"Aku tidak mau Ravena mendengar atau mengetahui apa pun tentang perempuan itu. Biarkan masalah ini menjadi urusan keluarga kita saja, dan aku yang akan membereskannya," ucap Anton dengan suara rendah namun penuh penekanan. Meski tubuhnya masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, wibawa seorang kepala keluarga tetap terpancar dari sorot matanya.
"Lalu dari mana kamu tahu tentang wanita itu... tentang Lalita?" tanya Yosika. Keningnya berkerut, rasa penasaran perlahan berubah menjadi kegelisahan.
"Aku mendengarnya saat Dorian menemui Kenan tadi. Ada yang menyebut nama Lalita." Anton terdiam sejenak. Tatapannya menerawang ke luar jendela, seolah mengulang kembali setiap potongan kejadian yang masih segar di kepalanya. "Aku yakin Kenan masih bersama wanita itu."
Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan.
"Bahkan aku masih ingat apa yang dikatakannya di bandara. Dia bilang sengaja menyembunyikan perempuan itu karena tahu aku pasti akan mencarinya."
Kalimat terakhir itu terasa seperti pisau yang kembali mengoyak dadanya.
Refleks, Anton menekan dadanya dengan telapak tangan. Napasnya menjadi sedikit berat. Bukan hanya karena rasa nyeri akibat penyakitnya, tetapi juga karena beban pikiran yang terasa jauh lebih menyiksa.
Melihat perubahan itu, Yosika langsung menghampiri. Ia menggenggam tangan suaminya erat-erat, wajahnya dipenuhi kecemasan.
"Kamu jangan memikirkan perempuan itu dulu. Fokus saja sampai kondisi kamu benar-benar pulih." Suaranya terdengar lembut, tetapi penuh keyakinan. "Biarkan aku yang membereskan perempuan bernama Lalita itu. Akan kubuat dia merangkak menjauh dari putra kita."
Anton membalas genggaman tangan istrinya sedikit lebih kuat. Isyarat kecil itu bukanlah bentuk persetujuan, melainkan peringatan.
Ia mengenal Yosika lebih baik daripada siapa pun.
Sekali istrinya menganggap seseorang sebagai musuh, tidak akan ada belas kasihan yang tersisa.
"Masalahnya bukan hanya ada pada perempuan itu," ucap Anton perlahan. "Masalahnya juga ada pada putra kita sendiri."
Tatapan Yosika mulai berubah.
"Karena itu, aku minta kamu tidak perlu membelanya ataupun ikut campur menyelesaikan masalah ini. Kamu cukup tahu... dan menunggu."
"Tapi sebelumnya Kenan tidak pernah seperti ini!" sangkal Yosika tanpa mampu menyembunyikan emosinya. "Dia selalu menjaga nama baik keluarga kita. Dia tidak pernah membuat masalah, apalagi sampai terlibat skandal dengan wanita murahan seperti itu."
Anton memejamkan mata sesaat.
"Ada waktunya seseorang berubah karena berbagai alasan... bahkan tanpa pernah kita duga." Ia membuka matanya kembali dan menatap lurus ke arah istrinya. "Atau mungkin... selama ini kita hanya mengenal sosok Kenan yang ingin dia tunjukkan kepada kita, bukan dirinya yang sebenarnya."
Ucapan itu membuat ruangan mendadak sunyi.
Yosika menggigit bibir bawahnya. Namun, sedikit pun keyakinannya tidak goyah.
Dalam benaknya, Kenan tetaplah putra yang sempurna.
Sebaliknya, Lalita adalah akar dari semua kekacauan yang terjadi. Perempuan itulah yang telah merusak putranya, mencoreng nama keluarga Hausten, sekaligus mengancam masa depan yang telah mereka susun dengan begitu rapi.
"Aku sangat mengenal putraku." Nada suara Yosika terdengar dingin sekaligus penuh keyakinan. "Dan akan kuhancurkan perempuan itu kalau dia tidak segera menjauh dari putraku."
"Aku sudah bilang, kamu tidak perlu melakukan apa pun!"
Suara Anton meninggi untuk pertama kalinya.
Nada tegasnya langsung memenuhi ruangan, mengembalikan wibawa seorang kepala keluarga yang selama ini tak pernah terbantahkan.
YOU ARE READING
Secret
Romance"Jangan gunakan bibirmu ini untuk membantah, apa lagi menghina saya seperti yang pernah kamu lakukan sebelumnya." Lalita hanya terdiam. Air mata kepasrahan mengalir perlahan dari sudut matanya, membasahi bantal sutra hitam di bawah kepalanya. Ego...
