"Hahaha" tawaku pecah ringan diudara, "kenapa?" tanya petugas perpustakaan itu yang bernama bu Raina, pakaiannya rapi dengan jas hitam, rambutnya coklat tergerai.
"ini bu ada yang salah masukin judul, masa ada Diary Anata di kolom nama yang pinjam," ucapku menjelaskan, aku masih menahan tawa karena itu juga sudah 25 tahun yang lalu tanggalnya, jauh sekali pasti sekarang anaknya sudah jadi seorang ibu.
"...Oh itu, iya itu bukan judul buku tapi itu nama seseorang yang pinjam buku ini 25 tahun yang lalu, dan itu belum dikembalikan, dan ini ibu jadi inget," jelas bu Raina tiba tiba membuatku tersentak dan mendongak padanya, "hah?" mulutku ternganga tak percaya, mataku menyelidik data yang bernama Diary Anata di lembaran meminjam buku.
Memang benar buku itu belum ditanda tangani telah dikembalikan, tapi mana mungkin belum dikembalikan ada di sini aneh.
"Terakhir dia kesini itu saat meminjam buku tersebut, lalu tak muncul lagi, pantes janggal ibu liat buku itu. Oh iya baru ingat, dia juga di keluarkan dari sekolah dia... hilang," lanjut bu Raina kembali membuat udara yang terbang disekitar kami berantakan.
"Apa bu Raina tahu lebih dalam soal dia?" tanyaku padanya, mataku terbelalak, tanganku mulai membuka buku kosong yang disediakan memang untuk orang yang ingin curhat, dan siapa tahu dia sempat menulis sesuatu.
"Cukup banyak si, karena dia juga hampir sepertimu yang dekat denganku," ucap bu Raina memandangku.
"...apa?" Tatapanku menyelidik menatap halaman tersebut, alisku berkerut dan hidungku menghirup bau kertas penuh teka teki.
Dan sejak saat itu hidupku berubah, rasanya ada yang memilihku untuk membaca halaman tersebut, bukan tulisan harian melainkan Diary Anata kisah yang tak tertulis. Apakah ada sesuatu yang terkunci?
"Eh udah pulang nit" kudengar sapaan itu saat aku sedang berada diambang pintu kamar, ternyata ia ibuku senyumnya manis rambutnya hitam beliau masih memakai jas nya, mungkin baru pulang kerja.
"Baru ma, kenapa?" Senyum ku sunggingkan kecil, kulihat netranya tertuju pada buku tua yang ada di tanganku telah menguning. Alisku mengerut pelan menyadari tangannya mengepal ringan dan tatapannya seperti melihat pintu rumah terbuka oleh orang asing.
"Kenapa ma?" Tanyaku padanya, "gapapa, mama cuma ingat siswa yang dulu kebetulan satu angkatan sama mama pernah meminjam buku itu dan dia menghilang... bahkan buku itu belum dikembalikan," jelas mama tersenyum simpul padaku, "ouh" ucapku singkat.
Meski beliau telah menjelaskan, tapi bukankah aneh bagaimana beliau bisa tahu buku ini terakhir dipinjam Diary Anata, mengapa bisa tahu buku ini belum dikembalikan, sepertinya janggal.
"Aku mau ngomong sesuatu sama mama," ucapku pelan, bibirku melipat pelan sementara mama hanya diam.
Karena tak ada sepatah katapun dan tatapannya pun fokus pada lantai aku memilih melangkahkan kaki masuk kamar.
"Eh Anita," celetuk mama sementara aku telah menutup pintu, aku sengaja tak menjawabnya. Tanganku terasa kasar oleh debu yang menempel pada buku tersebut setelah meletakkannya di meja belajar.
Angin malam berhembus meniup gorden jendela kamarku pelan, "lupa ga ditutup lagi" aku menutup jendela itu pelan sebelum menghampiri ibuku di ruang keluarga.
Langkahku pelan menyusuri anak tangga sampai kutemukan sosoknya sedang minum teh di sofa, tapi... Tangannya tak dapat berhenti bergerak seperti sedang menenangkan diri, ia terlihat menggigit bibir bawahnya, tatapannya menunduk.
"Mama lagi cemas?" Tanyaku tiba-tiba telah berdiri tak jauh darinya, "eh ngga kok" ia tersenyum simpul, "okey" ujarku singkat.
"Eum ma mau nanya," tutur ku membuka pembicaraan, "iya ada apa?" Ia menatapku lekat, "jadi soal buku itu, dulu ada anak seangkatan sama mama yang pinjam namanya Diary Anata. Apa mama tahu sesuatu soal dia?" Ku tatap matanya lekat lekat, dan netranya menghindari kontak mata denganku padahal beliau biasanya selalu menatap mata lawan bicaranya.
"Eum... Mama ga tau banyak si cuma...," Ia menggantungkan ucapannya ku tatap bola matanya yang bersembunyi dibalik kelopak mata.
"Dia tuh anak kelas 12 E cuma itu... yang lain mama ga tau" ia tersenyum simpul menatap wajahku, netranya memastikan aku paham dan tak menanyakan lebih dalam. "Oh oke," ucapku singkat.
Sepertinya tak ada pilihan jika menyelidikinya ke sekolah langsung.
Sang surya bersinar diatas sana begitu terang seolah tahu bahwa aku sedang mencari jawaban di kegelapan buku misteri itu.
"Anita," celetuk seseorang dari belakangku, "eh hai Dania" lambaian tanganku dibalas olehnya, "kok kamu kaya beda," celetuknya merangkul pundakku.
"Iya" ucapku pelan, mungkin ada baiknya jika aku mengajaknya untuk menyelidiki, hmm "apa?" Tanya nya padaku memecahkan pikiranku.
"Jadi, kemarin pas aku... Meminjam buku di perpustakaan. Ada hal janggal yang kaya seolah... Gimana ya bilangnya," jelas ku padanya sedikit, bibir bawah ku gigit pelan, otak ku putar sedemikian rupa, mata ku menyapu sekeliling.
"Kamu bisa jelasin nanti, kita masuk dulu kebetulan bentar lagi masuk kan," ucap Dania mengerti, ia tersenyum simpul.
Dania adalah sahabat ku disekolah ini, aku cukup introvert tapi ketika bertemu dengan seseorang yang sefrequensi ya bisa heboh juga.
"Nanti jangan pulang dulu ya, aku mau jelasin banyak hal, kita bahas sambil jalan menuju ruang kepala sekolah atau ruang guru," jelas ku menarik kursi.
"Okey, gue siap kayanya ini serius," jawabnya dengan matanya yang menyelidik ku, "oke bagus," ucapku mengakhiri pembahasan.
Langkah kaki terdengar koridor sekolah "...jadi gitu," ucapku pada Dania yang mencerna setiap kata yang keluar dari mulutku.
"Jadi semalam bu Raina cuma jelasin dia anak SMA sini, gak lebih karena perpustakaan tutup, hmm menarik. Nanti kita kesana buat tahu lebih dalam," ucapnya menatap lurus koridor menuju ke ruang kepala sekolah.
Tok tok tok! Ku ketuk pelan pintu ruang kepala sekolah, "masuk" terdengar suara kepala sekolah mengizinkan kami masuk, aku dan Dania melangkahkan kaki mantap.
"Ada apa Anita, Dania?" tanya pak Angga kepala sekolah di SMA kami. "Jadi gini pak, saya ingin bertanya tentang... seorang yang dikeluarkan dari sekolah ini 25 tahun lalu," ucapku membuka pembicaraan.
"Ada apa?" Tanya pak Angga kembali padaku, "jadi pak kami hanya ingin menyelidiki kembali kasus tersebut," timpal Dania membantuku menjawab.
"Hmm boleh si kalau kalian bisa, karena hilangnya dia itu se tiba tiba itu," ucap pak Angga, ia beranjak dari duduknya menuju lemari tempat data siswa yang bersekolah di SMA Laksana Jaya disimpan. Meskipun cukup jauh kami masih bisa mendengar suara pintu lemari itu keras dibuka karena jarang disentuh.
"Apa yang kamu temuin di buku yang dia pinjam nit?" bisik Dania padaku sembari menunggu pak Angga mencari data Diary Anata. "Lupa aku ngomong sama kamu" aku menghela nafas panjang.
"aku cuma nemu lembar kosong yang seharusnya ada tulisannya... Mungkin dia menghilang sebelum menulis apa yang ia ingin tulis," ucapku pelan, tatapanku tertuju pada lantai, otakku mengepel lantai itu mencari serpihan jawaban yang tersebar.
"Kenapa kamu bisa bilang gitu?" tanya Dania padaku, "karena disana tertulis 'misi penyelamatan' mungkin dia berniat menulis catatan itu setelah dia selesai misi. Ada lagi itu..." Ucapanku terpotong oleh pak Angga membuat kami tersentak.
"ini datanya, jangan disalah gunakan benar ya," ucap beliau menasehati kami sembari memberikan map merah, "tidak pak, terimakasih," ucapku menerima map tersebut, map itu tak berdebu seolah masalalu pun belum terkubur dan memang akan ku gali.
"kalau ada titik terang kami kabari pak," imbuh Dania seraya kami meninggalkan ruang kepala sekolah.
"Mau ke rumahnya atau gimana," tanya Dania padaku seraya aku membaca data sambil berjalan, "ke perpus aja ga si, ketemu bu Rania nanyain yang dia tahu" ucapku menutup map disertai anggukannya, map itu ku bawa berat entah mengapa seperti kami akan bertemu dengan Diary Anata sendiri.
❀------------------BERSAMBUNG-------------------❀
Kira kira bu Raina cerita apa saja ya🤔
Penasaran ga si guys
Jangan lupa vote & komen pendapat kalian juga tunggu bab selanjutnya
See u next time🤩🙌🏻
YOU ARE READING
Diary Anata: The Untold Story
ActionKobaran api melahap gedung tua itu ditengah kegelapan malam. Panasnya api bagaikan hati yang digelapkan benci. "Aku akan kembali..." Gumam seseorang yang terlihat rapuh, matanya menyelidik disela-sela kehidupannya yang terancam. Tangannya meraih jen...
