1. Sein

5 1 1
                                        

Jam pulang kerja tidak pernah berpisah dari kemacetan. Kafa bersiul santai, mengemudikan mobilnya berbelok keluar dari jalur padat. Tujuannya sore ini adalah untuk bertanding futsal dengan Tim SMANSA, dan ia memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan SMA Darta sebagai pemenang mutlak festival futsal tahunan.

Di tengah perjalanannya, Kafa melihat perempuan berseragam SMP berjalanan berlawanan arah darinya, menangis sambil memegangi perut dan rok belakangnya. Ia penasaran dan kasihan sehingga menepikan mobilnya.

"Kamu kenapa, dek?" tanya Kafa seetelah menghampiir gadis itu.

Gadis itu berhenti menangis dan menatap Kafa takut. sengguk tertahan masih tersisia di sela nafasnya.

"It's okey. Jangan takut, gue bukan orang jahat, kok," imbuhnya

Gadis itu tak kunjung menjawab, atau mungkin tak tau bagaimana menjawabnya.

Kafa erpikir keras, mengamati gadis itu yang erus memegangi rok belakangnya dan berspekulasi. "Kamu lagi mens terus bocor, ya? Mau aku pinjemin jaket?"

Gadis itu menggeleng. Kafa akhirnya mengajak duduk gadis itu di bangku panjang pinggir jalan. KAfa duduk, tetapi gadis di depannya kukuh berdiri.

"Kamu kenapa?" tanya Kafa sekali lagi.

"Aku diusir Tante." Ia akhirnya buka suara.

Kafa terkejut sedikit."Terus ini kamu mau ke mana?" tanyanya.

"Enggak tahu ..." lirih gadis itu.

Kafa mengelus bahunya, lalu berkata, "Ya udah, ikut gue aja. Oh iya, nama kamu siapa?"

"Sein."

KAfa mengangguk-angguk. Lalu menuntun Seinn masuk ke mobil. Namun, ia menyadari sesuatu. "Kenapa megangin rok terus?"

Sein menahan tangis dan menjawab pelan, "Roknya digunting Tante, sama bajunya."

"AStaga. Gue ada baju sama celana di mobil," Kafa mengambilnya dan mengulurknanya pada Sein, "Pake, gih, di mobil."

Kafa membelakangi mobilnya menunggu Sein ganti baju. Di dalam, Sein sangat hati-hati supaya tubuhnya selalu tertutup kain. Hatinya terus merapal semoga laki-laki yang dijumpainya adalah orang baik dan tidak membuatnya semakin menderita dalam hidupnya.

Setelah Sein selesai, Kafa masuk dan mulai mengemudikan mobilnya. Di tengah perjalanan, ia membuka percakapan.

"Ini gue mau futsal dulu, ya. Baru abis itu pulang ke rumah."

Sein mengangguk tipis.

"Btw sekolah di mana lo?" tanya Kafa.

"Di SMP 8."

"Pindah ke Darta aja, bagusan Darta, tau. Gue juga sekolah di Darta," ajak Kafa.

Sein menatap Kafa dengan mata membulat. "SMP Darta kan mahal, Kak."

Kafa berdecak. "Masih kecil mikirin duit. Belajar aja yang bener."

Sein menunduk sambil memilin ujung kaos Kafa yang dipakainya.

***

Kafa melepas sabuk pengamannya setelah sampai di Gedung Olahraga (GOR) tujuannya. Matanya menatap Sein dan bertanya, "Udah makan?"

Sein menggeleng.

"Nanti makan, ya. Ada kok yang jualan depan lapangan futsal," kata Kafa.

Mereka berdua melangkah memasuki GOR dan tampaklah sebuah sudut yang terdapat beberapa outlet jajanan. Kafa menunjuk ke arah tersebut.

"Nah, ke kantin, tuh. Nanti bilang aja Kafa anak Darta yang bayar."

Sein mengangguk. Ia pun memisahkan diri dari Kafa yang pergi menghampiri teman-temannya. Untung saja Sein lumayan tinggi, pakaian Kafa pun tidak terlalu kebesaran di badannya. Begitu sampai di kantin, gadis itu menuruti Kafa. Memesan, lalu mengatakan pesanannya akan dibayar oleh Kafa dari SMA Darta.

Penjual merespon dengan baik. Toh, ini bukan pertama kalinya. Sebelumnya pun beberapa kali anak-anak SMA yang mengunjungi GOR ini mengatakan bahwa Kafa dari Darta yang akan membayarnya.

Setelah memesan seporsi nasi ayam goreng, Sein duduk di bangku paling pojok. Lalu seorang pemuda menghampirinya.

"Lo cewenya Kafa?" tanya cowok itu.

Sein mendongak menatap cowok putih bermata sipit dan berkacamata itu. "Engga, bukan," jawab Sein sambil mengangkat tangan dan menggoyangkannya cepat. Tidak mau disalah pahami.

Cowok itu mengangguk-angguk, tetapi sorot matanya mengatakan bahwa ia tidak percaya. Kemudian, cowok itu pergi begitu saja.

Di sisi lain, Kafa yang sedang mengganti pakaian santainya menjadi jersey, tiba-tiba teringat betapa absurd ia tadi. Cowok itu mengajak bicara Sein dengan pilihan kata yang berbeda-beda. Suatu dialog memakai aku-kamu, dialog lain memakai lo-gue.

Baiklah. Sepertinya memakai lo-gue lebih baik dan tidak terlalu kaku.

***

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 08 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

KafeinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang