Shandu tersenyum miring kemudian menunduk menatap tajam Nayla. "Kalau ngomong tuh dilihat lawan bicaranya"
Begitu dominan, suasana hening. Hingga Nayla tidak berani untuk sekedar melirik. Posisi nya yang terhimpit di antara rak buku dan Shandu membuat ia lebih terancam.
Nayla reflek gelagapan. Sekedar melirik pun khawatir. "Aku-"
Ucapannya terputus, digantikan oleh sapuan hangat ciuman Shandu yang sudah menempel di bibir Nayla.
Nayla enggan membalas. Walau Shandu menggigit bibirnya perlahan. Bahkan matanya tidak tertutup seperti biasa. Membuat Shandu menggeram kesal dan berakhir menggigit bibir nya sedikit keras.
"Akh!"
Karena terkejut, Nayla menutup matanya dan membuka akses untuk Shandu memperdalam ciuman.
Deru napas mereka beradu, menciptakan suasana panas di sekitar.
Dengan cepat Shandu membuka rompi Nayla yang menutupi kancing seragam.
Dibukanya kancing atas seragam tersebut. Membuat Nayla segera membuka mata lalu menahan tangan Shandu yang mulai bergerilya.
Shandu yang merasa ditolak pun menarik diri. Menyatukan dahi mereka, mencoba mengatur napas.
"Gue nggak mau putus, Nay" Shandu menghela napas. "Gue.. nggak bisa tanpa lo"
Air mata Shandu menggenang di sudut mata. Merasa terancam oleh keputusan Nayla tadi.
Sontak Nayla yang melihatnya mengusap air mata tersebut. "Jangan nangis, kak"
Shandu mulai merasakan elusan lembut dan menenangkan dari Nayla di pipi nya. "Gue sama Silla cuman sekedar ngobrol"
"Gue nggak ada main belakang sama dia"
Nayla diam.
"Nay, please"
Pertahanan Nayla runtuh, ia mengecup singkat bibir Shandu. Kemudian mengangguk. "Iya, percaya"
Ting!
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.