01. What's A Confession?

4 0 0
                                        

"RHEA!!"

Cewek yang disebut namanya itu langsung berlari dari dalam kelas menuju balkon. Dari sana, Rhea bisa melihat lapangan yang sudah dipenuhi siswa-siswi SMA Asteria. Pandangan Rhea tertuju ke satu cowok di tengah lapangan yang lagi megang pengeras suara alias toak.

"Dia udah gila ya?" Gumam Rhea yang sebenernya sangat malu.

Ketika hening, ada salah satu cowok yang berteriak memberitahu kalau Rhea udah liat si cowok ini.

"BRO! RHEA LIAT LO TUH DARI ATAS!!"

"Anjas bego! Ngapain lo ngomong sih?" Ucap Sera, teman Rhea.

Cowok ini langsung mencari si cewek yang dia incar dan...

"RHEA, GUE BISA LIAT LO DARI BAWAH SINI!" Ucap si cowok.

Makin menjadi rasa malu dan benci jadi pusat perhatian, itulah yang dirasakan Rhea saat ini. Ingin rasanya dia memukul cowok itu. Sedangkan si cowok melambaikan tangannya sambil tersenyum kearah Rhea.

"Ish risih banget. Nggak suka!" Ucap Rhea pada Sera.

"Rhe, apa nggak dengerin dulu tuh si Daffa?" Tanya Sera.

"Nggak mau! Dia buat gue malu! Lo kan tahu gue nggak suka jadi pusat perhatian." Ucap Rhea.

"RHEA, BISA DENGERIN GUE SEBENTAR? JANJI CUMA 5 MENIT."

Ucapan Daffa dari bawah memanggil namanya pun membuat Rhea menyerah dan memilih untuk mendengarkan apa mau dari si cowok.

Melihat Rhea tetap di tempatnya membuat Daffa tersenyum.

"OKE KARENA TAKUT TOAKNYA DIAMBIL SAMA PAK HERMAN, GUE CUMA MAU BILANG..."

Ada jeda sebentar dan Daffa melanjutkan kalimatnya.

"GUE SUKA SAMA LO, RHEA!"

Seketika satu sekolah heboh karena Daffa mencetak sejarah di sekolah Asteria sebagai cowok paling berani yang menyatakan perasaannya ke Rhea.

Sedangkan Rhea? Tentu dia terkejut.

"Sejak kapan?" Gumam Rhea.

"PASTI LO NANYA SEJAK KAPAN, KAN? OKE AKAN GUE JAWAB..."

Daffa menghela nafas dan melanjutkan kalimatnya.

"WAKTU PERTAMA KALI KETEMU LO, GUE MIKIR KENAPA ADA CEWEK SECANTIK LO DI DUNIA INI? GUE JUGA KAYAKNYA NGGAK AKAN PERNAH BOSEN LIATIN LO..."

Semua murid SMA Asteria bersorak sorai dan heboh sendiri setelah mendengar pengakuan Daffa. Lalu, Daffa mulai melanjutkan kalimatnya.

"GUE NGGAK AKAN MAKSA LO BUAT SUKA SAMA GUE SEKARANG TAPI, INI AKAN JADI AWAL PERJUANGAN GUE BUAT MENAKLUKAN LO, RHEA!" Ucap Daffa dan lagi-lagi satu sekolah heboh.

Sedangkan Rhea hanya bisa berdumel...

"Daffa bego!"

Rhea melihat kearah Daffa yang ada di lapangan lagi dikejar sama Pak Herman karena ketahuan memakai toak tanpa izin.

"Seketika capek banget, Ser. Pulang aja kali ya?" Ucapan Rhea membuat Sera tertawa.

"Gila lo. Kita masih ada beberapa jam lagi sebelum bel pulang." Ucap Sera.

"Gue udah nggak sanggup." Ucapan Rhea kembali membuat Sera terkekeh.

"Rhe, mau gue kasih tahu sebuah fakta ke lo?"

"Apaan?"

"Mulai hari ini kayaknya hari lo akan jauh lebih berisik dari sebelumnya."

"Gue tahu."

"Trus?"

"I hate that."

Dari atas balkon, Rhea bisa melihat Daffa dikejar-kejar sama Pak Herman gara-gara toak milik guru olahraga dipakainya tanpa izin.

"DAFFA!! SINI KAMU!!"

"PAK, SAYA LAGI MENYATAKAN PERASAAN SAYA KE CEWEK YANG SAYA SUKA!"

"YA TAPI JANGAN PAKE TOAK SEKOLAH JUGA DONG! PELANGGARAN NAMANYA!"

"TAPI MENCINTAI DIA BUKAN PELANGGARAN KOK."

"JAWAB MULU NIH ANAK!"

Suara mereka terdengar sampai ke balkon. Dan beberapa siswa yang masih berada di lapangan ikut tertawa.

Rhea memejamkan mata.

Kenapa harus Daffa?

Daffa adalah salah satu siswa yang paling dikenal di SMA Asteria. Bukan karena prestasi yang luar biasa. Bukan juga karena pernah memenangkan sesuatu.

Tapi karena Daffa bisa mengenal hampir semua orang. Dari kakak kelas sampai adik kelas, dari penjaga kantin sampai guru olahraga, semuanya sepertinya pernah diajak bicara oleh cowok itu.

Dan sekarang...

Entah bagaimana, orang seperti Daffa memilih Rhea. Padahal Rhea bahkan tidak merasa dirinya menarik. Dia hanya ingin menjalani hari-harinya dengan tenang.

Masuk kelas.

Belajar.

Pulang.

Sesekali mengobrol dengan Sera.

Selesai.

Tidak ada yang perlu dibuat rumit. Tapi sepertinya Daffa punya rencana lain.

"Rhe?"

"Hm?"

"Lo sadar sesuatu?"

"Apa lagi?"

Sera menunjuk ke arah lapangan. Daffa sudah berhenti berlari. Pak Herman terlihat sedang memegang toak yang tadi digunakan Daffa.

Sedangkan Daffa berdiri beberapa meter di depannya dengan napas terengah-engah.

Namun, bukannya terlihat kapok, Daffa justru mendongakkan kepalanya ke arah balkon.

Tatapan mereka bertemu dan Daffa tersenyum. Sedangkan Rhea langsung memalingkan wajah.

"Dia liat lo." Ucap Sera.

"Biarin."

"Dia senyum ke lo, Rhe."

"Nggak peduli."

"Kayaknya dia bakal naik ke sini."

Rhea langsung menoleh.

"Ser, bercanda lo nggak lucu ya."

Sera menahan tawa.

"Gue serius. Tuh anaknya lari ke arah sini."

Rhea terdiam.

Beberapa detik kemudian-

"RHEAAAA!"

Suara itu terdengar dari bawah.

Rhea menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Arrgghh! Gue mau pindah sekolah, boleh nggak sih?"

Sera tertawa semakin keras.

"Baru juga confess lima menit lalu." Ucap Sera sambil tertawa karena Rhea.

"Gue udah capek banget. Fix setara kayak marathon, gila." Ucap Rhea yang keliatan banget nggak suka situasi ini.

"Terus kalau dia beneran ngejar lo, bagaimana?" Tanya Sera.

Rhea menatap Sera datar.

"Gue akan lari."

Sera mengangguk pelan.

"Jawaban jelasnya, dia bakalan ngejar lo." Ucap Sera.

Rhea menghela napas.

Sepertinya...

Hari-harinya yang tenang sudah berakhir.




Bersambung...

Cat Girl with A Golden BoyHistórias para pegar e não largar. Descubra agora