We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PROLOG

63 26 23
                                        

THE FOOL

...Langkah pertama bukan tentang tahu ke mana arah akan membawamu, melainkan tentang berani menjadi orang yang belum kau kenal...


Ada legenda yang diceritakan turun temurun oleh para imagist tua di gunung asterion. Bahwa dunia ini pernah utuh.

Sebelum langit retak menjadi serpihan-serpihan Arcana yang tak lagi memiliki seorang pemilik. Tak seorang pun tahu kapan bencana itu terjadi. Tak ada catatan yang mampu menjelaskan penyebabnya. Bahkan kitab-kitab tertua hanya menyebutkan sebagai Hari Ke-retakan, hari ketika langit terbelah dan sesuatu yang tak kasat mata jatuh ke setiap jiwa manusia.

Para tetua menyebut serpihan itu Arcana. Bukan sebagai kutukan bukan pula anugerah melainkan kemungkinan. Sejak hari itu, setiap manusia lahir membawa satu benih Arcana di dalam dirinya. Sebagian menemukannya saat masih anak-anak. Sebagian lagi baru menyadarinya ketika hidup memaksa mereka berubah. Dan tak sedikit yang kehilangan dirinya sendiri tanpa pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan beberapa orang menjalani hidup tanpa menyadari Arcana apa yang bersemayam di dalam dirinya.

Namun Hans bukan salah satu dari mereka.

Ia sudah tahu jawabannya sejak usia tujuh tahun, ketika Elder Orion pertama kali menaruh tangan di dadanya dan berkata, dengan nada yang lebih mirip peringatan daripada pujian, bahwa anak ini membawa dua arcana sekaligus. Satu yang terlihat, dan satu yang bersembunyi begitu dalam hingga Elder Orion sendiri butuh bertahun-tahun untuk yakin ia tidak salah lihat.

Sepuluh tahun berlalu sejak hari itu. Dan pagi ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah panjang kuil di puncak Gunung Asterion. Gerbang batunya akan terbuka bukan untuk menyambut seseorang pulang. Melainkan untuk melepaskan seseorang pergi.

Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang menunggu di luar sana.

Bukan karena dunia di bawah gunung itu belum dipetakan. Peta tersimpan rapi di perpustakaan kuil, digambar oleh ratusan pengembara sebelum Hans.

Yang tidak terpetakan adalah sesuatu yang lain, Retakan di langit yang setiap tahun seperti tanaman yang dapat tumbuh ia melebar sedikit demi sedikit, dan sebuah kesadaran purba di baliknya yang entah kenapa, para tetua semakin sering menyebutnya dalam bisikan yang buru-buru mereka hentikan begitu ada anak kecil lewat.

Hans tidak tahu apa yang menantinya.

Ia hanya tahu pagi ini, jauh sebelum matahari sepenuhnya terbit, ia dibangunkan bukan oleh lonceng kuil seperti biasa. Melainkan oleh mimpi yang sama, yang selalu ia dapatkan sejak seminggu terakhir. Mimpi tentang sepasang mata raksasa yang membuka perlahan di balik langit retak, seolah menunggu sesuatu untuk terjadi.

Ia belum tahu bahwa mimpi itu bukan sekedar mimpi.

Langkah pertamanya keluar gerbang kuil pagi ini. Langkah yang terasa begitu kecil, dan begitu biasa, akan menjadi awal dari sesuatu yang perlahan namun pasti. Yang mana dua puluh dua Arcana kemudian, mungkin tidak akan pernah bisa ia hentikan lagi.

Tapi pagi ini, ia hanya berdiri di ambang gerbang, menatap kabut yang menyelimuti kaki gunung tempat ia berada, tanpa tahu apapun tentang apapun yang menunggu di sana.

...Setiap perjalanan besar selalu dimulai dengan langkah yang tampak kecil. Yang tidak diketahui siapapun di pagi itu adalah langkah kecil yang akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan siapa pun. Termasuk oleh Hans sendiri...

SHARCANUM Volume I: Before the Heavens' JudgmentStories to obsess over. Discover now