupas bersih dari kulitnya.
ESTÁS LEYENDO
My Uncle, My Everything' (XingQiu)
FanfictionBagi Alistair, hidup adalah tentang keteraturan. Sebagai guru privat yang tinggal di kota Gold yang tenang, dia terbiasa dengan jadwal yang rapi dan ketenangan di balik rak-rak bukunya. Namun, dunianya jungkir balik saat sebuah panggilan dari orang...
