𝓗𝓪𝓹𝓹𝔂 𝓡𝓮𝓪𝓭𝓲𝓷𝓰
.
.
.
Tangan Sheilla bergerak meraba-raba permukaan meja kayu di samping tempat tidurnya. Seingatnya, semalam ia menaruh ponselnya di sana. Namun, beberapa kali ia mencoba meraih, hasilnya tetap nihil, tangannya seperti hanya menangkap angin. Ia berdecak kesal. Rasa kantuk masih menggelayuti kelopak matanya yang terasa berat.
Sheilla memaksa dirinya untuk duduk. Matanya yang setengah terpejam mencoba memindai seluruh permukaan meja. Kosong. Ponsel miliknya sama sekali tidak ada di sana.
"Mana sih?" racaunya pelan, tangannya naik mengusap matanya yang masih mengantuk.
Dengan malas, ia langsung bangkit berdiri dan menyibak selimut tebal di atas kasur. Benar saja, benda persegi panjang itu tersembunyi di balik gulungan kain. Begitu jemarinya menyalakan layar ponsel, kedua bola mata Sheilla mendadak membulat sempurna. Seluruh rasa kantuknya menguap begitu saja.
Disana jelas menampilkan angka 06.20.
"Mampus, kesiangan!"
Sheilla langsung menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi. Gerakannya secepat kilat. Selesai merapikan seragam yang ia kenakan dan memastikan penampilannya tidak berantakan, ia langsung bergegas turun ke lantai bawah.
Di teras rumah, Amira-Mama Sheilla, sedang fokus menyiram tanaman hiasnya yang hijau segar dengan selang air. Wajahnya terlihat tenang, jauh berbeda dengan Sheilla. Dengan gerakan cepat dan raut wajah panik, ia meraih sepatu hitamnya di rak dekat pintu, lalu memakainya dengan asal-asalan.
Mendengar derap langkah yang terburu-buru, Amira mematikan tuas selang air dan menoleh, menatap putrinya yang tampak kelabakan.
"Shei, kamu udah sarapan belum? Itu Mama udah siapin nasi goreng di meja," tanya Amira sembari mengusap pelipisnya yang sedikit berkeringat.
"Nanti aja di kantin, Ma. Sheilla kesiangan soalnya," sahut Sheilla tanpa mendongak, jemarinya sibuk mengikat tali sepatu dengan cepat.
Setelah selesai dengan kedua sepatunya, Sheilla langsung mendekat, menghampiri Amira. Ia meraih tangan sang Mama, menciumnya dengan takzim sebagai tanda pamit.
"Sheilla berangkat dulu ya, Ma. Dadah!"
"Iya, hati-hati, Shei! Jangan lari-lari nanti jatuh!" seru Amira menatap punggung putrinya yang sudah melesat keluar pagar menuju halte bus.
Beruntung bagi Sheilla, bus kota datang tepat waktu saat ia baru saja menginjakkan kaki di halte. Begitu melangkah masuk ke dalam bus, pandangan Sheilla terjatuh pada sepasang kekasih yang duduk di bangku tengah. Rambut mereka sudah memutih, kerutan usia tercetak jelas di wajah keduanya, menandakan umur mereka yang sudah terbilang cukup tua. Namun, tangan mereka saling bertautan erat.
Dan di sanalah kemampuan unik Sheilla bekerja. Di leher kedua lansia tersebut, guratan abstrak menyerupai kunci emas terlihat menyala bersamaan, memancarkan pendaran cahaya yang hangat dan teduh. Sheilla tersenyum manis menatap interaksi penuh kasih sayang di depan matanya. Selama ini, ia selalu senang melihat pendaran takdir itu menyala pada orang-orang yang tepat.
Bus berhenti di depan gerbang sekolah. Sheilla turun dan melirik jam tangan. Beruntung, ia sampai di sekolah dengan waktu yang cukup, meskipun sekitar lima menit lagi bel masuk akan berbunyi. Sheilla berjalan menyusuri koridor dengan langkah cepat, setengah berlari, hingga akhirnya ia berhasil sampai di ambang pintu kelasnya.
Sheilla melangkah masuk, saat itulah suara sahabatnya langsung menyambut dengan hangat, Asha Keyvara.
Asha menatap Sheilla dengan heran dari bangku mereka. "Loh, tumben baru dateng, Shei? Biasanya dari tadi lo udah nongki di sini,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Golden Key Destiny
FanfictionAda sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kelebihan bisa saja menjadi kutukan, dan kekurangan justru bisa menjadi kelebihan. Bagi Sheilla Veronica, kemampuan yang dimilikinya berada di antara kedua hal tersebut. Sejak kecil, Sheilla bisa melihat tand...
