We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Pertemuan

168 21 7
                                        

Langkah kaki mungil Jungkook bersemangat menapaki koridor taman kanak-kanak pagi itu.

Di sampingnya, Kim Seokjin menuntun sang putra dengan senyum lembut yang menenangkan.

Bagi Seokjin, Jungkook adalah segalanya一pusat gravitasinya sejak kehilangan sosok pendamping hidupnya beberapa tahun lalu akibat sakit. Sebagai seorang pria yang pernah membina rumah tangga bahagia bersama seorang carrier, kepergian Yoongi meninggalkan ruang hampa yang amat dalam, yang selama ini coba ia isi penuh hanya untuk tumbuh kembang Jungkook.

"Appa, lihat! Banyak mainan!" seru Jungkook riang saat salah satu pintu kelas preschool dibuka.

"Ingat pesan Appa, ya? Jadi anak yang baik dan jangan berebut mainan," bisik Seokjin sembari berlutut dan merapikan kerah baju anaknya sebelum melepasnya masuk.

Lalu di sudut ruangan yang hangat, seorang anak laki-laki lain berwajah menggemaskan sedang duduk merangkai balok kayu.

Itu adalah Jung Jimin.

Melihat kedatangan murid baru, Jimin segera saja mendongak dan memberikan senyuman manis hingga matanya menyipit membentuk bulan sabit.

"Hai! Namaku Jimin. Mau main balok sama aku?" sapa Jimin dengan ramah.

Jungkook yang dasarnya ceria dan supel langsung mengangguk mantap. "Salam kenal, aku Jungkook!"

Dalam hitungan menit, canggung di antara mereka telah lebur. Dunia preschool yang baru bagi Jungkook mendadak terasa jauh lebih menyenangkan berkat kehadiran Jimin.

Menjelang siang, jam pulang sekolah pun akhirnya tiba.

Seokjin telah berdiri di luar kelas bersama beberapa orang tua murid lainnya, menunggu sang buah hati selesai membereskan tas.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, sosok pria berpostur tinggi namun beraut wajah canggung melangkah mendekat.

Pria itu adalah Kim Namjoon, papa dari Jimin.

Namjoon adalah seorang pria carrier yang membesarkan Jimin sendirian setelah berhasil keluar dari pernikahan beracun. Mantan suaminya一seorang manajer hotel yang terpandang di mata publik一memiliki sifat temperamental dan kerapkali melakukan kekerasan fisik maupun verbal di balik pintu rumah mereka.

Luka traumatik itu pun membuat Namjoon menjadi cenderung tertutup, bersikap hati-hati, dan memprioritaskan keselamatan serta kebahagiaan Jimin di atas segalanya.

"Appa!"

Suara lengkingan ceria Jungkook memecah lamunan kedua pria dewasa itu. Tampak Jungkook yang berlari keluar sembari menggandeng erat tangan Jimin.

"Appa, lihat! Ini Jimin, teman baruku! Kita tadi bikin istana balok bareng!" pamer Jungkook dengan bangga sambil mendongak menatap Seokjin.

Sontak Seokjin tertawa pelan, membelai kepala putranya sebelum mengalihkan pandangan ke arah anak di sebelah Jungkook, lalu menatap pria dewasa yang berdiri tepat di sisi anak itu.

"Ah, halo ... aku Seokjin, Appa-nya Jungkook," sapa Seokjin penuh kehangatan sembari mengulurkan tangannya dengan gestur sopan dan tenang.

Namjoon sempat terpana sejenak. Aura Seokjin terasa sangat hangat dan dewasa, tanpa ada kesan mengintimidasi sama sekali一sesuatu yang jarang Namjoon rasakan dari pria dominan di dalam hidupnya.

Maka dengan sedikit ragu, Namjoon membalas uluran tangan itu.

"Aku Namjoon, Papanya Jimin. Terima kasih sudah ramah. Jimin keliatannya senang sekali karena punya teman baru hari ini," jawab Namjoon pelan dengan senyum tipis yang memunculkan lesung pipi menawan.

Serendipity [JinNam]Stories to obsess over. Discover now