Mohon maaf author baru bisa up cerita ini lagi.
Happy Reading🏙🌟
***
"Aku berharap duniaku terus indah, hangat, dan lengkap seperti ini. Ada Mamih, Abang, dan kekasih yang menemani adalah dunia yang selalu aku impikan. Bolehkah jika aku berharap semua ini akan abadi?"
—Kaelyn Anetta Danendra—
***
"Mamih, ini beneran Mamih?" tanya Kaelyn di dalam dekapan hangat sang ibu.
Naomi menepuk pelan punggung putrinya yang sudah besar. "Iya sayang, ini Mamih. Mamih kangen sekali sama kamu dan Azam."
Netranya tak lagi bersembunyi di balik pelukan hangat Naomi, kini ia menatap cukup lama wajah mamihnya-masih teduh dan cantik seperti tidak ada perubahan. "Kaelyn juga."
Sudut bibir Naomi mengukir senyuman manis. Ia memegang pipi mochi Kaelyn, lalu beralih menatap putranya yang hanya berdiri beberapa langkah di belakang Kaelyn, tanpa menyapa apalagi memeluk. "Azam, kamu gak kangen sama Mamih? Atau jangan-jangan kamu marah ya sama Mamih?"
Azam menggeleng pelan seraya tersenyum malu. Ia segera berlari memeluk sang ibu. "Azam kangen juga, yakali Azam marah."
Naomi tertawa pelan. Ia memperhatikan putranya yang sudah memasuki semester akhir prodi Ilmu Ekonomi itu sudah sangat tinggi, bahkan melebihi tinggi badannya. "Putra Mamih ternyata sudah tumbuh tinggi ya, padahal dulu baru se bahu Mamih."
"Mih! Malu ih! Azam sudah dewasa," teriak Azam tak terima.
Ia hanya menertawakan putranya itu, orang dewasa mana yang masih merengek kayak begitu. "Iya, iya. Kalian laparkan? Kita bermalam di apartemen mamih malam ini, tapi kita makan dulu di restoran dekat sini ya." Ia merangkul putranya yang sudah lebih tinggi darinya dan putrinya yang baru sampai bahunya.
"Ayok!"
***
Di bawah pencahayaan hangat dan musik elegan restoran bintang lima, terukir cerita hangat antara ibu dan anak yang sempat terpisah oleh jarak antar negara. Kini mereka duduk di meja makan yang sama, saling berhadapan, dan menatap satu sama lain. Putrinya banyak sekali cerita soal kehidupannya selama lima tahun tanpa mamihnya, bahkan saking asiknya cerita makanan pun ia abaikan.
Sementara Azam hanya diam seraya tertawa pelan merespon cerita adiknya. Ia ingin cerita, tetapi ia tidak tahu harus memulai dari mana.
"Jadi, kamu sudah punya pacar Lyn?" tanya Naomi menyela cerita putrinya mengenai langit malam.
"Bukan gitu, maksudnya-"
"Jelas punya Mih, Ravin namanya. Mana bucin banget kayak dunia milik berdua aja," ledek Azam memotong pembicaraan adiknya.
"Kak Azam diam gak! Aku bius juga nih ya!"
Melihat itu Naomi hanya bisa menahan tawa, memang abang dan adek pada umumnya—abangnya jahil dan adeknya ngambekan. "Sudah, sudah. Kaelyn jujur sama Mamih siapa pacar kamu? Kasian loh masa punya pacar enggak kamu akui nanti kalau direbut orang gimana?"
"Mamih ih!"
"Lyn!"
Kaelyn merengut terpaksa ia cerita hal ini. "Iya, Kaelyn punya pacar, baru enam bulan aja."
"Siapa?" tanya Naomi.
"Ravindra, Mih," ucap Kaelyn ragu takut mamihnya tidak setuju.
Helaan napas kasar terdengar konstan beriringan dengan hentakan gelas teh dari Naomi. "Dunia memang sempit."
YOU ARE READING
Brother's Attack [ON GOING]
Mystery / ThrillerSebuah rumah mewah yang menyimpan kisah kelam. Malam hari yang mencekam terjadi di rumah mewah tengah kota, suara hujan dan petir menyatu dengan tangisan sang anak sesekali ia menjerit kesakitan. Ray terpaksa meninggalkan adiknya sendirian dirumah b...
![Brother's Attack [ON GOING]](https://img.wattpad.com/cover/391293537-64-k5894.jpg)