We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Mati Rasa

2 1 0
                                        

Sejak kecil aku terbiasa diam. Membisu disaat yang lain membicarakan masa depanku. Menurut disaat yang lain sibuk menuntutku untuk melakukan semua yang mereka mau. Dan perlahan... mereka menumpahkan ambisinya padaku.

Aku yang baru saja datang untuk makan malam bersama, langsung di sambut oleh seorang wanita parubaya yang sudah sampai lebih dulu di ruang makan. Wanita itu adalah ibuku.

"Duduk lah, sebentar lagi makanan siap" ucapnya.

Aku melihat ke arah dapur yang langsung terhubung ke ruang makan, terlihat bibi yang tengah memasak untuk kami disana. Namun, orang yang sebenarnya aku cari tak ada dimana pun. Kemana dia?

"Bun, kakak mana?" tanyaku,

Tak perlu waktu lama untuk menunggu makan malam siap, bibi dengan telaten menata makanan di atas meja.

"Katanya hari ini ada kelas tambahan di sekolah, jadi akan pulang malam" jawab bunda dengan tangan yang sibuk menghidangkan makanan ke atas piring. Aku hanya ber 'oh' ria setelah mendengar jawabannya. Ya, mungkin karena ini tahun terakhir Arka di SMA jadi dia sedikit sibuk.

Bunda menyodorkan sepiring nasi lengkap dengan lauk-pauknya kepadaku, tanpa berkata aku langsung menerimanya.

"Dek, sekarang kamu udah lulus SMP, kan?" ucapnya di tengah acara makan malam ini. Aku yang mendengarnya sejenak terdiam dan kembali melanjutkan kegiatan makanku.

".... Setelah ini kamu masuk SMA yang sama dengan Arka ya. Kalau bisa jurusan yang sama pula, peluang pilih jurusan kuliah lebih banyak loh kalau kamu ambil IPA. Oh iya, nanti bunda daftarin kamu juga buat les ya, ditempat yang biasa Arka les aja. Banggakan bunda dengan kesuksesanmu. Kau harus sukses anakku," ucapnya dengan semangat.

Dalam diam aku tatap dirinya. Apa hidupku harus selalu di atur oleh nya? Apa mimpiku harus selalu beliau yang tentukan? Bisa kah aku memilih jalanku sendiri? Bahkan jika memungkinkan aku ingin istirahat. Sebentar saja. Aku lelah... Aku lelah dengan semua tuntutan yang dia berikan.

"Aku udah kenyang. Makasih makanannya, Bi..." dapat kulihat senyum bibi sebagai balasan tanda terima kasihku. Sebelum akhirnya pandanganku beralih kepada ibu.

"Bu, aku ke kamar duluan ya" ujarku setelah napsu makanku hilang begitu saja.

Setiap kali beliau membicarakan kesuksesan, aku selalu bingung kesuksesan seperti apa yang beliau maksud? Kesuksesan seperti apa yang beliau mau? Bahkan jika aku mengabulkannya, apakah itu akan cukup? Entah mengapa naluriku berkata beliau masih akan terus merasa haus. Kenapa harus aku... Kenapa harus aku yang menanggung kesuksesannya itu?!

-

Sejak kecil aku terbiasa menutup telinga, tuli dari hal-hal yang tak ingin aku dengar. Tuli dari hal-hal yang membuat otakku berteriak meminta pertolongan. Jeritan, tangisan yang terdengar sampai gendang telingaku ingin pecah. Aku tuli karenanya.

Malam itu pertama kalinya Arka membawa seorang wanita ke rumah dengan keadaan yang tak baik-baik saja. Penampilan yang berantakan serta bau alkohol yang menyeruak memenuhi ruangan membuat bunda yang melihat itu tercengang. Sedangkan aku hanya diam melihat aksi Arka yang tak biasa. Malam itu menjadi batas akhir dari kesabaran Arka terhadap sang ibu.

Dia yang mulai muak kini berani menentang yang berkuasa. Menjadi pemberontak yang memperjuangkan takdir yang ingin ia genggam oleh tangannya sendiri.

"Dek, masuk ke kamar. Sekarang!" setelah mendengar titahnya aku langsung pergi menuju kamar.

Kamarku tak jauh dari ruang tamu, jadi meskipun aku masuk suara mereka pasti masih bisa aku dengar. Maka dari itu, aku memakai earphone dengan harapan agar keributan yang akan datang tak bisa aku rasakan.

Dikara CintaStories to obsess over. Discover now