Satu bulan sudah Theo mendekatinya, satu bulan penuh ia hadir setiap hari, menatap Karina dengan tatapan yang begitu lembut seakan tidak ada hal lain yang lebih penting di dunia ini selain melihat Karina tersenyum. Karina tidak tahu setiap kata yang keluar dari bibir Theo sudah disusun sebelumnya, setiap waktu yang ia luangkan di sisinya sudah dihitung sejak awal.
Malam itu di taman belakang rumah, di bawah langit biru tanpa awan. Rumput hijau terawat rapi, batu pijakan bundar putih tersusun melengkung menuju ke tengah, di mana sebuah kursi goyang anyaman berdiri. Di kejauhan, di bawah payung cream di atas meja kayu, begitu banyak bunga bermekaran di tepian taman. Pohon-pohon tinggi menjulang mengelilingi tempat itu, pagar kayu cokelat hangat menutupi sisi-sisi. Cahaya bintang menembus dedaunan, jatuh di atas rumput, dan udara terasa sejuk serta harum bunga yang baru disiram.
Theo berlutut di hadapannya. Kotak beludru terbuka di tangannya, berlian di dalamnya berkilau lembut terkena cahaya lampu taman. Selama satu bulan ini Karina merasa begitu dihargai, begitu dilihat, begitu dicintai - dan ia tidak tahu semua itu hanyalah cara agar ia tidak pernah bertanya, tidak pernah curiga, dan tidak pernah melihat kebenaran yang tersembunyi di balik senyum itu.
"Karina, setiap hari yang kuhabiskan bersamamu terasa belum cukup. Setiap kali aku melihatmu, aku tahu aku tidak ingin lagi pulang ke rumah yang kosong tanpa kau di sana," kata Theo, suaranya rendah dan meyakinkan. "Maukah kau menikah denganku? Maukah kau menjadi rumah tempat aku selalu kembali?"
Karina menatapnya, jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia hampir tidak bisa bernapas. Selama satu bulan ini tidak pernah ada satu hal pun yang membuatnya ragu. Selama satu bulan ini Theo selalu ada, selalu mendengar, selalu sabar - dan karena itu ia percaya sepenuhnya bahwa pria itu mencintainya.
"Kamu serius?" karina tidak percaya theo akan mengajak nya sejauh ini.
"Belum pernah aku seserius ini dalam hidupku," jawab Theo tanpa ragu sedikit pun.
Karina mengangguk sebelum kata "ya" sempat terbentuk sepenuhnya di kepalanya. Air mata bahagia menetes di pipinya saat Theo menyelipkan cincin itu di jari manisnya, lalu menariknya berdiri dan memeluknya erat seakan ia hal paling berharga yang pernah ia temukan. Karina balik memeluknya dengan segenap hati, Karina merasa menjadi wanita yang paling bahagia didunia malam ini. tidak tahu pria yang sedang memeluknya itu baru saja menyelesaikan langkah terakhir dari rencana yang sudah ia siapkan jauh sebelum mereka pertama kali berbicara.
_______
1 bulan kemudian
Rumah itu terbentang luas dengan langit-langit yang menjulang tinggi. Ruang tengahnya terbuka dan lega, dinding berwarna kelabu pucat dengan garis hitam tegas yang membingkai setiap sudutnya. Lampu gantung berderet menjatuhkan cahaya terang dari atas, menyoroti lantai marmer yang mengkilap dan memantulkan bayangan tangga bertingkat dengan pagar kaca bening yang melangit ke lantai dua. Sofa besar berwarna kelabu gelap memenuhi sebagian ruangan, di hadapannya meja bundar kayu cokelat tua yang polos. Di sisi lain terlihat ruang makan dengan perabotan sederhana namun mahal, serta lukisan besar yang tergantung sendiri di dinding tanpa hiasan lain. Semuanya rapi, semuanya sempurna.
Karina masuk lebih dulu dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya. "Rumah ini sangat indah, Theo," matanya berbinar-binar, lalu berbalik hendak berbagi rasa kagum itu dengan pria di belakangnya.
Namun saat ia berbalik, senyum itu perlahan hilang dari wajahnya.
Theo masih berdiri di tempatnya, tidak bergerak mendekat sedikit pun. Tatapan matanya yang tadi begitu hangat kini berubah tajam dan dingin, menatap Karina bukan sebagai istrinya, melainkan benda yang kini sudah sepenuhnya berada di bawah kendalinya.
Karina melangkah maju sedikit, canggung, jemarinya meremas tali tas kecil di bahunya. Ia tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba saja menjadi sedingin lantai marmer di bawah kakinya.
YOU ARE READING
The Unplanned Home
FantasyKarina tidak pernah tahu apa-apa tentang masa lalu kakaknya, ia dipaksa bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak pernah dia buat, dan saat itu terjadi bisakah sebuah rumah yang dibangun di atas dendam dan kebohongan, benar-benar menjadi tempat se...
