Gedung berlantai lima belas itu berdiri megah dengan dominasi kaca gelap dan arsitektur modern yang dingin. Aethelgard Medical Center, rumah sakit swasta kelas atas dengan belasan cabang yang tersebar di kota-kota besar. Tempat di mana reputasi kesembuhan pasien berada di tingkat 99 % ,karena di balik dinding sterilnya, ada aturan ketat yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun.
Termasuk oleh mahasiswi akuntansi tingkat akhir seperti Selena.
"Nih, berkas laporan keuangan kuartal kedua untuk divisi logistik alat medis," ujar Kak Citra, pembimbing magangnya, sambil menumpuk dua folder tebal di atas meja Selena. "Inget ya, Selena. Kamu di sini cuma buat riset data audit. Jangan keluyuran ke area RS yang dilarang, terutama lantai sepuluh ke atas."
"Area RS VIP dan ruang operasi ya, Kak?" tanya Selena sambil merapikan kacamatanya.
"Bukan cuma itu. Itu area kekuasaan Pemilik Utama RS ini. Chief Executive sekaligus Dokter Spesialis Bedah terbaik se-Indonesia," bisik Kak Citra bergidik.
"dr. Dirga. Orang yang lebih milih memotong pembuluh darah dari pada membuang waktu buat ngobrol sama staf biasa."
Selena mengangguk paham. Sudah Seminggu ia menjalani magang penelitian akuntansi di RS ini, tapi nama dr. Dirga William selalu berhembus bagai legenda urban. Katanya, pria itu anti-gagal di meja operasi. Katanya, pria itu tidak punya empati dan bicara hanya seperlunya. Dan katanya... tidak ada satu pun staf yang berani berbicara basa basi di depan pria dingin itu.
Namun bagi Selena, dr. Dirga hanyalah sebuah nama abstrak di dokumen struktur organisasi. Lagipula, Selena tidak ada kepentingan untuk bertemu. Fokus utamanya hanya dua: menyelesaikan analisis laporan keuangan RS ini tepat waktu, dan menjauhi segala hal yang berbau darah serta peralatan medis.
Hanya membayangkan bau antiseptik yang terlalu tajam atau melihat jarum suntik saja sudah cukup membuat kepala Selena berputar hebat dan telapak tangannya berkeringat dingin. Itulah alasan kenapa ia memilih lantai tiga area divisi keuangan yang jauh dari bau rumah sakit pada umumnya.
"Selena, kamu bisa tolong cek lagi selisih angka di lembar pengadaan ini?Panggilan dari staf akuntansi lain membuyarkan lamunan Selena.
"Siap, Pak! Segera saya cek," sahut Selena ramah.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengenyahkan rasa kantuk yang mulai menyerang akibat menatap layar laptop dan tumpukan angka selama lima jam nonstop. Magang di RS raksasa ini memang penuh tekanan, tapi sejauh ini semuanya berjalan lancar. Selena tidak tahu saja bahwa ketenangannya di tempat ini hanya bertahan sampai jam makan siang nanti ,ketika rasa lapar dan secangkir teh hangat akan membawanya ke kantin RS.
Di balik pintu ganda bertuliskan Ruang Operasi Utama, suasana sunyi mencengkeram. Hanya terdengar detak konstan dari monitor tanda vital dan desis halus mesin respirator.
Di tengah ruangan steril itu, dr. Dirga berdiri tegak.
Tidak ada ketegangan di wajahnya, tidak ada peluh yang menetes berlebihan. Pria itu menatap area pembedahan di depannya dengan fokus yang luar biasa dingin. Bagi dokter bedah lain, prosedur rumit di dada pasien ini adalah mimpi buruk penuh risiko tinggi. Tapi bagi Dirga, organ-organ tubuh manusia tak ubahnya sebuah mesin dengan alur mekanis yang presisi.
"Pisau bedah," suara Dirga terdengar berat, datar, dan tanpa intonasi.
Asisten bedah di sampingnya dengan cekatan menyerahkan instrumen yang diminta. Jemari Dirga yang terbungkus sarung tangan steril bergerak dengan keahlian luar biasa. Setiap sayatan, setiap klem, hingga jahitan yang ia buat selalu diperhitungkan hingga hitungan milimeter.
ANDA SEDANG MEMBACA
MY POSSESSIVE DOCTOR
RomantikDokter Dirga William adalah penguasa mutlak RS Aethelgard ,sebuah rumah sakit berstandar internasional yang tersohor. Pria berkepala tiga ini dingin, berkuasa, dan amat irit bicara menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk mengembangkan cabang-caban...
