"Hahaha, rasain lu!" tawa seorang laki-laki menggema di halaman belakang sekolah.
Raven berdiri di hadapan seorang siswa yang sudah tak mampu melawan, sejak tadi ia terus menyerangnya, melampiaskan amarah yang bahkan tidak sepenuhnya ia mengerti.
"Akh... S-sakit, Kak..." Suara lirih itu nyaris tenggelam oleh tawa Raven.
"Biarin. Biar lu tahu rasa." Raven menatapnya dengan senyum puas ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Melihat orang itu menderita seharusnya membuatnya merasa bersalah namun tidak. Entah kenapa, justru ada rasa lega.
"Kak..." Korban itu hanya mampu menangis tubuhnya sudah terlalu lemah untuk melakukan apa pun.
"Raven! Berhenti!" Tubuh Raven seketika menegang, Suara berat itu Ia mengenalnya.
Sial. Lagi-lagi ketahuan Raven menghentikan langkahnya dan perlahan menoleh.
Di ujung halaman berdiri seorang laki-laki yang menatapnya dengan sorot mata tajam. Satria.
Siswa yang tadi dirundung ikut menoleh dan dengan sisa kesadarannya, ia menatap sosok yang baru saja datang sebelum senyum kecil muncul di wajahnya.
"Ka... Kak Satria..." Gumamnya pelan setelahnya, tubuhnya tak lagi kuat bertahan Ia jatuh tak sadarkan diri.
Raven menatap tubuh tersebut selama beberapa detik "Shit..." Ia mundur selangkah.
"Kenapa pingsan segala, sih?"
Satria segera menghampiri adiknya Ia berlutut dan menepuk pipinya pelan "Hei. Bangun."
Tidak ada jawaban Ekspresi Satria berubah perlahan, ia mengangkat wajah dan menatap Raven tatapan itu membuat senyum Raven menghilang.
"MAKSUD LU APA, HAH?!" Satria bangkit dan mencengkeram kerah seragam Raven, menariknya mendekat.
"Bang... ini nggak seperti yang Abang lihat..." Suara Raven mengecil napasnya mulai terasa sesak.
"SETELAH APA YANG LU LAKUIN, masih berani ngeles?!" Cengkeraman Satria semakin kuat Raven menelan ludah.
Ia takut.
Sangat takut.
Namun seperti biasanya, ia menyembunyikannya di balik wajah santai Sebuah pukulan membuat Raven terjatuh.
"Bugh!"
Ia terdiam beberapa saat, lalu menyentuh pipinya yang terasa nyeri.
Tidak menangis tidak melawan.
Raven malah terkekeh kecil.
"Ampun deh..." Ia mengangkat kedua tangannya, seolah menyerah meskipun dalam hati ia mengumpat. Anjing... Satria bangsat.
Satria menatapnya dengan tajam reaksi Raven membuatnya semakin kesal. Setelah apa yang dilakukan Raven kepada adiknya, bagaimana mungkin anak itu masih bisa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa?
Raven menatap balik "Abang nggak mau bawa adik Abang ke UKS?"
Ia melirik siswa yang masih terbaring. "Dia bisa tambah parah."
"Duagh!"
Satria langsung kehilangan kesabarannya, Raven kembali terjatuh ketika Satria menyerangnya lagi.
"Bugh!"
"Duagh!"
"Bugh!"
"Bugh!"
"..."
Sampai tubuh Raven rasanya sudah terlalu lelah untuk berdiri dengan benar.
Satria mencengkeram rahangnya dan memaksanya menatap lurus. "Kalau sampai lu bertindak lebih jauh lagi..."
Suara Satria terdengar rendah dan penuh ancaman. "Gue pastiin lu bakal menyesal." Cengkeramannya dilepaskan dengan kasar.
Raven meringis kecil.
Satria kemudian mengangkat adiknya dan membawanya pergi tanpa menoleh lagi.
Raven hanya bisa memandangi punggung mereka sampai akhirnya menghilang dari pandangannya.
Halaman belakang kembali sunyi Senyum yang sejak tadi menghiasi wajah Raven perlahan menghilang.
Tatapannya menjadi kosong baru sekarang ia menyadari apa yang baru saja dilakukannya, Ia baru saja merundung seseorang.
Dan yang lebih membuatnya takut...
Ia menyukainya.
Raven menjatuhkan dirinya ke aspal dan menatap langit langit yang di hiasi oleh gumpalan putih Kemudian ia tertawa kecil.
"Hm..." Ia menutup wajahnya dengan satu tangan. "Ini lebih baik."
Namun tawanya segera berubah menjadi helaan napas frustrasi.
"Argh! Gue kenapa, sih?!"
Raven mengacak rambutnya sendiri. "Si Shibalan ..." Rahangnya mengeras. "Lemah banget jadi cowok."
Ia terdiam. "Jadi benalu doang di keluarga gue."
Tangannya mengepal.
"Anjing..."
Wajah Albiru terlintas dalam pikirannya Anak yang baru kembali Anak yang bahkan tidak tahu apa-apa Anak yang tiba-tiba datang dan mendapatkan kembali sesuatu yang bahkan Raven sendiri tidak pernah benar-benar memilikinya.
"Kenapa..." Suara Raven mengecil.
"Kenapa orang kayak dia malah bisa merebut semua yang gue punya?"
Ia tertawa hambar.
"Bahkan sebelum gue sempat memilikinya."
Raven menatap langit tanpa berkedip.
Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak menunjukkan kemarahan.
Hanya ada seorang anak yang terlalu lama merasa tidak dipilih.
*****
Hai... Untuk prolog segitu aja dulu..hehe...
Kalau kalian suka bisa votmen ya! Semangatin dong biar nggak Hiatus kayak book sebelah 😅🗿
Kalau nggak suka bisa skip oke... Jangan ninggalin komentar buruk atau apapun itu 😁
Tapi kalau kalian punya nasehat di cerita aku silahkan kasih tau ya, karna nasihat lebih baik dari pada kritikan. 🤞🤗
Beda kata maknanya pun beda meski kadang tujuannya sama.
YOU ARE READING
Antagonis Heart
General FictionRaven ganendra anak haram ganendra yang di Liputi kebencian kepada anak bungsu ganendra Albiru Sadewa ganendra orang yang merebut kebahagiaan nya, kasih sayangnya dari keluarganya dan teman-temannya bahkan sebelum ia benar-benar mendapatkan nya. b...
