1

10.8K 41 0
                                        

.
.

.
.

"Rora, ini cokelat terbaik dari Italia. Aku ragu di Korea ada yang selezat ini, jadi tolong terimalah."

​Pria tampan bermata cokelat itu tersenyum manis. Tangan berototnya mengusap rambut ke belakang, berusaha menebar pesona sembari menyodorkan kotak cokelat berbalut pita merah jambu. Gadis di depannya, Aurora Felicia, menerima kado itu dengan jemari lentik. Jika isi tasnya terbuka, mungkin orang akan terkejut melihat puluhan batang cokelat di sana. Sebagai gadis blasteran Korea-Italia, kecantikan Aurora adalah magnet; terlebih di hari Valentine ini, rasanya seluruh pria di kampus ingin memberikan persembahan padanya.

​Meski Aurora selalu tampil sopan dengan rok selutut dan kemeja yang tertutup, siluet tubuhnya yang sempurna-lekuk pinggang S-line yang ramping serta proporsi dada dan pinggul yang padat-tetap tidak bisa disembunyikan. Hal inilah yang memicu desas-desus miring. Kabar burung menyebutkan ia telah tidur dengan banyak pria dan dosen demi nilai, namun tak satu pun bukti pernah muncul. Aurora tetaplah mahasiswi berprestasi yang tampak tak tersentuh.

Aurora tersenyum malu dengan pipi yang bersemu merah, tangan kecilnya menyelipkan rambutnya kebelakang telinga, gerakan sederhana itu lantas membuat darah pria yang memberikan cokelat berdesir hangat, otaknya secara otomatis menyangkal berbagai desas-desus yang sering telinganya dengar, bagaimana mungkin gadis sepemalu dan semenggemaskan ini sudah ditiduri banyak pria. Itu sungguh rumor yang tidak berdasar

Aurora tersenyum malu, pipinya bersemu merah muda. Ia menyelipkan anak rambut ke belakang telinga-sebuah gerakan sederhana yang membuat jantung Darren, si pemberi cokelat, berdesir hangat. Gadis selembut ini tidak mungkin melakukan hal-hal kotor seperti rumor itu, batin Darren meyakinkan diri.

​"Terima kasih, Darren," ucap Aurora lirih.

​"Rora tahu namaku?" Darren terperangah. Ia tak menyangka sang primadona mengenalinya.

​Aurora mengangguk antusias, poni tipisnya berayun lucu. "Tentu. Kamu mantan kapten basket fakultas, kan? Siapa yang tidak kenal Darren yang tampan dan berprestasi?"
​Pujian polos itu membuat Darren salah tingkah. Namun, sebelum percakapan berlanjut, mata bulat Aurora menangkap sosok pria dewasa yang berjalan menuju Gedung A1. Itu adalah dosen pembimbingnya. Aurora tahu, ia tidak boleh melewatkan kesempatan ini.

​"Darren, maaf, aku harus bergegas!"

​"Rora, tunggu! Apa kita bisa-"

Mata bulat gadis cantik itu beralih menangkap sosok dosen pembimbingnya yang sedang berjalan mengarah pada ruangan di gedung A1, Aurora merasa ia tidak bisa menghilangkan kesempatan ini, meskipun hari sudah mulai gelap tapi jika tidak sekarang akan sangat sulit bertemu dengan dosen seksi itu.

"Darren aku harus bergegas".

"Rora, sebentar apa kita bisa--",

Namun, sebelum gadis cantik itu sempat melangkah pergi, sebuah bayangan cepat mendekat dari arah samping.

​PLAK!

​Suara tamparan keras menggema di koridor yang mulai sepi itu. Kepala Aurora terlempar ke samping, rambut hitamnya menutupi wajahnya yang seketika memerah. Cokelat pemberian Darren terlepas dari genggamannya, hancur berantakan di lantai beton.

​"Heh, jalang! Berhenti di situ!"

​Seorang gadis cantik dengan seragam pemandu sorak yang ketat-sang kapten cheerleaders-berdiri dengan napas memburu dan mata yang menyala penuh kebencian. Ia tidak terima melihat Darren, pria yang ia incar selama ini, memberikan perhatian begitu manis pada gadis yang ia anggap "sampah campuran" itu.

Sweet Revenge (END)Stories to obsess over. Discover now