Bab 1 Orang Orang Sisilia

113 9 5
                                        

(East Bay, Amerika Serikat - 09 November 1923)

​Pagi itu, udara di kota East Bay terasa begitu menggigit tulang. Hujan deras yang menghantam sepanjang malam telah menyisakan genangan air dan jalanan berlumpur di mana-mana.

​Sangat wajar jika sebagian besar warga enggan beranjak dari balik selimut mereka—terlebih lagi, ini adalah hari libur.

​Namun, kemewahan bermalas-malasan itu tidak berlaku bagi Michael Romano. Di usianya yang baru menginjak sebelas tahun, bocah pengantar koran itu sudah harus memacu sepeda berkaratnya, membelah dinginnya kabut pagi.

​Meski tubuh mungilnya menggigil, kayuhan kakinya tak pernah berhenti. Mantel lusuh, topi apollo di kepala, dan selendang rajut buatan sang ibu menjadi satu-satunya tameng untuk menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

​Dari distrik ke distrik, roda sepedanya terus berputar, mengantarkan gulungan koran pagi ke setiap rumah pelanggan. Bukan rutinitas yang cepat dan mudah bagi seorang anak laki-laki. Ia bahkan sudah menyusuri jalanan sejak pukul lima pagi—tepat saat sebagian besar warga East Bay masih meringkuk hangat dalam mimpi-mimpi mereka.

​Menjelang pukul sembilan pagi, awan mendung masih menggantung rendah di langit East Bay, menghalangi sang surya membagikan kehangatannya. Meski begitu, denyut aktivitas warga kota perlahan mulai terlihat.

​Di sudut lain kota, kayuhan sepeda Michael akhirnya melambat. Ia tiba di depan sebuah mansion megah yang terletak di distrik St. Seven Village—kawasan perbukitan elite yang dipenuhi oleh deretan hunian mewah.

Laju sepeda Michael terhenti di depan gerbang mansion. Di sana, tiga pria berpenampilan rapi tengah menghabiskan waktu. Mereka mengenakan topi fedora dan mantel panjang formal yang menutupi setelan jas single-breasted. Mereka sedang duduk di kursi mengelilingi sebuah meja lipat di samping gerbang, bertaruh dalam permainan poker.

​Begitu menyadari kehadiran si loper koran cilik, salah satu dari mereka meletakkan kartunya. Pria itu bangkit mendekat.

​"Hei, Nak. Koran pagi hari ini?" tanyanya pelan. Ia merogoh saku dalam mantelnya, mengeluarkan sebatang rokok, lantas menjepitnya di antara bibir sambil menunggu Michael menyerahkan koran tersebut.

Terdengar bunyi pemantik, disusul nyala api kecil yang menyulut ujung rokok tersebut. Pria itu mengisapnya dalam-dalam sebelum mengembuskan asap kelabu pekat yang berbau menyengat ke udara dingin.

​"Tentu, Tuan Enzo. Banyak berita besar pagi ini. Kemarin polisi melakukan penggeledahan besar-besaran, berita itu ada di halaman utama," jawab Michael seraya turun dari sepedanya. Tangan mungilnya merogoh keranjang depan, menarik satu-satunya gulungan koran yang tersisa.

​Pria itu adalah Enzo Banosera, pemuda dua puluh dua tahun yang mengaku hanya bekerja sebagai pengawal keamanan mansion. Namun, dari rutinitasnya mengantar koran selama beberapa bulan terakhir, Michael tahu bahwa Enzo dan belasan pria berjas rapi yang selalu berjaga di gerbang ini bukanlah sekadar penjaga biasa.

Sepanjang mengantar koran ke sini, belum sekalipun Michael berpapasan dengan si pemilik rumah maupun keluarganya.

​Bocah itu hanya bisa menerka-nerka bahwa sosok yang tinggal di balik tembok tinggi mansion ini pastilah seorang taipan atau konglomerat kaya raya yang sangat menjaga privasinya.

​"Ini korannya, Tuan," ucap Michael seraya menyodorkan gulungan kertas tersebut. Enzo menerimanya dengan sebelah tangan, sementara tangannya yang lain merogoh saku mantel.

​"Hei, Nak. Anggap saja ini uang tip dariku," ucap Enzo. Dengan santai, ibu jarinya menjentikkan koin lima puluh sen itu ke udara.

​Koin itu melambung, berputar memantulkan cahaya pagi yang redup. Dengan refleks yang mengagumkan untuk anak seusianya, tangan mungil Michael menyambar koin itu di udara tanpa meleset sedikit pun.

La Cosa NostraHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora