Suasana koridor Rumah Sakit Kencana pagi itu terbilang cukup sibuk. Langkah-langkah kaki bergegas, aroma samar antiseptik, serta bunyi nyaring roda brankar yang didorong melintasi lantai keramik menjadi musik latar harian.
"Dokter Arkan!"
Sebuah panggilan memotong keramaian itu. Pria bertubuh jangkung yang mengenakan jas putih dokter itu menghentikan langkahnya. Dia menoleh pelan, memasang ukiran senyum paling ramah di wajahnya ketika melihat siapa yang berlari menghampirinya dengan napas sedikit terengah-engah.
"Oh, Suster Anna? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Arkan dengan nada suara yang begitu lembut dan menenangkan.
Suster Anna menyeka keringat tipis di dahinya, berusaha merapikan rambutnya sebentar, sebelum menyodorkan sebuah wadah bekal makanan ke arah arkan
"Ah... itu, Dok. Saya... tadi pagi masak kebanyakan," jelas Suster Anna dengan rona merah yang mulai menjalar di pipinya.
Arkan menaikkan sebelah alisnya tipis, masih dengan senyum ramah yang terkembang sempurna. "Ya? Lalu?"
"Ini... untuk Anda," ucap Suster Anna gugup, makin memajukan kotak bekal tersebut.
Arkan menatap wadah bekal itu sejenak. Senyumnya tidak pudar, tetapi tatapannya langsung beralih kembali ke mata Suster Anna.
"Ah, sayang sekali. Saya juga sudah membawa bekal dari rumah hari ini," jawab Arkan halus.
"Mungkin lain kali, ya? Terima kasih banyak, Suster."
Suster Anna seketika panik melihat niat baiknya ditolak mentah-mentah.
"Eh, tapi Dokter Arkan-"
"Kalau tidak ada yang makan, berikan ke satpam di gerbang depan saja, Sus. Sepertinya mereka lebih membutuhkan," potong Arkan cepat, tanpa memberi ruang untuk negosiasi.
"Kalau tidak ada yang lain, saya pamit dulu. Ada beberapa pasien di bangsal yang harus saya periksa. Permisi..."
Arkan mengangguk sopan, lalu membalikkan badannya dan melangkah pergi tanpa menunggu balasan lagi. Begitu membelakangi Suster Anna, ukiran senyum ramah di wajah tampannya langsung luntur seketika. Muka datarnya yang dingin kembali terpasang.
'Makanan udah dikasih jampi-jampi main kasih ke orang aja. Mau melet gue apa gimana?!' omel Arkan sengit di dalam hatinya.
Bukan tanpa alasan Arkan menolak bekal tersebut. Pria bernama lengkap Arka Samudra Wijaya itu punya alasan yang jauh lebih mengerikan dari sekadar "sudah bawa bekal".
Saat Suster Anna menyodorkan kotak bekal tadi, tepat di atas tutup wadah plastik itu, Arkan melihat sosok wanita kerdil berbaju merah merayap. Wanita itu hanya memiliki satu mata di tengah dahi, satu tangan dengan kuku hitam memanjang, dan satu kaki yang menatap Arkan dengan lidah menjulur sembari mengelus-elus makanan di dalamnya.
Ya, Arkan punya "kemampuan khusus". Dia bisa melihat makhluk halus, sesuatu yang tak bisa dilihat oleh mayoritas manusia normal.
Kemampuan sialan ini mulai aktif sejak dia duduk di bangku SMP. Diduga kuat, ini adalah "warisan" atau keturunan dari neneknya yang dulu dikenal sebagai orang pintar dan ahli dalam hal tak kasat mata.
Bagi sebagian orang, punya penglihatan spritual mungkin terdengar menakjubkan atau dianggap sebagai anugerah keren. Namun bagi Arkan, ini adalah kutukan paling menyebalkan dalam hidupnya.
Jika di cerita-cerita horor atau pengalaman orang lain ada yang bisa melihat sosok halus berwujud manusia normal atau bahkan berparas tampan dan cantik, maka Arkan tidak pernah seberuntung itu.
Sejak pertama kali matanya terbuka, yang Arkan lihat adalah wujud paling hancur, paling mengerikan, dan paling menjijikkan dari mereka.
Ada yang mukanya hancur berdarah-darah, mata yang menyangkut di pipi karena keluar dari rongganya, kaki yang putus diseret-seret, hingga kepala tanpa badan yang menggelinding santai di lantai. Apalagi kalau arwah korban kecelakaan lalu lintas, bentuk mereka jauh lebih mengerikan hingga kerap membuat perut Arkan mual. Karena itulah, bekerja di rumah sakit sebenarnya adalah pilihan hidup paling masokis yang pernah diambil Arkan.
YOU ARE READING
OCEAN & SKY
Romance"Menyelamatkan nyawa adalah tugasnya, tapi melarikan diri dari mereka yang tidak bernyawa adalah caranya bertahan hidup."
