★★★★
Angin malam berhembus kencang membawa udara dingin sisa hujan sore tadi. Langit membentang gelap tanpa bintang. Udara dingin yang menusuk kulit tidak bisa menghentikan seseorang yang membawa motornya melaju kencang. Membelah jalanan kota pada malam hari yang mulai sepi aktivitas. Kuda besi hitam berpadu silver itu memantulkan lampu jalan.
Sorot tajam di balik kaca helm full face hitam memandang lurus pada jalanan ketika menyalip kendaraan lain, meski begitu pikirannya tak berada di sana. Membawa harapan dengan membawa motornya ugal-ugalan bisa meringankan kepalanya yang penuh dan berisik.
Dalam bayangannya, kedua orang tuanya yang bertengkar kembali teringat. Saling berteriak, memaki dan mengumpat. Sudah sering dihadapkan pada situasi yang sama, tetapi rasa marahnya selalu ada yang membuatnya tak pernah mau di rumah.
Berisik. Setiap malam ketika orang tuanya pulang bekerja, keduanya akan kembali terlibat adu mulut. Nyaris setiap malam.
Dia.
Sabian Dheandra.
Sang ketua dari geng Rebellix itu tengah kalut dengan masalahnya sendiri.
Pemuda itu menarik gasnya berkali-kali hingga menghasilkan gerungan mesin yang memekakkan telinga. Emosinya kembali, motornya dibawa melaju semakin cepat bak tengah berpacu di arena. Berharap ini segera berlalu seperti biasa.
Namun yang tidak Sabian sadari, dia baru saja menarik amarah beberapa orang yang membuatnya diikuti. Gerungan motornya tadi tepat saat melintasi tempat biasa musuhnya berkumpul. Secara tidak sadar.
Ketika merasa hatinya mulai tenang, kecepatan motornya ia turunkan namun tatapannya tidak berubah. Matanya melirik spion, mendapati beberapa motor di belakang dan menyusulnya dan membentuk formasi mengelilinginya sehingga ia memilih berhenti.
Sabian menghela napas panjang, jujur saja dirinya sedang malas meladeni mereka. Tapi pemuda berkulit putih itu melepaskan helm full face hitamnya ketika seseorang turun dari motor dan menghampiri.
Surai hitamnya tersapu angin, memperlihatkan manik madunya yang menyorot tajam. Bibirnya terkunci rapat ketika seorang pemuda yang ia tahu bagian dari kelompok musuhnya itu berdiri di depannya.
"Wah wah, besar juga nyalimu menantang sendirian." Dia berbicara pongah dengan senyum mengejeknya.
Manik madunya menatap sekeliling, lima orang mengepung dirinya sekarang. Matanya memutar malas, Sabian mendengus pelan lalu membalas, "aku tidak sedang mencari keributan."
"Lalu jelaskan maksud dari menarik gas di depan kami jika tidak mencari masalah?"
Ah, jadi di sana masalahnya. "Aku hanya lewat." Meski begitu Sabian turun dari motornya sebab tahu ia tidak akan dibiarkan pergi begitu saja meski sudah beralasan.
Pada akhirnya perkelahian tetap terjadi, satu lawan lima. Sabian sedikit kewalahan menghadapi serangan di waktu yang sama, tetapi dia berhasil beradaptasi dan mengambil alih situasi. Dia menendang perut di depannya kemudian berbalik dan memberi tinju pada rahang lawan.
Amarah yang disebabkan keadaan keluarganya berganti menjadi benci pada nama geng yang dimiliki kelima lawannya ini. Dia mulai gelap mata, membabi buta menghajar sisanya hingga tumbang di tepi jalan sambil meringis.
Dadanya naik turun kencang, napasnya memburu dan tatapan matanya menggelap. Dia tatap satu persatu sebelum berjongkok di depan seseorang yang sedari tadi banyak bicara.
Menarik dagunya agar menatap, lantas dengan jumawa ia berbicara, "silakan mengadu pada Ketuamu, Rebellix siap menyambut meski bukan kami yang memulai."
Kemudian dia membawa motor besarnya meninggalkan mereka tanpa menoleh. Meninggalkan jejak angkuhnya seorang ketua geng Rebellix.
★★★★
Balik lagi dengan buku baru setelah cukup lama. Dari dulu suka bgt sama cerita geng motor, makanya aku bikin.
Kalo ada kesamaan dari alur, nama, dan lainnya murni kebetulan.
Seperti biasa, aku updated malem yah. Dan aku usahain setiap minggu ada meski cuma satu chp.
Semoga kalian suka, enjoyyy!
(◍•ᴗ•◍)✧*。
YOU ARE READING
Rahasia di Balik Perang Dua Gerbang
General FictionDua sekolah-Raelis High School dan Skylar High School. Dua geng-Rebellix dan Vandalic. Dulu sekutu. Sekarang musuh. Pernah berdiri di sisi yang sama-tertawa, melaju di jalan yang sama, menyebut diri sebagai sahabat. Sampai suatu kejadian mengh...
