Bagi Adrian, hidup bersama Kaira selama mungkin adalah satu-satunya janji yang diam-diam sudah ia pegang bahkan sebelum ijab kabul mengikat mereka tiga tahun lalu. Menjadi tua bersama, tetap sehat, lalu tetap bisa berjalan berdampingan dengan perempuan itu sampai rambut mereka sama-sama memutih, selalu terdengar sebagai cita-cita yang jauh lebih sederhana dibanding apa pun yang pernah ia bayangkan tentang pernikahan. Karena itulah, sejak dua tahun masa pacaran hingga hari ini, Adrian tidak pernah benar-benar melewatkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang menurutnya membuat tubuh tetap bekerja sebagaimana mestinya. Berlari setiap pagi adalah salah satunya.
Mazda CX-5 merah miliknya berbelok pelan memasuki Jalan Barito sebelum akhirnya berhenti di deretan parkir yang menghadap gerbang Taman Langsat. Sejak kawasan itu selesai direnovasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, banyak orang mulai menyebutnya Taman Bendera Pusaka. Namun bagi Adrian dan Kaira, tempat itu tetap saja Taman Langsat. Nama yang sudah terlalu lama mereka kenal untuk diganti begitu saja.
Adrian lebih dulu turun. Pakaian larinya sudah lengkap sejak berangkat dari rumah. Ia mematikan mesin, mengambil botol minum dari konsol tengah, lalu mengitari bagian depan mobil sebelum berhenti di sisi penumpang. Kaira baru saja keluar sambil menjepit sebuah novel di bawah lengan. Sampulnya sudah sangat dikenalnya. Novel yang sama. Novel yang bahkan sudah dibaca Kaira berkali-kali sejak masih berupa naskah mentah di laptop, jauh sebelum akhirnya dicetak dan dikirim ke toko buku. Adrian menggeleng kecil sambil tersenyum.
"Kamu baca itu lagi?"
Kaira menutup pintu mobil dengan siku karena kedua tangannya penuh.
"Iya."
"Belum bosen?"
"Belum."
"Kamu kan editornya."
"Makanya."
"Lho?"
"Waktu jadi editor aku nyarinya salah," Kaira mengangkat buku itu sedikit. "Sekarang aku lagi baca sebagai pembaca."
Adrian mengangguk pelan. Jawaban itu terdengar sangat Kaira. Mereka mulai berjalan meninggalkan area parkir menuju gerbang taman. Udara pagi masih menyimpan sisa embun, sementara beberapa pelari sudah lebih dulu memutari lintasan yang dinaungi pohon-pohon besar.
"Kamu yakin enggak mau nunggu aku di Delapan Belas aja?" tanya Adrian.
Kaira menoleh, lalu bersuara, "Kenapa?"
"Lebih enak. Ada AC, ada kopi. Daripada duduk di taman."
Delapan Belas adalah kedai kopi tepat di seberang gerbang. Bangunannya tidak besar, tetapi hampir seluruh sisinya terbuka. Sebatang pohon beringin tua menaungi halaman depannya, membuat tempat itu teduh bahkan ketika matahari mulai tinggi. Kaira cukup sering menghabiskan waktu di sana, terutama jika menunggu Adrian selesai bertugas di RSUD Kebayoran Lama. Ia hampir selalu memilih duduk di lantai dua dekat jendela, memesan cranberry iced Americano favoritnya, lalu membuka laptop atau buku sambil menunggu jam pulang mereka bertemu.
Kaira menggeleng,"Enggak ah."
"Kenapa?"
"Nanti kamu bablas."
"Aku?"
"Iya."
"Kok aku?"
"Kamu tuh kalau udah lari suka lupa waktu. Kayak besok mau masuk pelatnas."
Adrian terkekeh.
"Lebay."
"Enggak."
"Panas, Sayang."
"Aku enggak apa-apa."
"Daripada nungguin aku, mending duduk di Delapan Belas."
"Aku mau di taman."
YOU ARE READING
Waiting a Little Sunshine
RomanceAdrian bisa menyelamatkan nyawa anak orang lain. Namun setiap kali Kaira membayangkan seorang anak di antara mereka, Adrian selalu mengubah pembicaraan. Kaira mengira suaminya hanya tidak pandai bersikap romantis. Padahal, ada satu ketakutan yang ta...
