01. Putus

32 4 0
                                        

Cuplikan AU

“Kita putus!”

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

“Kita putus!”

Pemuda mengenakan jaket hitam yang dipadukan dengan kaos oblong putih dan jeans biru berdiri di depan Natasha yang menatapnya dengan wajah sendu.

“Aku nggak mau putus!” seru Natasha.

“Lo nggak punya pilihan. Kita harus putus,” jawab pria bernama Gavin itu.

“Kenapa?” tanya Natasha.

“Karena Marissa hamil. Gua harus tanggung jawab,” ungkap Gavin enteng.

“TEGA YA LO! Kenapa lo harus hamilin dia? Gue sayang sama lo!!”

“Itu karena lo nggak bisa dipake! Makanya jangan sok suci jadi cewek! Kalo gue pengen tuh diturutin. Sekarang nyesel kan lo?” tampik Gavin.

Natasha terdiam, kepalanya menunduk. “Gue yang salah. Salah karena mikir lo tulus sama gue. Nyatanya lo sama aja kayak bokap gue,” tuturnya.

“Tuh lo tahu. Lagian anak yang papanya punya riwayat selingkuh pasti bakal dapet cowok tukang selingkuh juga. Dan satu lagi, semua cowok di muka bumi ini selingkuh,” ucap Gavin.

Natasha mendongak, matanya berlinang air mata dan tampak memerah. “Lo salah. Ada laki-laki setia tapi bukan lo maupun bokap gue.”

Natasha berbalik, membelakangi Gavin. “Semoga anak lo nanti ngerasain penderitaan yang sama,” ucapnya.

Natasha melangkah menjauh, meninggalkan Gavin yang menyeringai lebar memandangi kepergiannya.

**

Natasha berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar dengan hati hampa. Tangannya terulur, menutupi cahaya lampu yang menyinari wajahnya.

“Di kehidupan yang panjang ini gue harus ngerasain berkali-kali dikhianati, bahkan sama papa gue sendiri.”

Natasha menghela napas, air mata menetes mengenai seprai kasur. Perlahan tubuhnya bangkit, dan melangkah menuju kaca. Dia mematung, meratapi pantulan dirinya.

Ceklek!

Pintu terbuka, seorang pemuda berwajah tampan dengan tubuh tinggi berdiri di ambang pintu.

“Dek, makan dulu. Sekalian ada yang mau diomongin sama si kakek,” ucap Damar—abang kandung Natasha.

“Oke,” ucap Natasha singkat.

Natasha berjalan lunglai melewati Damar yang mengernyit kebingungan.

Napa tuh bocah? Tumben lesu banget.
Damar berjalan mengikuti adiknya yang tampak seperti mayat hidup.

***

“Malam ini ada yang mau kakek bicarain sama Nata,” ucap Darsono.

“Bicarain apa sih?” tanya Natasha.

Tangannya sibuk memainkan pisau daging, lalu melahap potongan kecil daging itu dengan malas.

“Kakek mau nikahin kamu sama cucunya sahabat kakek. Namanya Arga Sonohara,” jawab Darsono.

Seketika minuman soda muncrat dari mulut Damar. “NIKAH? Nata masih kecil, kek. Damar aja belum nikah. Masa Nata disuruh nikah?” protesnya.

“Nggak sopan kamu, Damar! Emangnya kenapa kalau menikah muda? Dulu Mama kalian juga nikah muda,” ucap Darsono dengan suara meninggi.

“Tapi ujung-ujungnya cerai kan. Kakek mau nasib aku kayak Mommy? Kakek tuh kenapa kuno banget sih? Mommy jadi janda gara-gara kakek salah pilih mantu. Andai kakek nggak jodohin Mommy pasti dia nggak jadi janda dengan anak dua,” tutur Natasha.

“Berani banget kalian ngelawan kakek, kalian lupa? Selama ini kakek yang biayain hidup kalian!” pekik Darsono.

“Jadi kakek mau ungkit-ungkit biaya hidup kita? Yang jodohin Mommy sama cowok brengsek siapa? Kakek kan? Kalo Mommy dan si brengsek itu nggak nikah, kita nggak usah repot-repot lahir dan numpang hidup,” sahut Damar.

“CUKUP DAMAR! CUKUP! Jangan bilang gitu ke kakek. Beliau udah tebus kesalahannya dengan biayain hidup kita,” ucap Ningsih—ibu mereka.

“Tapi dia nggak ikhlas, Mom! Buktinya dia jodohin Natasha sama cowok yang bahkan kita sendiri nggak tahu wujudnya. Gimana kalo dia jahat? Emangnya si tua bangka ini bisa mastiin adek aku hidup bahagia?” tanya Damar.

Ningsih membisu, ucapan anak sulungnya memang benar. Tak ada yang bisa menjamin kebahagiaan setelah pernikahan, bagaimana jika putrinya mengulang kisah yang sama?

“Keputusan ada di tangan, Natasha. Tapi percayalah, kakek lakuin ini karena Arga sangat pantas jadi menantu cucu kakek.” Darsono menatap Natasha yang sejak tadi diam tak bergeming.

“Aku masih SMA kelas 11, Kek. Gimana dengan sekolahku?” tanya Natasha.

“Kamu tetap bisa sekolah. Dan Arga juga akan satu sekolah sama kalian,” ungkap Darsono dengan suara lembut.

Natasha melirik Damar yang wajahnya memerah karena tersulut emosi. Lalu, ia menatap ibunya. “Kalo itu emang pilihan terbaik, aku mau.”

Darsono menyeringai lebar, dia bangkit, lalu berjalan mendekati Natasha. Perlahan tubuh bungkuknya memeluk Natasha. “Terima kasih, Nak. Kamu memang cucu terbaik kakek.”

Tak ada jawaban, suasana di ruang makan menjadi hening dan dingin. Damar mendorong kursi, bangkit, dan berjalan meninggalkan ruangan itu.

~~

Halo, gaess. Novel ini juga tersedia dalam bentuk AU. Yuk baca di Tiktok ini

Jangan sampai ketinggalan, nanti kalian nyesel nggak baca versi chat story nya yang jauh lebih seru 🥰😘😘😘

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Jangan sampai ketinggalan, nanti kalian nyesel nggak baca versi chat story nya yang jauh lebih seru 🥰😘😘😘

Suami Pilihan KakekStories to obsess over. Discover now