Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 1: Dunia yang Berhenti Berputar

200 13 0
                                        


Udara pagi itu terasa begitu segar, sama seperti janji manis yang baru saja diucapkan Kim Hanjin dua hari lalu. Di usianya yang baru menginjak 22 tahun, Hanjin memiliki daya pikat yang sulit diabaikan. Dengan tinggi badan 173 cm dan perawakan proporsional seberat 54 kg, pria berwajah tampan itu selalu memancarkan energi positif. Karirnya pun terbilang mapan untuk pemuda seusianya. Dia bekerja di sebuah perusahaan besar, tempat di mana takdir mempertemukannya dengan sang belahan jiwa.

 Dia bekerja di sebuah perusahaan besar, tempat di mana takdir mempertemukannya dengan sang belahan jiwa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Wanita itu adalah Choi Haerin, sosok yang kini telah resmi menjadi istrinya. Haerin bukan sekadar wanita
biasa; di balik parasnya yang luar biasa cantik dan anggun, dia adalah pemilik sekaligus bos besar di perusahaan tempat Hanjin bekerja. Dengan tinggi 170 cm dan berat 49 kg, penampilannya selalu terlihat elegan dan berwibawa, membuat siapa saja terpukau. Namun di mata Hanjin, Haerin tetaplah wanita lembut yang paling dicintainya. Masa depan mereka berdua tampak begitu cerah dan sempurna.

"Kau tahu, Haerin? Nanti kita akan pergi ke pantai, membangun rumah kecil, dan menghabiskan sisa hidup kita berdua," ucap Hanjin sambil menggenggam erat tangan istrinya, matanya berbinar penuh harapan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kau tahu, Haerin? Nanti kita akan pergi ke pantai, membangun rumah kecil, dan menghabiskan sisa hidup kita berdua," ucap Hanjin sambil menggenggam erat tangan istrinya, matanya berbinar penuh harapan.

Haerin tersenyum lembut, mengusap pipi suaminya. "Aku akan ikut ke mana saja kau pergi, Hanjin. Selamanya kita bersama."

Mereka baru saja menikah beberapa bulan lalu. Setiap hari terasa seperti mimpi indah, penuh tawa dan kasih sayang yang tulus. Tidak ada yang menduga, takdir sedang menyiapkan ujian terberat bagi kisah cinta mereka.
Hari itu, hujan turun cukup deras. Pandangan ke jalanan terhalang oleh kabut tipis dan rintik air yang rapat.

Hanjin berangkat sebentar menggunakan mobilnya untuk mengurus beberapa keperluan kerja, berjanji akan segera pulang ke rumah.

Di tengah perjalanan, hujan semakin lebat. Wiper mobil berayun cepat, namun jarak pandang tetap memburuk. Saat mobil Hanjin melintasi persimpangan lampu merah, sebuah truk besar dari arah kanan tiba-tiba kehilangan kendali akibat rem blong di jalanan yang licin.
Hanjin membelalakkan mata. Mencoba menginjak rem sedalam mungkin dan membanting setir ke kiri. Namun, semuanya terlambat.

Ckiiiiiieeeekkkk! Di tengah suara ban yang berdecit keras menyapu jalanan basah...

BRAKKKK!

Suara hantaman logam yang sangat keras menggema. Truk itu menghantam bagian samping mobil Hanjin dengan kekuatan penuh. Tekanan luar biasa membuat bodi mobil ringsek seketika, menjepit tubuh Hanjin di dalamnya. Kaca depan hancur berkeping-keping, beterbangan seperti kristal tajam yang menyayat kulitnya.

Kesadaran Hanjin perlahan mengabur. Rasa sakit yang hebat menjalar dari punggung dan tulang belakangnya, sebelum akhirnya segalanya menjadi gelap gulita.

Takdir berkata lain. Di rumah, telepon genggam Haerin berdering. Suara asing di ujung telepon itu mengubah segalanya.

"Apakah ini keluarga Tuan Kim Hanjin? Kami dari rumah sakit... terjadi kecelakaan."

Dunia Haerin seketika runtuh.
Berjam-jam dia menunggu di depan ruang gawat darurat dengan tangan gemetar, air mata tak berhenti mengalir. Ketika dokter akhirnya keluar, wajahnya terlihat berat.

"Kami sudah berusaha sebaik mungkin menyelamatkan nyawanya. Tapi... cedera pada tulang belakangnya cukup parah. Maaf, Nyonya Kim, kemungkinan besar dia tidak akan bisa berjalan lagi selamanya."

Kata-kata itu menghantam hati Haerin sekeras batu.
Tiga hari kemudian, Hanjin membuka matanya. Tubuhnya terasa sakit luar biasa, tapi yang paling membuatnya bingung-kakinya tidak bisa digerakkan sedikit pun. Dia mencoba menggenggam jari kakinya, tapi tidak ada respon. Hanya keheningan yang menakutkan.

"Haerin... kakiku... kenapa kakiku tidak terasa?" tanyanya dengan suara parau, matanya mulai berkaca-kaca.
Haerin memeluk tangan suaminya erat, berusaha menahan tangis agar tidak makin pecah. "Sstt... tenanglah, sayang. Kau selamat, itu yang paling penting. Kita akan melewati ini bersama-sama, ya?"

Dokter datang menjelaskan semuanya dengan detail. Karena kerusakan saraf yang serius, Hanjin harus menerima kenyataan pahit: mulai sekarang, kursi roda adalah satu-satunya cara baginya untuk bergerak.

Hari-hari berikutnya adalah neraka bagi Hanjin. Pria yang dulu penuh energi, suka berlari, berjalan berkeliling, dan selalu ingin melindungi istrinya-kini harus pasrah terkurung di kursi roda. Dia merasa dirinya hancur, tidak berguna, dan menjadi beban bagi Haerin.

Seringkali dia menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan kosong dan penuh kebencian. "Aku lemah... aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi untukmu, Haerin. Kau seharusnya tidak perlu menanggung ini semua..."
Namun Haerin selalu ada di sana, memeluknya erat, menempelkan keningnya ke bahu Hanjin. "Kau salah, Hanjin. Aku mencintaimu karena kau. Bukan karena kakimu, bukan karena apa yang bisa kau lakukan. Aku tetap mencintaimu, sama seperti dulu, bahkan lebih dari itu."

Meskipun hatinya masih perih dan masa depan terasa kelabu, Hanjin melihat satu hal yang membuatnya tetap bertahan: Haerin tidak pernah pergi. Dia tetap ada, di sisinya, mencintainya tanpa syarat, meskipun dunia mereka berdua kini telah berubah selamanya.

*tamat*

Tawanan cintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang