Bab 1: can i call u my lover?

4.7K 418 14
                                        

Masalah terbesar Bumi di tahun terakhir SMA-nya bukanlah ancaman nilai ujian kelulusan, melainkan seorang mahasiswa BSc International Business di London yang hobi mentransfer uang jajan secara paksa.

Bumi menghela napas panjang sambil menatap buku paket Sosiologi yang terbuka di atas meja belajarnya. Angka di jam dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kepalanya mulai terasa berdenyut setelah hampir dua jam penuh berkutat dengan materi pelajaran.

Tepat saat ia berniat menutup buku, layar ponselnya menyala terang. Sebuah notifikasi muncul dan sukses membuat rasa kantuk remaja itu menguap tak berbekas. Matanya membulat sempurna melihat deretan angka di layarnya.

Transfer masuk Rp 500.000 dari ARSHAKA PRAYATA.

Bumi buru-buru membuka aplikasi WhatsApp. Jarinya mengetik dengan kecepatan penuh di atas layar, nyaris menekan tombol yang salah saking paniknya.

Bumi: KAK SHAKA! INI APAAN LAGI????

Tidak sampai satu menit, status di bawah nama kontak Arshaka berubah menjadi typing. Laki-laki yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri itu seolah tidak pernah absen memantau ponsel.

Kak Shaka: Uang jajan.

Bumi: Ya aku tau itu uang. Tapi buat apa? Kakak kan baru kemarin beliin aku martabak!

Kak Shaka: Buat beli susu stroberi. Kamu bilang kemarin stok di kulkas habis. Sekalian beli kuota, takutnya kamu tiba-tiba ilang pas lagi teleponan malam ini.

Bumi mengusap wajahnya kasar. Laki-laki satu ini benar-benar tidak waras. Mereka baru kenal sebulan lewat aplikasi kencan dan belum resmi berpacaran. Namun, kelakuan Shaka sudah seperti ATM berjalan yang tidak segan menghamburkan uang.

Bumi: Susu stroberi sekotak cuma enam ribu, Kak Shaka! Ini lebihnya banyak banget. Aku balikin ya!

Ponsel Bumi bergetar pelan di atas meja. Layarnya kini menampilkan panggilan suara masuk dari Kak Shaka. Jantung Bumi mendadak berdebar sedikit lebih cepat. Ia berdeham pelan, mencoba menetralkan suaranya sebelum mengangkat panggilan itu.

"Halo?" sapa Bumi dengan nada yang sengaja dibuat ketus.

Terdengar kekehan rendah dari seberang sana. Suara Shaka selalu terdengar berat, santai, dan penuh percaya diri. Sangat kontras dengan Bumi yang selalu mudah panik jika digoda.

"Ga usah dibalikin, Bumi. Simpan aja." Suara Shaka mengalun sangat lembut di telinga. "Atau mau ditabung buat beli tiket pesawat ke London?"

Bumi mendengus sebal sambil mengerucutkan bibirnya. "Ngapain aku ke London segala."

"Jengukin calon pacar?" goda Shaka santai.

"Siapa yang mau jadi pacar Kakak!" Wajah Bumi mulai terasa panas. Ia memutar kursi belajarnya, menyembunyikan senyum tipis yang mendadak muncul. "Udah ah, aku mau lanjut ngerjain tugas sejarah. Kakak ganggu terus."

"Ya udah, kerjain tugasnya. Jangan begadang," ucap Shaka masih dengan nada lembut. "Jangan lupa minum juga."

Bumi mendengus kecil. "Iya, cerewet."

"Emang."

Jawaban cepat itu membuat Bumi terdiam sebentar, sedangkan si empunya hanya tertawa kecil dari seberang telepon. "Bumi?"

"Apa lagi?"

"Coba lihat ke luar jendela kamar kamu."

Bumi mengerutkan kening bingung. Ia beranjak dari kursi belajarnya dan berjalan perlahan menuju jendela. Tangan kecilnya menyingkap tirai perlahan. Malam di Jakarta tampak seperti biasa. Hanya ada deretan rumah tetangga dan lampu jalan yang menyala terang.

"Ga ada apa-apa," protes Bumi polos.

"Emang ga ada," kekeh Shaka pelan. "Kakak cuma mau ngebayangin aja. Berarti sekarang kamu lagi berdiri di depan jendela, pakai baju tidur kebesaran, terus bibirnya pasti lagi maju sebal."

Napas Bumi tertahan sejenak. Sialan. Tebakan Shaka tepat sasaran. Ia buru-buru menutup tirai itu rapat-rapat seolah Shaka benar-benar bisa melihatnya dari jarak ribuan kilometer.

"Bumi," panggil Shaka lagi. Kali ini nadanya berubah lebih dalam dan serius, membuat bulu kuduk Bumi meremang halus karena salah tingkah.

"Hm?" balas Bumi sangat pelan.

"Tiba-tiba rasanya pengen cepat-cepat lulus."

"Kenapa?" tanya Bumi.

Hening sejenak di seberang sana. Bumi bisa mendengar embusan napas Shaka yang teratur.

"Biar bisa cepat pulang ke Indo. Kakak udah kepengen banget peluk kamu."

Bumi mematikan sambungan telepon itu sepihak dengan tangan gemetar. Ia langsung melempar ponselnya ke kasur dan menenggelamkan wajahnya di bantal. Wajahnya terbakar hebat dan jantungnya berdetak seakan mau lepas. Arshaka benar-benar berbahaya untuk kesehatan jantungnya.

My Favorite Match, Maybe Stories to obsess over. Discover now