Chapter-1

6 1 0
                                        

••••

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

••••

"Arlen, kamu bilang disini banyak kumbang, mana?" ucap seorang bocah laki-laki dengan rambut hitam dan bermata biru laut.

"Ada bodoh, lihat ke atas. Kalau kamu mencari di bawah mana ketemu." balas gadis kecil yang punya wajah dan perawakan yang menyerupai nya.

"Ih, tidak ada bodoh. Sampai leherku patah juga nggak bakalan ketemu." dengan jengah dia menatap kesal kembarannya. "Kamu buta atau gimana sih? lalu yang di atas kepalamu apa, Arjen?" mendengar ucapan Arlen segera saja dia meraba dahan di atas kepalanya, dan benar saja ada kumbang yang dia cari di sana.

"Hehe, terimakasih Arlen." Ucap Arjen sembari cengengesan dan dibalas malas oleh Arlen.

"TUAN ARJEN DAN NONA ARLEN KALIAN DIPANGGIL MADAM VENA!" mendengar teriakan itu membuat keduanya nyaris saja terjengkang kebelakang. Asal kalian tau kedua anak ini tengah berada di atas pohon manggis dan berada diposisi yang agak tinggi, keduanya pun segera turun dan membersihkan baju mereka.

Arlen menatap Arjen, "Apa kita dalam masalah?" tanyanya, "Aku tidak tahu." jawab Arjen seadanya. Mereka segera pergi menuju ruang tamu dimana Madam Vena berada.

Prang

Arjen terkejut saat sebuah vas terbang dan pecah tepat didepan kaki keduanya, lalu dia menatap kedepan dimana terlihat Madam Vena tengah berdiri dengan wajah merah penuh amarah. Wanita itu dengan penuh emosi kembali mengangkat sebuah asbak dan tanpa segan melemparkannya kearah Arlen, dan lemparan itu tepat mengenai kepala Arlen.

Brug

"Argh."

"Arlen." Arjen dengan cemas meraih tubuh Arlen yang terhuyung.

tes
tes

Tangannya bergetar saat menyentuh darah yang merembes dari kepala Arlen.

"Sekarang katakan padaku apa kalian yang sudah memetik bungaku?" ucap Madam Vena penuh emosi, keduanya tidak menjawab karena sudah pasti bukan mereka pelakunya. Dan walaupun sudah mengatakan kebenaran pasti Madam Vena akan tetap memukuli keduanya seperti sebelum-sebelumnya.

"Tidak mau menjawab ya? sialan." Wanita itu dengan kesal meraih tongkat yang memang sudah dia siapkan dan memukulkannya kepada dua anak itu. Tanpa belas kasih dia melayangkan pukulan-pukulan itu, sedangkan pelayan yang ada disana tidak ada sedikitpun dorongan untuk membantu. Mereka malah terlihat menguap dan seperti bosan melihat kejadian ini.

Merasa sudah puas Madam Vena pun berhenti, dia menatap puas tubuh kecil yang tidak berdaya itu. "Cih, kurung mereka di gudang dan jangan beri mereka makan sampai besok." para pelayan disana dengan segera menyeret tubuh dua anak kecil itu ke dalam gudang belakang paviliun.

Di dalam gudang Arjen berusaha terus sadar, dia meraih tubuh Arlen dan memeluknya erat. Tangisan yang sedari tadi ia tahan akhirnya pecah juga, sakit ini tidak seberapa karena dia sudah terbiasa sejak kecil. "A-arlen, bangun. Arlen." Arjen tambah terisak saat mendapati bahwa Arlen tidak bergerak, napasnya pun terasa lemah.

Dia berusaha membangunkan Arlen dengan berbagai cara, karena tidak kunjung mendapat respons dengan panik dia pun memukul pintu dan meminta tolong, dia tidak segan meraung dengan keras. Dia takut, Arlen adalah satu-satunya orang yang dia punya.

Ceklek

"Ah, tolong Arlen. Dia tidak bergerak, aku mohon." ucap Arjen dengan wajah memohon, tapi bukannya membantu pelayan yang datang membuka pintu itu justru menendang tubuh Arjen dan menghujani tubuh kecil itu dengan pukulan, "Sialan, buat pusing saja. Mau kalian mati pun aku tidak peduli."

Brak

Pintu tertutup dengan keras, disisa-sisa kesadarannya Arjen berusaha meraih Arlen dan memeluk tubuh kembarannya itu dengan erat. Jikapun mereka mati sekarang, setidaknya mereka mati bersama.

---------------

"Bawa mereka kembali Dante." seorang wanita cantik dengan balutan gaun mewah itu berbicara dengan serius. "Kamu yakin, Sera?" balas pria dengan mata sedalam samudra, kedua tangan wanita itu saling bertaut dengan cemas.

"Aku yakin Dante, bawa kembali mereka." ucapnya mantap, dia yang mendengar itu berdiri dan menghampiri istrinya. Lalu dengan perlahan memeluknya, "A-ku rindu anak-anakku." lirihnya.

"Aku akan menjemput mereka."

--------------

Sudah 3 hari mereka terkurung digudang dan tanpa makanan ataupun minuman, dan 3 hari pula Arjen dan Arlen berusaha untuk tetap hidup walaupun rasanya tubuh mereka hancur. Arlen berhasil melewati masa kritisnya, dan Arjen terus berusaha merawatnya. Kemarin Arlen mengalami demam tinggi tapi syukurlah sekarang sudah sehat kembali.

"Arjen, kamu mendapat air darimana?" tanya Arlen saat melihat botol minuman ditangan Arjen, "Aku mengumpulkan air hujan. Untung saja jendela itu bisa dibuka." ucap Arjen sembari menunjuk jendela kecil yang diberi tralis.

Arjen pun menyuruh agar Arlen minum, lalu gantian dengannya. Arjen dengan cekatan juga memeriksa luka dikepala Arlen, dia dengan pelan membasahi lengan bajunya dan mengusapkannya pada luka Arlen.

"Shh, pelan bodoh."

"Ini juga pelan, bodoh." gerutu Arjen, setelah selesai keduanya kembali duduk. Arjen tampak meringkuk, sedangkan Arlen memeluknya. "Arjen, menurutmu apa kita bisa bertahan sampai besar?" tanya Arlen, "Entahlah, tapi jika iya aku ingin kita pergi dari sini dan hidup berdua dimana hanya ada kamu dan aku." jawab Arjen.

"Dan bagaimana kalau keliling dunia? sepertinya bagus, auh." Arlen dengan gemas memukul tengkuk Arjen, "Uang darimana bodoh, kamu pikir uang dari daun?" Arjen yang mendengar itu cengengesan, benar juga sih. Akhirnya setelah 3 hari terkurung di sana keduanya bisa kembali tertawa lagi.

Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba pintu gudang didobrak dengan paksa. Saat terbuka terlihat ada beberapa orang berjas hitam datang, mereka terkejut saat mendapati kedua anak itu meringkuk disana.

"KAMI MENEMUKAN MEREKA!" beberapa dari mereka hendak meraih kedua anak itu, tapi Arlen dan Arjen dengan insting bertahan mereka menghindar dan menodongkan sebuah kayu pada mereka. Tubuh keduanya bergetar karena takut, apa mereka orang jahat? apa mereka akan memukul lagi? atau mereka penculik?

"Tuan dan nona kecil, kami bukan orang jahat. Kami tidak akan menyakiti kalian, kami janji." Arlen menatap Arjen, dan dihadiahi gelengan.

Gigi Arjen bergemeletuk, "Menjauh! jangan mendekat!" keduanya semakin erat berpelukan, Arjen juga semakin menodong mereka dengan kayu ditangannya. Di sini nampak sekali kedua anak itu berusaha saling melindungi dengan tubuh kecil mereka, para pria berjas itupun menyerah. Mereka juga tidak mungkin memaksa keduanya, ditambah keduanya tidak mau disentuh sama sekali.

"Bagaimana ini? jika kita tidak membawa mereka segera aku takut tuan marah." ucap salah satu dari mereka.

"Panggil tuan Nedo saja, aku yakin beliau bisa membujuk mereka." usul salah satu dari mereka, akhirnya mereka sepakat memanggil Nedo. Pria besar dengan tinggi lebih dari 185 cm itu datang, setelah diberi penjelasan dia segera membuka pintu gudang kembali.

Benar saja yang dibilang anak buahnya, kedua anak itu tidak bisa didekati. "Hai, aku Nedo. Lihat, aku tidak membawa apapun yang bisa menyakiti kalian." ucapnya sembari mengangkat kedua tangannya.

"Ba-badanmu?" jawab Arlen. Lihat saja badan penuh otot itu, sudah berotot besar lagi. Pasti sekali pukul tulang mereka langsung patah.

"Ah, aku bersumpah tidak akan menyakiti kalian. Jadi maukah kalian keluar bersamaku?" Nedo mengulurkan tangannya, keduanya saling bertukar pandangan. "Be-berikan jarak 2 meter." ucap Arjen, mendengar itu Nedo terdiam sebentar lalu mengangguk.

Akhirnya keduanya mau keluar tapi dengan syarat semua orang memberikan mereka jarak dua meter.

••••

Jangan lupa untuk dukung author dengan klik bintang ☆

Apa Itu Rumah?Stories to obsess over. Discover now