Kepada jemari yang bergerak lincah
Di tengah hening
Ia menari menerjemahkan isi kepala
Perihal logika yang menolak hati
Menertawakan kolom pencarian di gawai
Rasa paling jujur yang tak kuasa disuarakan
Melukis tawa getir tanpa kerut di sudut mata
Mungkinkah ia akan menyerah pada realita?
Sampai denting menyadarkan sebuah rasa
Ketakutan masih menjadi selimut penghalang
Ia ingin jujur layaknya isi kepala
Namun, kerongkongan selalu tercekat dan menolak
Ia tak mengerti perihal penolakan
Saat hati membuka pintu tapi logika terkunci ganda
Lagi, udara panas terbuang
Apakah ini hanya persembunyian dari ketakutan?
Ia tak ingin menyerah, membiarkan pintu terbuka setengah
Ia berusaha
Bumi rafflesia | 18 Juli 2026
YOU ARE READING
Aksaraku
PoetryCerpen, puisi dan sedikit kata hati. Kita susun ulang meski mungkin banyak yang tak kembali ditayangkan.
