25- Jejak yang Disembunyikan

11 5 1
                                        

Suasana studio mendadak hening setelah petikan gitar terakhir Hanan berhenti. Yang tersisa hanya suara napas Haneena yang masih tersengal dan isak tangisnya yang perlahan mulai reda.

Hanan melonggarkan pelukannya sedikit, lalu menangkup kedua pipi adiknya. Wajah Haneena tampak sangat kuyu, matanya sembap keunguan, dan gurat kelelahan yang luar biasa tercetak jelas di sana. Menangis seperti tadi benar-benar menguras habis sisa energi di tubuh ringkihnya.

Sebenarnya, ada ribuan pertanyaan yang mendesak di ujung lidah Hanan. Pikiran cowok itu bising. Namun, melihat binar mata Haneena yang begitu redup dan rapuh, hati Hanan melunak. Sebagai kembaran, ia tidak tega untuk menginterogasi adiknya sekarang. Haneena terlihat terlalu lelah, seolah satu pertanyaan saja bisa membuat tubuhnya hancur berkeping-keping.

"Udah lebih tenang?" tanya Hanan, suaranya melembut, sengaja menyimpan rapat semua kecurigaannya untuk nanti.

Haneena mengangguk lemah sembari menyeka sisa air mata di pipinya. "Maaf, Han... baju lo jadi basah."

Hanan melirik ke bajunya yang memang menyisakan noda basah yang cukup besar di bagian bahu. "Nggak apa-apa. Lo mau istirahat?"

Haneena menggeleng pelan, matanya melirik ke arah pintu studio. "Gue harus minta maaf ke Gavin sama Alta. Konten hari ini berantakan gara-gara gue."

Hanan menghela napas pendek, lalu mengacak rambut adiknya pelan. "Ya udah, yuk. Gue temenin."

Sementara itu, di pekarangan depan rumah, Gavin sedang duduk di atas rumput sintetis yang dinaungi pohon mangga yang rindang. Dari posisi itu, pintu studio mini di dekat garasi terlihat jelas karena mobil Alzam sedang tidak ada di tempat. Gavin memutar-mutar stik drumnya dengan gelisah. Di dekatnya, Alta berdiri bersandar pada pohon mangga itu dengan kedua tangan terlipat di dada. Matanya menatap kosong ke arah pintu studio, namun jemarinya bergerak-gerak kecil mengetuk lengannya sendiri-kebiasaan Alta kalau pikirannya sedang berkecamuk.

"Gue nggak nyangka Haneena mendalami lagu sampai kayak gitu," ucap Gavin agak pelan, menghentikan putaran stiknya. "Suaranya pas bait terakhir tadi... jujur, dapet banget emosinya."

Alta tidak langsung menyahut. Ia hanya menatap pintu studio beberapa saat sebelum berkata pelan, "Nanti jangan banyak nanya ya. Takutnya Haneena nggak nyaman," suaranya terdengar datar.

Klek

Suara pintu studio terbuka membuat kedua cowok itu kompak menegakkan posisi duduk mereka. Hanan keluar lebih dulu, berjalan berdampingan dengan Haneena yang kepalanya sedikit tertunduk.
Suasana mendadak terasa canggung.

Haneena memberanikan diri mendongak, menatap Gavin dan Alta bergantian dengan tatapan bersalah.
"Gavin, Alta... gue minta maaf banget ya," ucap Haneena, suaranya masih agak serak. "Sesi take hari ini mungkin gue nggak maksimal. Gue... terlalu emosional."

Gavin menggaruk tengkuknya. Ia tampak bingung harus berkata apa melihat mata sembap Haneena. Beberapa detik kemudian, baru cowok itu tertawa kecil, berusaha mencairkan atmosfer. "Eh, santai aja kali, Neen! Gak ada yang perlu dipermasalahin kok. Malahan hasil take terakhir lo tadi dapet banget magisnya. Gue malah mikir, apa lo nangis terharu gara-gara ketukan drum gue terlalu keren ya?"
Celetukan asal Gavin sukses membuat sudut bibir Haneena terangkat.

Hanan yang berdiri di samping adiknya langsung mendengkus geli. "Pede lo overdosis, Vin."

Alta yang sejak tadi diam akhirnya melangkah selangkah lebih dekat. Matanya menatap lekat wajah pucat Haneena.

"Iya bagus kok, Neen," ucap Alta pelan, nadanya tulus. Jeda sejenak, ia menambahkan, "Yang terakhir malah paling dapet. Sekarang mending lo istirahat di dalam."
Haneena menoleh ke arah Alta, sedikit terkejut karena cowok yang biasanya irit bicara itu bersikap sangat suportif. Bahunya yang sejak tadi menegang perlahan mulai mengendur. "Syukurlah kalau gitu. Makasih ya, Alta, Gavin. Kalau gitu gue masuk duluan."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 4 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

The Fading Melody Stories to obsess over. Discover now