Tahun 2020 menjadi lembaran baru bagi Putri Naira Handayani. Hari itu, ia resmi menginjakkan kaki di SMA Multitalenta Bangsa sebagai siswi baru. Wajahnya yang cantik dan pembawaannya yang tenang membuat banyak orang mudah mengenalinya, meski gadis itu sendiri tak pernah berusaha menjadi pusat perhatian.
Putri dikenal sebagai siswi berprestasi yang memiliki banyak talenta. Namun, di balik semua pencapaiannya, ia adalah sosok yang pendiam dan lebih nyaman menikmati kesendiriannya. Ia tidak memiliki banyak teman, bukan karena sombong, melainkan karena sulit membuka diri kepada orang lain.
Sejak awal masa orientasi, Putri memilih bergabung dengan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR). Baginya, membantu orang lain adalah kebahagiaan yang sederhana. Hampir setiap jadwal piket, ia selalu berada di ruang UKS, merawat murid yang terluka, menemani mereka yang sedang sakit, atau sekadar memberikan pertolongan pertama dengan senyum hangat yang menenangkan.
Beberapa minggu setelah tahun ajaran baru dimulai, seluruh siswa SMA Multitalenta Bangsa berkumpul di lapangan untuk mengikuti upacara bendera hari Senin. Pagi itu, udara masih terasa sejuk ketika Putri menerima tugas dari salah satu senior PMR.
"Putri, kamu jaga di belakang barisan, ya. Pastikan enggak ada siswa yang sakit atau pingsan," ujar seniornya.
Putri mengangguk patuh. Ia berdiri di belakang barisan sambil mengamati para peserta upacara. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah-wajah yang mulai terlihat kelelahan di bawah terik matahari.
Saat pembacaan teks Pancasila berlangsung, seorang siswi di barisan belakang tiba-tiba mengangkat tangan pelan.
"Maaf... saya pusing," ucapnya lirih.
Putri segera menghampiri. Name tag di seragam siswi itu bertuliskan Novi Andara Pangestu.
"Ayo, aku antar ke UKS."
Tanpa membuang waktu, Putri membantu Novi berjalan menuju ruang UKS. Setelah mempersilahkannya berbaring di ranjang pasien, Putri mengambil minyak aromaterapi lalu mengoleskannya perlahan di pelipis Novi. Tak lama kemudian, ia menyeduhkan segelas teh tawar hangat agar kondisi siswi itu berangsur membaik.
Belum sempat Putri kembali ke meja administrasi, pintu UKS terbuka. Senior PMR-nya, Angga Ferdinan, masuk sambil menopang seorang siswa laki-laki yang wajahnya tampak pucat pasi.
"Putri, tolong siapkan teh hangat sama minyak aromaterapi juga, ya," pinta Angga.
Putri mengangguk cepat. Tatapannya tanpa sadar tertuju pada name tag yang terpasang rapi di dada siswa itu.
Aldi Pramudya.
Dengan hati-hati, Putri menyodorkan segelas teh hangat dan minyak aromaterapi. Setelah memastikan Aldi dan Novi mulai merasa lebih baik, ia mengambil buku absensi UKS.
"Kalau sudah agak enakan, boleh minta nama lengkap sama tanda tangannya? Ini buat data siswa yang izin ke UKS saat upacara," ucap Putri dengan sopan.
Novi dan Aldi mengangguk, lalu bergantian mengisi buku tersebut.
Meski berusaha tetap profesional, Putri tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya ketika melihat Aldi. Wajahnya masih pucat dan tubuhnya tampak begitu lemas.
"Gimana sekarang? Masih sakit?" tanya Putri pelan. "Kalau memang enggak kuat, nanti aku bisa minta izin ke guru supaya kamu pulang."
Aldi menggeleng pelan, disertai senyum tipis yang terlihat dipaksakan.
"Enggak apa-apa. Aku masih kuat sampai jam pulang."
Jawaban itu tidak sepenuhnya meyakinkan Putri. Namun, ia memilih menghormati keputusan Aldi sambil berharap kondisinya benar-benar membaik.
Setelah upacara selesai, Angga mengantar Aldi kembali ke kelasnya, X IPS 2. Sementara itu, Putri mengantar Novi menuju kelas X MIPA 3. Kebetulan, kelas Putri di X MIPA 1 hanya berjarak beberapa pintu dari kelas Novi.
Sesampainya di depan kelas, Putri tersenyum hangat.
"Kalau nanti masih merasa enggak enak badan, datang lagi aja ke UKS, ya."
Novi mengangguk sambil membalas senyum itu.
"Iya. Makasih banyak, Putri."
"Sama-sama."
Setelah memastikan Novi masuk ke kelasnya dengan baik, Putri melangkahkan kaki menuju kelas X MIPA 1. Ia tak menyadari bahwa pertemuan singkat dengan seorang siswa bernama Aldi Pramudya di ruang UKS pagi itu perlahan akan menjadi awal dari kisah yang mengubah hidup mereka berdua.
VOCÊ ESTÁ LENDO
Kisah Kasih di Sekolah
Não FicçãoKisah Putri Naira Handayani, seorang gadis pendiam yang tak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Aldi Pramudya akan mengubah masa-masa SMA yang awalnya biasa saja menjadi penuh warna. Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh tanpa disadari, kes...
