0.0 Prolog

45 0 0
                                        

Catatan untuk pembaca:

Cerita ini murni hasil imajinasi dan fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kenyataan, kejadian nyata, maupun sosok asli siapa pun di dunia nyata. Semua tulisan di sini hanya buah kreativitas penulis.





Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.




Asahi:

"Aku sayang kalian semua, tapi kenapa sayang selalu harus dibayar dengan nyawaku sendiri? Kenapa kebutuhan Jaemin selalu lebih penting daripada keinginanku untuk hidup juga? Aku juga ingin bermimpi, ingin tumbuh besar, ingin melihat dunia... tapi sepertinya mimpiku harus berhenti di sini, demi mimpi orang lain."

○○○○○

Jaemin:

"Setiap kali aku merasakan detak jantung ini, aku tidak merasa bersyukur, aku merasa bersalah. Nyawa yang kuterima ini ternyata adalah harga yang harus dibayar dengan nyawa orang yang paling menyangiku. Bagaimana aku bisa bahagia hidup kalau tahu hidupku sendiri merampas kehidupanmu?"

○○○○

Asahi:

"Nanti kalau aku sudah pergi, jangan hanya menyesal saat tidak ada lagi yang bisa kalian minta. Ingatlah, aku bukan cuma sebagai pendonor, tapi sebagai Asahi yang juga ingin dicintai apa adanya."

●●●●






Prolog: Bayang-bayang yang Tak Terlihat



Rumah itu besar, tapi tidak pernah terasa hangat.

Dinding-dindingnya berwarna putih bersih, lantai marmernya mengkilap memantulkan cahaya lampu yang terang benderang.

Ruang tamu luas dengan sofa empuk, ruang makan yang bisa menampung sepuluh orang, dan lorong panjang yang memisahkan kamar-kamar mereka.

Tapi entah kenapa, setiap kali melangkah di dalamnya, Asahi selalu merasa seakan udara di sini lebih berat daripada di tempat lain.

Seakan dia tidak benar-benar ada.

"Asahi, tolong ambilkan selimut Jaemin dari lemari atas."

Suara Jisoo terdengar tenang, tapi nada itu tidak meninggalkan ruang untuk menolak. Asahi yang sedang duduk di sudut ruangan, membaca buku dengan tenang, langsung menutup bukunya pelan.

Dia mengangguk tanpa menatap kakaknya, lalu berjalan menuju kamar Jaemin.

"Ya, Kak."

Langkah kakinya pelan, seakan dia takut menimbulkan suara yang terlalu keras.

Nyawa yang Diberikan || Asahi || JaeminStories to obsess over. Discover now