Prolog

10 5 1
                                        


"Darah tiga kerajaan mengalir padanya,
ia terlahir dari keluarga yang memilih
pasar daripada singgasana dan perdagangan daripada perang."

- fragmen anonim, tanpa tahun


Gunung itu tidak pernah dianggap penting.

Ia tercatat sebagai bagian dari lanskap-sekadar lipatan bumi di wilayah Jawa bagian Barat, ditumbuhi hutan dan diselimuti kabut hampir sepanjang tahun. Tidak ada prasasti, tidak ada legenda populer, tidak ada ritual besar yang mengaitkan namanya dengan kejayaan masa lalu. Dalam arsip kolonial maupun catatan lokal, gunung itu hanya muncul sebagai penanda geografis: batas alami, bukan pusat peradaban.

Hingga suatu hari, alat pemindai menunjukkan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Ruang kosong.

Bukan gua alami, bukan rongga akibat pelapukan batu, melainkan struktur simetris-terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Dindingnya tebal, sudutnya presisi, seolah seseorang pernah memutuskan bahwa batu tidak hanya harus berdiri, tetapi juga menyimpan.
Temuan itu tidak langsung diumumkan.

Ia berpindah dari satu meja ke meja lain, dari satu laporan ke laporan berikutnya, ditandai dengan catatan kecil di pinggir halaman: anomali, perlu verifikasi, tunda publikasi.
Batu, bagaimanapun juga, tidak diharapkan menyimpan rahasia.
Namun gunung itu melakukannya.

_____

Sejarah Nusantara selalu penuh dengan nama-nama besar. Raja, penakluk, penyatu wilayah, pendiri dinasti-semuanya tercatat dengan cukup rapi, meski tidak selalu jujur. Yang jarang dibahas bukanlah siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang seharusnya berkuasa namun tidak pernah naik ke singgasana.

Ada garis-garis keturunan yang berhenti disebutkan secara tiba-tiba.

Ada nama-nama yang muncul sebentar, lalu menghilang tanpa penjelasan.

Bukan karena kalah perang, bukan pula karena dihukum secara resmi-melainkan seolah diputus dengan sengaja.

Sejarah tidak selalu menghapus karena benci.

Kadang ia menghapus karena takut.

Takut pada kemungkinan bahwa keseimbangan yang susah payah dijaga bisa runtuh jika satu nama tertentu kembali disebut.

_____

Fragmen tentang "darah tiga kerajaan" tidak pernah diakui sebagai sumber sah. Ia tidak ditemukan dalam kitab resmi, tidak diajarkan di lingkungan istana, dan tidak diucapkan dalam upacara apa pun. Kalimat itu hanya muncul sebagai coretan di pinggir naskah, bisikan dalam surat dagang lama, atau salinan samar yang tidak pernah selesai ditulis.

Tidak ada yang menjelaskan tiga kerajaan mana yang dimaksud.

Tidak ada pula penjelasan tentang siapa "ia" dalam kalimat tersebut.

Namun pola penghapusannya konsisten.

Setiap kali fragmen itu muncul, selalu ada bagian lain yang hilang.

Nama tergores.

Tahun dihitamkan.

Silsilah terpotong.

Seolah seseorang-atau sesuatu-pernah memastikan bahwa cerita itu tidak akan berdiri utuh.

_____

Berabad-abad sebelum gunung itu dipindai dan diberi nomor inventaris, sebelum laporan disusun dengan bahasa netral dan hati-hati, ada sebuah keluarga yang memilih keluar dari pusaran kekuasaan.

Mereka tidak kalah.

Mereka tidak diasingkan.

Mereka pergi.

Keputusan itu, yang pada masanya dianggap sebagai bentuk kelemahan, justru menjadi alasan mengapa nama mereka harus dihilangkan. Karena dalam dunia yang dibangun di atas legitimasi darah dan perang, menolak singgasana adalah tindakan yang jauh lebih berbahaya daripada merebutnya.

Pilihan tersebut menciptakan celah-
dan dari celah itulah legenda mulai tumbuh.

_____

Waktu tidak mengubur segalanya.

Ia hanya mengubah bentuknya.

Yang dulu berupa istana, kini menjadi tanah.

Yang dulu berupa perintah, kini menjadi bisikan.

Yang dulu berupa seorang anak, kini menjadi ruang kosong di dalam gunung.

Dan pada suatu malam-jauh sebelum alat pemindai, jauh sebelum istilah arkeologi digunakan-hujan turun terlalu tiba-tiba di sebuah Kaḍatwan yang berdiri di luar pusat kerajaan.

Malam itu tidak pernah tercatat dalam sejarah resmi.

Namun dari sanalah segalanya bermula.

The Last Of NusantaraLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora