Rasa sakit sudah menjadi teman lama bagi Kael.
Peluru yang menembus bahu kirinya semalam bahkan tak mampu membuatnya berkedip. Namun tubuh yang kini ia tempati bereaksi berbeda. Setiap tarikan napas terasa menyiksa, sementara keringat dingin membasahi seprai kasar di bawah tubuhnya.
Perlahan, Kael membuka mata.
Langit-langit putih yang mulai kusam menyambut pandangannya. Bau karbol menusuk hidung, bercampur samar dengan aroma darah yang belum benar-benar hilang.
Ini bukan ruang bawah tanah pengap yang dipenuhi bau mesiu dan tanah lembap, tempat ia dieksekusi beberapa jam sebelumnya.
Ia menggerakkan jemarinya. Terlalu halus. Tak ada kapalan tebal yang biasanya menghiasi tangan seseorang yang terbiasa menggenggam pisau atau menarik pelatuk. Lengan ini juga jauh lebih kurus daripada tubuh yang selama ini ia kenal.
Belum sempat ia mencerna semuanya, pintu kamar terbuka kasar hingga menghantam dinding.
Brak.
Tiga pemuda masuk tanpa ragu.
Yang berada paling depan memiliki rahang yang mengeras dan sorot mata penuh amarah—Orion. Di belakangnya berdiri dua remaja berwajah nyaris identik dengan tangan terlipat di dada. Tatapan Sirius dan Regulus dipenuhi kebencian yang bahkan tak mereka coba sembunyikan.
Seketika, gelombang ingatan asing menyerbu kepala Kael.
Nama keluarga Valerius.
Tubuh yang kini ia tempati adalah milik Altair, anak sulung keluarga itu. Seorang pengecut yang tega menjadikan ketiga adiknya sebagai umpan hidup saat penyergapan semalam demi menyelamatkan diri. Ironisnya, usahanya tetap gagal. Ia ikut tertembak ketika melarikan diri.
Kael membiarkan seluruh ingatan itu menetap di benaknya. Wajahnya tetap datar, tanpa perubahan sedikit pun.
"Masih bisa napas juga lo ternyata."
Suara Orion terdengar penuh kebencian. Ia melangkah hingga berdiri tepat di sisi ranjang, tangannya mencengkeram pagar besi dengan begitu kuat sampai buku-buku jarinya memucat.
"Gue berharap peluru itu nembus kepala lo, bukan cuma bahu sialan lo."
Biasanya, Altair akan gemetar ketakutan. Ia akan menarik selimut menutupi wajah, menangis, lalu memohon agar Orion tidak memukulnya. Setelah itu, ia akan mencari kambing hitam—menyalahkan anak buah ayah mereka, keadaan, bahkan nasib.
Apa saja, asalkan bukan dirinya sendiri.
Namun kali ini berbeda.
Kael hanya memiringkan kepala sedikit hingga terdengar bunyi pelan dari lehernya.
Tatapan matanya bertemu dengan Orion.
Tak ada rasa takut.
Tak ada kegelisahan.
Yang terlihat hanyalah ketenangan dingin, gelap, dan kosong, seperti dasar sumur yang tak pernah lagi diterangi cahaya.
Orion terdiam.
Makian yang sudah berada di ujung lidahnya mendadak lenyap. Dahinya berkerut tanpa sadar. Nalurinya seolah memperingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
"Kenapa diem?" Sirius menyela dengan nada mengejek. Meski begitu, keraguan samar tetap terdengar di balik suaranya. "Lagi nyusun alasan baru buat ngebela diri?"
Kael sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
Perhatiannya masih tertuju pada Orion.
Dengan gerakan tenang, ia mengangkat tangan kanannya, menyingkirkan selimut, lalu memaksa tubuhnya duduk.
Rasa nyeri langsung menghantam bahu kirinya.
Tubuh ini seakan memohon untuk kembali berbaring. Namun bagi Kael, rasa sakit hanyalah sesuatu yang sudah terlalu akrab. Wajahnya tetap tenang tanpa sedikit pun menunjukkan penderitaan.
Ia bersandar di kepala ranjang dan mengatur napas hingga kembali stabil.
Keheningan memenuhi ruangan.
Ketiga adiknya saling berpandangan.
Ada sesuatu yang berbeda.
Cara Altair duduk kini tidak lagi membungkuk seperti orang yang selalu ingin menghilang dari hadapan dunia. Punggungnya tegak, bahunya mantap, dan seluruh sikapnya memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Akhirnya Kael berbicara.
Suara yang keluar dari mulut Altair terdengar rendah dan serak, nyaris seperti bisikan.
"Jaket gue."
Orion berkedip bingung.
"...Apa?"
"Di saku bagian dalam jaket gue ada kunci mobil."
Nada bicara Kael tetap datar.
"Ambil. Kita pulang."
Regulus langsung mendecak kesal dan maju selangkah.
"Lo udah gila? Lo baru aja hampir mati ditembak semalam. Dokter bilang lo harus—"
"Gue bilang..."
Kael memotong ucapannya.
Suaranya tidak meninggi.
Ia bahkan tidak membentak.
Namun entah mengapa, suasana ruangan terasa berubah. Udara mendadak terasa lebih berat.
Kael menyapu ketiga adiknya dengan tatapan tenang.
"Kita pulang."
Ia menurunkan kedua kakinya hingga telapak kakinya menyentuh lantai rumah sakit yang dingin.
"Kecuali kalian memang mau tetap di sini dan nunggu orang-orang yang nembak gue semalam datang lagi buat nyelesaiin pekerjaan mereka."
Tak ada yang langsung menjawab.
Ruangan kembali sunyi. Hanya bunyi detik jam di dinding yang terdengar jelas.
Orion, Sirius, dan Regulus saling berpandangan.
Tak seorang pun membantah.
Bahkan Orion, yang biasanya paling membenci keberadaan Altair, tanpa sadar melangkah mundur. Tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya, merogoh saku celana dan mengeluarkan kunci mobil.
Baru setelah benda itu berada di genggamannya, ia menyadari apa yang baru saja dilakukannya.
Di balik wajah pucat yang dipenuhi lebam, sosok yang kini menatap mereka bukan lagi Altair yang mereka kenal.
Sesuatu yang jauh lebih berbahaya telah bangkit.
Dan kali ini, ia mengenakan wajah anak sulung keluarga Valerius.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not The Same Brother
Action"Gue nggak butuh rasa hormat kalian. Gue cuma butuh kalian tetap hidup." Altair Valerius adalah aib keluarga. Sebagai putra sulung dari keluarga mafia Valerius, dia penakut, cengeng, dan rela bersujud memohon ampun demi nyawanya. Tidak heran ketig...
