00. Prolog

247 41 20
                                        

"Ketemu sama siapa itu?! Apa dia pacarmu yang baru? Bisa-bisanya kamu ketemu lelaki lain seenaknya gak minta izin dulu sama aku!" omel Chris setelah mobil sedan hitam itu pergi usai menurunkan Lio di pinggir jalan.

Lio tak menjawab, ia terus berjalan meninggalkan Chris yang mendadak muncul berdiri di belakang dan mulai mengekorinya.

"ARNELLIO! AKU LAGI NGOMONG SAMA KAMU!" bentak yang lebih tua dengan lantang.

"Aku gak butuh izin kamu, Chris. Kamu udah gak ada hak lagi mengaturku," jawab Lio sambil terus bergegas pergi. "Aku juga udah bilang, berhenti mengajakku bicara di tempat umum, dan berhenti mengikutiku! Tempatmu udah bukan di sini lagi!" sambungnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang di mana arwah suaminya itu terus mengekorinya.

"Aku gak berhak mengaturmu?! Aku ini suamimu, Lio!" teriak Chris kencang. "Aku yang memenuhi semua kebutuhanmu setiap hari! Aku yang kerja banting tulang dari pagi sampai malam hari! Aku yang beliin semua pakaian dan makanan enak buatmu sejak kita pertama menikah sampai aku mati! Tapi sekarang apa balasanmu?! Kamu seenaknya kenalan dan pergi sama orang lain tanpa mikirin perasaanku sama sekali! Aku tuh dianggap apa sama kamu sebenarnya, hah!" cecar Chris.

Suasana taman tempat keduanya berada kini nampak sepi, tak ada orang lain sama sekali, dan Lio memilih menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Chris.

Angin malam seketika berembus, mengibarkan anak-anak rambut Lio dan menebarkan aroma khas yang keluar dari tubuh Chris. Aroma bunga-bunga bercampur bau mayat.

"Suamiku?" ulangi Lio pelan. "Sejak kapan? Sejak kamu mati? Atau sejak ... kapan?" tanyanya.

"Jangan pura-pura dan berkelit, Lio!"

"Aku? Pura-pura?" Lio kembali membeo ucapannya. "Kalau kamu bisa nanya aku nganggap kamu tuh apa, aku juga boleh dong nanya hal yang sama ke kamu?!" balasnya.

"Apa maksudmu?!"

"Sebenarnya kamu tuh menganggap apa sih pernikahan kita? Sekadar status di atas kertas dan KTP, begitukah?"

"Kamu tuh ngomong apa?! Jangan nyoba-nyoba buat memutar balik fakta!"

"Hah? Memutar balik fakta?" Lio mengulangi disertai tawa satir mengejek sang mantan suami. "Kalau kamu mau fakta, biar kujelaskan faktanya! Selama lima tahun berumahtangga, apa kamu pernah peduli sama aku? Apa kamu pernah nanya gimana keseharianku di rumah? Apa kamu pernah nanya aku ada butuh apa? Atau sekadar nanya gimana kabar anak kita? Pernah?!" cecarnya kemudian.

"..." Chris kali ini yang tak menjawab.

"Nggak. Kamu gak pernah nanya itu semua, Chris. Sesederhana nanya apa popoknya sudah diganti, apa sudah makan/belum, apa sudah mandi, atau soal gigi susunya yang tumbuh miring itu—yang kuyakini kamu juga gak tau sama sekali—apa perlu dirujuk ke dokter gigi atau nggak, kamu pernah gak nanya soal itu?" tuntut Lio. "Kamu mengecap dirimu suamiku dan ayah dari Jeje, tapi kamu sendiri gak pernah peduli sama keluarga, sama anakmu sendiri!" papar Lio menjejalkan fakta menyakitkan kendati bagaimana perangai Chris semasa hidup dulu.

"Kita memang menikah bukan karena alasan cinta, Chris, tapi meski begitu aku masih berusaha melakukan yang terbaik untukmu dan anak kita. Aku berusaha mencintaimu, aku merawat dan memenuhi semua yang kamu butuhkan setiap hari. Aku memasakkanmu makanan, membuatkanmu bekal, mencuci bajumu, membersihkan rumah, tapi kamu gak pernah sekalipun nanya gimana keseharianku. Apa aku butuh ditemani setiap malam saat kamu lembur, apa aku butuh teman curhat sewaktu ngerasain peliknya ngurus anak, apa kamu begitu?" desak Lio.

"Ya, aku tau aku gak pernah benar-benar memedulikanmu! Tapi asal kamu tau kalau aku begitu karna aku tuh sibuk kerja! Aku sibuk nyari nafkah buat kamu dan anak kita! Kamu sendiri kan yang merasakan uang hasil gajiku! Kenapa sekarang seakan-akan aku ini suami yang buruk buatmu cuma karena aku kurang perhatian aja?!" bantah Chris.

Until Death Couldn't Part Us [Minchan]Stories to obsess over. Discover now