Lantai marmer tempat Valez berlutut terasa sedingin es. Namun, rasa dingin itu kalah telak oleh rasa takut yang menyergap dadanya.
Napasnya tersendat.Valez mencoba bergerak, tetapi kedua tangannya terikat erat ke belakang kursi kayu di tengah ruangan mewah itu. Tali yang melilit pergelangan tangannya terasa kasar, bergesekan ngilu setiap kali dia mencoba mencari kelonggaran.
Lehernya tercekat, seolah ada tangan tak kasat mata yang meremas tenggorokanny.
Valez ingin berteriak memanggil Aluna, nama sahabat kecilnya, namun tenggorokannya mendadak kering dan perih. Seluruh suaranya telah dirampas secara paksa oleh keheningan mutlak yang mengubur ruangan ini.
Valez sama sekali tidak tahu di mana dia berada saat ini. Ruangan ini terlalu megah untuk disebut penjara bawah tanah biasa, namun arsitekturnya memancarkan keagungan kuno yang terasa asing.
Ada hal ganjil yang sejak tadi mengusik kesadarannya, udara yang dia hirup terasa jauh lebih dingin, berat, dan sangat pekat.
Setiap kali oksigen itu masuk ke dalam paru-parunya, dadanya terasa sesak dan kebas. Sebuah sensasi asing yang tidak pernah dia rasakan semasa hidupnya.
Tempat ini terasa terisolasi dari peradaban luar, menyisakan aura mencekam yang perlahan merayap menguliti kewarasannya.
"Dia sudah bangun."
Sebuah suara berat, dalam, dan tanpa emosi memecah keheningan. Suara bariton itu bergema rendah, berdesir di sepanjang dinding marmer dan seketika mengirimkan gelombang kejut yang membekukan darah Valez.
Dari balik bayang-bayang pilar kamar yang remang-remang, seorang pria melangkah maju. Setelan jas hitamnya tampak sangat rapi tanpa noda sedikit pun.
Wajahnya luar biasa tampan dengan pahatan rahang yang begitu tegas, namun sepasang matanya yang hitam pekat menatap Valez tanpa binar kehidupan.
Pria itu memandang Valez seolah gadis itu hanyalah seekor kelinci kecil yang siap dia injak kapan saja hingga hancur.
Ia adalah The Shadow kembar pertama, Avier. Pria dingin yang mengunci kebebasan Valez.
Kehadirannya begitu menindas, memancarkan dominasi gelap yang membuat atmosfer ruangan terasa menyusut.
Dari pergelangan tangan Avier, menjalar seutas serat energi transparan yang tipis yaitu Vesperthread yang membawa daya potong mematikan. Vesperthread milik sang sulung ini membawa hawa sedingin kutub yang sanggup membekukan saraf dalam sekali kedip.
Begitu serat tipis itu keluar dan menyentuh kulit manusia tanpa pelindung, kulit tersebut akan langsung teriris berdarah.
Melihat sosok intimidatif di depannya, kepanikan Valez pecah menjadi amarah murni. Dia menolak untuk menyerah begitu saja. Valez mengumpulkan seluruh tenaganya yang tersisa dan mulai memberontak secara liar di atas kursi.
"Lepaskan aku, gila! Keluarkan aku dari tempat sialan ini! Bajingan, lepas!" teriak Valez histeris.
Dia menyentak badannya ke depan dan ke belakang dengan brutal. Kakinya menendang-nendang lantai marmer, mencoba mencari tumpuan untuk menggulingkan kursi kayu tersebut. Kulit pergelangan tangannya mulai terkelupas dan berdarah akibat gesekan tali yang kasar, namun Valez mengabaikan rasa sakit itu. Dia terus memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan, mencakar pinggiran kursi dengan jemarinya, berusaha keras memutuskan ikatan atau setidaknya menghancurkan kursi yang mengekangnya.
Namun, pemberontakannya kalah telak dalam hitungan detik. Avier maju selangkah dengan gerakan yang begitu tenang. Hanya dengan satu tekanan tangan kekarnya di atas bahu Valez, pria itu mengunci seluruh pergerakan Valez, meremukkan sisa tenaganya hingga gadis itu tidak bisa berkutik sedikit pun.
YOU ARE READING
BOUND BY THREE CHAINS
Romance⚠️ Dark Romance | Mafia | Psychopath Triplets | Captivity | Obsession | 21+ | Fantasy | Di mata dunia, keluarga Vanderburgh adalah puncak kekuasaan. Kaya, berwibawa, dan tak tersentuh. Tidak ada yang tahu rahasia mereka, mereka bukan berasal dari...
