Tahun 2023 menjadi babak baru bagi Salsa. Mengenakan blazer rapi dengan id-card kantor hukum ternama menggantung di lehernya, ia melangkah dengan penuh percaya diri. Karir impiannya baru saja dimulai. Namun, di balik senyum profesionalnya, ada satu beban masa lalu yang terus menggerogoti hidupnya: Rahmad.
Rahmad adalah kekasihnya selama tiga tahun terakhir. Seorang pemuda desa yang kesehariannya bertani, namun sayangnya, ia juga membiarkan dirinya "ditanam" dalam kenyamanan finansial yang Salsa sediakan.
Sejak hari pertama bekerja, Salsa sudah berniat memutus rantai hubungan yang tak sehat itu. Kesibukan barunya menjadi alasan sempurna untuk mulai menjaga jarak. Namun, Rahmad—dengan kedok cinta—terus menuntut perhatian.
Malam itu, sepulang kerja, Salsa membulatkan tekadnya dan mengirimkan pesan yang sudah lama ia tahan.
**Salsa:** *Bagaimana kalau hubungan ini kita selesaikan saja?*
**Rahmad:** *Maksudnya? Setelah aku menemani kamu dari bawah sampai punya pekerjaan berkelas, tiba-tiba kamu mau putus begitu saja?*
**Salsa:** *Coba kamu pikir, wanita mana yang tahan dengan laki-laki sepertimu, Mad? Tiga tahun aku temani prosesmu, tapi apa? Tidak ada sedikit pun kemajuan di hidupmu!*
**Rahmad:** *Iya, tapi aku sedang usahakan semuanya untuk kamu!*
**Salsa:** *Usaha apa?! HP aku yang belikan, motor aku yang cicil, bahkan bensinmu sehari-hari aku yang bayar! Kamu cuma jalan di tempat tanpa ada keinginan untuk maju!*
**Rahmad:** *Pokoknya aku tidak mau putus! Pikirkan baik-baik, Sayang.*
Perdebatan panjang itu menguras emosi Salsa. Muak dengan segala alasan manipulatif Rahmad, Salsa akhirnya memblokir seluruh akses media sosial pemuda itu. Ia butuh ketenangan.
Namun, kelegaan itu hanya bertahan semalam.
Keesokan paginya, tepat saat Salsa hendak berangkat kerja, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. Jantung Salsa seolah berhenti berdetak saat melihat lampiran foto di dalamnya.
**Rahmad:** *[Mengirim foto]*
**Rahmad:** *Kalau kamu berani ninggalin aku, aku pastikan foto bugil ini tersebar ke semua teman kantormu! Hahaha.*
Sebagai orang yang bekerja di ranah hukum, insting pertama Salsa adalah panik, namun logikanya dengan cepat mengambil alih. Ia tahu ia tidak boleh gegabah. Selama dua hari di kantor, pikirannya berkecamuk menyusun strategi. Rahmad hanya butuh dibujuk. Laki-laki itu harus merasa menang sebelum Salsa melucuti senjatanya.
**Salsa:** *Nanti malam kita ketemu ya, Sayang. Kita bicarakan baik-baik semuanya.*
Tepat pukul 20.00, Rahmad menjemputnya. Mereka pergi ke sebuah kafe di pinggiran kota.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Rahmad, mencoba bersikap manis seolah ancaman menjijikkan pagi tadi tidak pernah terjadi.
"Kopi susu sama camilan saja," jawab Salsa tenang.
Setelah pesanan datang, Salsa mulai melancarkan siasatnya. Ia menatap Rahmad lekat-lekat, memainkan peran sebagai wanita yang hanya lelah, bukan benci.
"Kamu tahu kan alasan utamaku minta putus?" pancing Salsa pelan.
"Karena aku belum mapan? Karena pendidikanku tidak setara denganmu?" jawab Rahmad sinis.
"Itu salah satunya. Tapi coba kamu ingat, dulu kamu janji mau melamarku, kan? Faktanya, keluargamu tidak ada yang setuju. Adat kalian melarangmu melangkahi kakak-kakakmu. Kamu anak bungsu, empat kakakmu belum menikah! Berapa tahun lagi aku harus melayanimu tanpa ikatan? Lima tahun? Sepuluh tahun? Tanpa jaminan apa-apa!" ucap Salsa, setengah berakting, setengah meluapkan rasa frustrasinya.
Rahmad terdiam.
"Kamu cuma bisa berjanji, Mad. Buktinya nol. Lebih baik aku dengan orang lain daripada menunggu hal yang tidak pasti!"
"Biarpun kamu pacaran sama orang lain, aku akan kejar kamu sebelum kamu nikah!" ancam Rahmad.
"Silakan. Tunjukkan sebesar apa usahamu!" tantang Salsa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Terlarang ( Kisah Nyata)
Non-FictionKisah Nyata Cerita ini terbit karena sebuah pengalaman cinta yang begitu indah namun berakhir dengan cara yang menyakitkan. Kisah ini berawal dari seorang perempuan bernama sebut saja ( salsa ) dan nisa. Semua dimulai dari hal yang tidak terduga y...
